Cinta Antara Dua Dunia
Amara menatap dirinya di cermin, lalu berbisik lirih,
“Apakah benar aku pantas menjadi penghubung dua dunia?”
Dari luar, suara lembut ibunya menjawab,
“Kau bukan hanya pantas, Nak... kau memang ditakdirkan untuk itu.”
Malam turun perlahan. Langit pesantren berwarna keunguan, di antara bintang-bintang yang berkelip lembut, seolah menunduk menyaksikan peristiwa langka yang akan terjadi. Di pendopo utama, para santri duduk rapi dalam pakaian putih bersih, membaca shalawat dengan irama lembut. Cahaya lentera bergoyang ditiup angin, menciptakan suasana sakral yang sulit dijelaskan dengan logika manusia.
Hot Chapters