Putra Putri Bunga
Sialnya, pagi itu si pelayan sedang mendapat tugas untuk mengantarkan sesuatu kepada pemilik mansion, Kepala Keluarga Gunada.
“Tuan,” seorang pelayan membungkuk dengan tangan kanan menyentuh dada dan kepala menunduk, memberi hormat pada pria tertua dengan status tertinggi di rumah itu. Ketika pria tua itu menoleh, dia melanjutkan, “seorang utusan Erlangga datang mengantarkan undangan.” Pelayan itu lalu menyodorkan amplop biru muda dengan stampel lilin bermotif bunga mawar sebagai perekatnya. Pria tua dengan rambut panjang yang sudah memutih itu menoleh dan menerimanya, si pelayan pun kembali memberi hormat dan pergi. Tangan putih pucatnya yang penuh dengan keriput kini perlahan mengangkat si
Hot Chapters