Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Sayang sekali sinar merah itu dapat dirasakan kehadirannya oleh tokoh tua berilmu tinggi itu, sehingga Resi Pakar Pantun cepat balikkan badan dan lepaskan pukulan bersinar hijau. Clapp...! Duarrr...! Ledakan itulah yang didengar Baraka tadi”O. rupanya kau yang menyerangku. Anak manis” kata Resi Pakar Pantun saat berhadapan dengan Raja Tato. ia melanjutkan dengan syair pantun'nya. "Anak sapi bercinta dengan kera. “Selesai bercinta bayar uang sewa. Kalau memang belum puas cedera, boleh jadi kau akan kehilangan nyawa."
1028.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 649 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Langit yang Retak Hari berikutnya, terjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun. Langit di atas pesantren merekah. Seperti kertas yang tersobek dari sudut atas. Dari celah itu, bukan cahaya yang keluar… melainkan kata-kata yang mengalir seperti debu. Santri-santri jatuh sakit. Beberapa mulai berbicara dalam kalimat-kalimat yang tidak dimengerti. Ada yang menyebut nama-nama yang tidak pernah mereka pelajari. Ada pula yang menggambar simbol pena dan rantai di dinding kamar mereka.
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Dua Pilar Cinta

Dua Pilar Cinta

Kumpulan remaja itu bak disuguhi hiburan dadakan. "Jangan buat onar di pesantren!" ucap santri laki-laki itu tegas sembari memblokade jalan. "Gue gak buat onar," elak gadis bertopeng itu sambil memukul rebananya lagi. "Gue cuma ngasih hiburan sama pesantren ini. Soalnya pesantren ini sepi kayak kuburan." "Suara lu gak enak," sahut santri laki-laki berkoko putih itu.
107.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 178 kali sebagai pantun santri
Tampilkan Ulasan (11)
Baca
+Pustaka
Chyruszair
cerita kayak gini belum ada pembaca? aku suka dengan ceritanya dan awal ceritanya saja sudah menegangkan, eh tapi malah dibikin ngakak. kena prank sebagai pembaca. tapi, cerita ini memang bagus, baca saja, bab 1 saja sudah dibilang menarik apalagi bab selanjutnya.
malapalas
BACA novel berjudul :FREL. Banyak kejutan di dalamnya. Selain tentang cinta segitiga yang bikin baper, gemes dibumbui humor dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi dg persahabatan, keluarga, luka dan rahasia di masa lalu orangtua yang akan membuat cerita lebih seru dan menjungkirbalikkan perasaan.
Baca Semua Ulasan
Love of My Life

Love of My Life

gerutu Pandan sebel. "Bejalan hendak menepi. Supayo idak tepijak kanti. Becakap piaro lidah. Supayo kanti idak meludah." Pandan terdiam. Soalnya ia sama sekali tidak tahu apa arti kata-kata si Mahater ini. Dia yang dari lahir dan besar di ibukota seperti ini, manalah ia mengerti bahasa daerah Jambi. Lain kalau tadi ibunya yang diberi jawaban berpantun seperti ini. Pasti bisa langsung dibales dengan sama merdunya oleh ibunya. Lah dia ini kan tahu pantun cuma dari acaranya almarhum Olga dan Kang Opick doang. Paling pantun yang melekat di kepalanya itu adalah kata-kata; masak aer biar mateng. Dan dijawab audiens dengan kata; cakeppp. Dah itu aja.
9.921.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 837 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Bara Dendam di Perbatasan

Bara Dendam di Perbatasan

Rasa penasaran di benak sang prajurit semakin bertumpuk-tumpuk. “Burung kepodang terbang tinggi. Bulunya indah kuning semburat.” Lelaki tua di depan sana bersuara. Ucapannya itu lebih mirip parikan, yaitu pantun pendek yang umum berkembang di Jawa. Untuk kesekian kalinya membuat Seta bingung sendiri. Namun tidak demikian halnya dengan Ki Sajiwa. “Yang dicari ada di sini. Marilah andika datang mendekat,” sahut sang petapa dari Teluk Lawa.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Kutukan Sang Putri Pesantren

Kutukan Sang Putri Pesantren

“Kebaikan? Kebaikan apanya? Papa mau masukin aku ke sini supaya nggak ada beban lagi di rumah, kan? Supaya nggak ada lagi anak gadis yang kerjanya cuma bisa rebahan aja. Iya? Papa emang udah gila!” Ucapan sang gadis tentu saja membuat beberapa santriwati yang menonton beristigfar. Keributan kecil itu semakin menarik atensi, hingga seorang pria paruh baya yang mengenakan gamis putih dan serban mendekat. Terlihat beberapa santriwati memberi jalan untuk pria paruh baya yang sepertinya merupakan pemilik pesantren ini. “Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan suara pelan. Baik Clara maupun kedua orangtuanya terdiam sejenak.
10862 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Hotel Bekas Pembunuhan

Hotel Bekas Pembunuhan

Mungkin Dian Rara kelelahan setelah semalaman suntuk menari tanpa henti. Seperti biasa setelah berjemaah ashar, para santri pondok pesantren Al Barokah berbondong-bondong pergi ke surau untuk ngaji kitab kuning. Kiai Muntaqo (pimpinan pondok pesantren) menabuh kentungan sebanyak tiga kali petanda kalau pengajian segera dimulai. Dia lalu jalan dengan santai menuju surau sambil menenteng kitab kuning. Di dalam surau itu tampak santri putra dan putri sudah berkumpul.
8.314.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 462 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Pantaskah Surga Untuknya?

Pantaskah Surga Untuknya?

Tangannya masih lemah, tapi kalimat itu mengalir pelan, tinta tergores dalam kertas menyulam beberapa kata. "Aku tak pantas mendapatkan surga. Akan tetapi, aku akan menutup setiap luka ini... agar kelak aku bisa berdiri di gerbang surga, bukan sebagai lelaki yang disambut, tapi lelaki yang akhirnya layak mengetuk."
10684 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Cinta Panas Sang Penyamar

Cinta Panas Sang Penyamar

tanya Sisi tanpa menengok pada Daffi. “Kami sedang melihat santri sedang mengusir burung. “ "burung siapa?"
994 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Dinikahi Ustadz Tampan

Dinikahi Ustadz Tampan

Belum aja aku melanjutkan ucapanku, dari bangku pengunjung kantin, kita semua mendengar dua santriwati yang sedang berkelahi sambil mendorong temannya. "Heh, dasar kamu, penipu ya!" teriak santriwati itu dengan sarkas. ***
10128.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.0K kali sebagai pantun santri
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status