Tukang Pijat Tampan
Yang duduk di sebelah kursi kosong itu adalah Harmono.
Usianya, jika seseorang nekat menghitungnya dengan jujur, sudah menyentuh tiga ratus tahun. Tapi yang terlihat adalah lelaki di awal lima puluhan, wajahnya tenang dengan garis-garis usia yang justru membuatnya tampak berwibawa, rambutnya separuh abu-abu dan selalu rapi, matanya hitam dan dalam dengan cara yang membuat orang yang tidak terbiasa akan merasa sedikit tidak nyaman tanpa tahu mengapa. Ia yang memimpin ritual. Ia yang memberi keputusan akhir. Dalam praktiknya, ia adalah pemimpin; meski secara formal kursi itu bukan miliknya.
Malam ini Harmono belum bicara. Ia duduk