여기 aku berjalan와 관련된 100개의 소설이 있습니다. 일반적으로 aku berjalan와 같은 이야기는 Young Adult, Fantasi 및 Thriller 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Pacarku Ganteng, tapi Konyol부터 시작해보세요!
kata Bayu excited dan teman-teman lainnya hanya diam tidak menanggapi pria kemayu itu.
Semuanya bubar jalan dan mengambil tempat masing-masing sesuai hasil hompimpa mereka sendiri. Gior sendiri sudah siap dengan baju basketnya dan berjalan menuju lapangan.
*****
"Seger banget, ya Allah," bisik Andara dan Kianna menoleh.
"Apanya yang seger?" tanya Kianna bingung.
Khai berjalan mendekat.
Khai melangkah dengan ritme yang tidak seperti biasanya. Jika biasanya setiap langkahnya adalah representasi dari kepastian dan logika. Kali ini gerakannya terasa impulsif, mungkin sedikit kacau. Ia berjalan membelah kerumunan mahasiswa tanpa tujuan yang terstruktur rapi di kepalanya.
“Apakah dari tadi kau berjalan kaki?”
“hahahaha... Kau mau bercanda? Haruskah aku merayap seperti cicak? Atau melata seperti ular?” ucapan Kinara terhenti. Ia memikirkan perkataannya sendiri. Jika hewan-hewan itu berjalan sesuai kodratnya, maka...
“Terbanglah!” ucap Kappa membuyarkan lamunan Kinara.
“Tapi aku,” keraguan terpancar dari raut muka Kinara.
Tanyaku
"Masih sekitar 10 menit lagi kita berjalan." Jawab kak Roby yang berjalan di depanku. Sepertinya perjalanan ini tidak terlalu mempengaruhi staminanya sedang nafasku lumayan mulai berat. Kak Roby memimpin jalan di depan, lalu ada aku kemudian Reno lalu kak Dino, kak Yona lalu yang terakhir kak Hadi. Untungnya wajah mereka lumayan cakep. Jadi, aku tidak terlalu marah dengan rencana mereka.
kata Jazlan.
Riki pun menyadari hal itu. Ia pun mulai memaksakan diri, mempercepat kaki, menahan sakit.
KRU.. KRU..KRU..
Kicauan burung juga menemani sepanjang mereka berjalan. Semakin lama, datarannya semakin tidak terlihat dasarnya. Mereka pun sampai di area yang sangat luas yang dipenuhi rumput setinggi betis orang dewasa.
Masih kacau, masih berlapis, namun kini ia menemukan satu garis tipis yang bisa diikuti.
“Aku bisa,” katanya lirih. “Sulit… tapi aku bisa.”
Jay menatapnya sesaat, lalu mengangguk. “Kita bergerak sekarang.”
Mereka terus bergerak tanpa henti. Langkah demi langkah membawa mereka keluar dari tempat itu, menembus keramaian malam yang masih hidup meski hari telah larut.
Halo kakak pembaca semua yg baik hati dn masih setia dgn cerita ini.terimakasih banyak dn terimakasih krn terus mendukung cerita sy. sejauh ini sy Gk kehabisan ide dn ceritanya sesuai alur. terimakasih sy pd kakak semua yg msh berdiri disamping sy utk kawal cerita ini smpe akhir, sabar ya utk alurny
Agis Sat
aku dukung lagi kak..aku harap novel ini bisa masuk top 20,top 10 bahkan top 3.menurutku dirian&selene saling mencintai,mungkin dirian masih berpikir dia mencintai viviene tp menurutku dia mencintai istrinya tp belum menyadari perasaan sendiri.buat hubungan mereka semakin kuat dg konflik.sukses kak.
Di antara pepohonan—
sosok-sosok itu mulai bergerak.
Tidak lagi diam.
Tidak lagi hanya penanda.
Mereka berjalan.
Serentak.
Namun tidak terburu-buru.
Seperti yakin—
mereka tidak akan lolos.
Embun hampir berteriak.
“Aku nggak mau—!”
Bagas menariknya.
“Fokus!”
Mereka terus berlari.
Namun—
tanah di depan tiba-tiba retak.
Akar-akar muncul.
Drap.
Deren berlari menuju ke arah Terisya, dia berhenti di samping Terisya dengan nafas yabg naik turun seperti orang yang sedang di kejar setan. Terisya menatap Deren bingung, ada apa hingga cowok itu buru-buru.
"Deren ada apa?" Tanya Terisya dengan suara halus namun terdengar khawatir.
"Maaf telat" ucap Deren yang masih mengatur nafasnya.
“Apa pun yang menunggu, kita hadapi bersama.”
Kael menepuk lengan Bara dengan pelan. “Bagus. Jangan berjalan sendirian lagi.”
Gerry berdiri gemetar sambil mengangkat tangan. “Aduh… berjalan bersama juga menakutkan… tapi ya sudah. Aku ikut saja…”
Mereka melanjutkan langkah, dan untuk pertama kalinya sejak awal perjalanan.
Lorong di depan tampak memantulkan cahaya putih samar.
“Kai, apa yang harus kita lakukan?”
Kai menggeleng pelan lalu melangkah mengikuti arah Pria Bertato Enggang. Dara menoleh ke arah Luka yang juga sedang menatapnya, ia mengangkat bahu lalu mengejar langkah kaki Kai, Dara mengikuti di belakangnya.
Dalam diam empat orang berjalan perlahan menyusuri rimba melewati pondok-pondok sederhana anggota suku yang tetap menjalankan kegiatan mereka, seolah tidak peduli dengan empat orang yang lewat.