Pusaka Warisan Semut Rangrang
Cairan keruh itu terasa membakar, memberikan sensasi panas yang menjalar cepat di sepanjang tenggorokannya.
Karena kelelahan yang luar biasa, Madun akhirnya terkapar di bawah pohon beringin tua yang rimbun di pojok pasar. Tanpa ia sadari, sisa jamu yang tadi ia minum menetes perlahan ke arah celananya yang sudah lusuh. Tak lama kemudian, kesunyian siang itu pecah saat Madun terbangun sambil menjerit histeris. "Arghhh! Panas!! Aduh, semut sialan!" Ternyata, segerombolan semut rangrang merah yang ganas sedang berpesta pora, menggigit pangkal pahanya yang terbuka dan lembap karena tetesan jamu tadi. Tanpa pikir panjang Madun langsung menceburkan diri ke dalam empang.
Bab Populer