Istri Gila Pak Dokter
Ia benar-benar pergi, menyerahkan Eira kepada tangan ayahnya yang dingin dan penuh amarah.
Keheningan yang tertinggal begitu mencekik. Tangisan Eira menggema di dalam ruangan, teredam oleh dinding, namun tidak ada lagi pelukan hangat untuk meredam sakitnya.
'Semenjak hari itu, aku tidak mau mengingat lagi apa yang terjadi padaku. Intinya yang aku ingat, rutinitas harianku hanya makan, sakit perut, memaksa untuk tidur, lalu berulang lagi dari awal. Aku tidak mau mengingat detailnya, mungkin sebagian besar detailnya memang terlupakan olehku. Kalau tidak salah, itu adalah awal mula aku mulai berpura-pura menjadi gila. Atau gila sungguhan. Entahlah, aku tidak ingat dan tidak mau ingat.'