Tamparan Sang Kakak
Setelah dipukuli hingga memuntahkan darah, aku menggunakan sisa tenaga terakhirku untuk merangkak dan meraih ponselku di lantai.
“Hentikan… aku… aku bayar.”
Hana tampak puas dengan kepatuhanku, memberi isyarat pada kedua petugas keamanan untuk berhenti, lalu berjongkok dan menepuk pipiku yang sudah membengkak.
“Kok nggak dari tadi saja? Kenapa harus tunggu disiksa dulu?”
“Dua miliar, seperak pun nggak boleh kurang.”
Aku terbaring di lantai yang dingin, terengah-engah, paru-paruku terasa sakit dan terbakar.
인기 회차