Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan
Pria itu menyandarkan satu sikunya di atas meja, menatap Naura dengan binar mata yang mendadak berubah agak sendu, meskipun senyum ramahnya tidak sepenuhnya luntur dari bibirnya.
“Maaf,” ucap Devan.
Naura hanya tersenyum tipis. “Kakak kan nggak salah. Kenapa minta maaf?” balasnya ringan.
Keduanya tidak bicara selama beberapa waktu.
“Kamu belajar apa? Mau masuk kuliah di mana?” Devan membuka percakapan lagi.
“Rencananya mau kedokteran. Tapi sekarang udah mulai ragu,” balas Naura lancar. “Mungkin mau pilih yang lebih masuk ke kemampuanku sekarang.”