Belenggu Asmara Tukang Kebun
“Kemudian orang-orang berebut untuk berfoto bersamaku.”
Yusuf yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau Aa punya keinginan seperti kamu, Aa pasti memilih menjadi kabut.”
“Kenapa?”
“Biar Aa bisa dicumbui kamu persis saat kamu menyesap aroma kabut sampai matamu merem melek. Biar Aa bisa menyusup ke rongga paru-parumu, mendekam dalam jantungmu, atau dalam kepalamu, biar Aa bisa mengetahui semua mimpi-mimpimu…”