Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Ada kekuatan aneh yang muncul saat semua kebohongan disingkirkan.
"Dulu aku menerima apa saja darimu karena aku merasa tidak punya pilihan bebas," kataku, suaraku merendah namun tajam. "Kamu memaki, aku diam. Kamu memerintah, aku lari. Aku membiarkan diriku diinjak karena aku setuju dengan harganya."
"Sekarang?" tuntut Arjuna.
"Sekarang aku tahu aku tidak punya harga, Juna," balasku telak. "Aku punya nilai. Dan nilai itu tidak bisa dibayar dengan saham Diwangsa mana pun."