Pernikahan tanpa Bahagia
Dan di antara gemericik itu, entah kenapa, ia mendengar sesuatu — seperti suara tawa samar, seperti bisikan Rani: “Kau masih di sini, ya, Dim?”
Ia menutup mata. “Selalu, Ran.”
---
Minggu berikutnya, Dimas mulai menulis lagi.
Bukan novel, bukan puisi — hanya catatan harian yang pendek, sederhana, tapi jujur. Ia menulis tentang cuaca, tentang teh yang terlalu manis, tentang mimpi-mimpi yang mulai kabur di ujung ingatan.
Namun di antara tulisan-tulisan itu, selalu ada satu kalimat yang sama:
Bab Populer