여기 predator face와 관련된 11개의 소설이 있습니다. 일반적으로 predator face와 같은 이야기는 Fantasi, Romansa 및 Mafia 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Kesempatan Kedua Sang Legenda부터 시작해보세요!
Kael diam-diam memindai wajah Favreau.
Saat mata mereka bertemu, Favreau, yang tadinya memohon dengan panik, menutup mulutnya rapat-rapat karena teror, merasa seolah tak bisa bernapas.
Tatapan dingin seperti ular, ekspresinya hampa tanpa emosi.
Mata predator yang berkilau sedang mempelajarinya.
Seolah memutuskan apakah akan melahapnya atau tidak.
"Nama."
"B-Baron Favreau. Dan siapa kau?"
Untuk pertama kalinya, malam itu ia melihat sesuatu yang nyata di mata Arsen.
Perasaan khawatir, dan itu yang paling menganggu pikirannya. Karena semakin lama, semakin sulit baginya untuk membedakan mana ancaman, dan mana perhatian dari seorang predator seperti Arsen Mahardika.
Wajahnya tak memiliki mata, hanya mulut besar berisi gigi bengkok seperti taring beling.
Aeri mundur satu langkah. "Apa itu...?!"
"Predator wilayah inti," jawab Fyren. "Makhluk ini hidup dari sisa energi dunia lama. Dan... sepertinya mereka mencium sesuatu dari kamu, Aeri."
"Dari aku?!"
Luca mengangkat satu tangan ke arah makhluk itu, dan udara di sekelilingnya bergelombang—seolah panas menyelimuti lengannya.
“Pegang kata-kataku dan buktikan sendiri nanti.”
Alaric tersenyum miring. “Baiklah, lagi pula kalau dipikir-pikir menjadi vampir tidak terlalu buruk juga. Aku bisa tetap tampan tanpa harus repot-repot menggunakan skincare atau ke klinik perawatan wajah.”
“Yeah, terserah kau saja. Nikmati wajah tampanmu itu sebelum ada kerutan.”
“Hmm, apa kau tidak bisa membuatkan obat penawar yang sekaligus dapat membuatku tetap awet muda?”
"Biasanya orang yang melihat wajahku akan mati malam ini juga."
Liora menatap mata hitam pekat di depannya. Seperti jurang tanpa dasar. Tenggorokannya tercekat, tangannya gemetar hebat di sisi tubuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasakan apa itu berada di hadapan seorang predator. Pria ini tidak perlu berteriak. Keheningannya saja sudah mencekik.
Wajahnya adalah perpaduan antara pahatan klasik yang sempurna dan kekejaman alami seorang predator.
Sepasang mata tajam berwarna hitam itu sekarang menatap Lunara dan tidak lagi membara dengan kemarahan, tapi meredup menjadi tatapan yang penuh intensitas posesif.
Lunara menelan ludah dan detak jantungnya berpacu liar. “Apa yang terjadi di luar?”
Namun, anehnya itu seolah kandang para predator yang siap menerkamnya kapan saja.
Aria menghela napas panjang. Terlalu terlambat untuk mundur. Lagi pula, sejak awal medan perangnya tidak pernah benar-benar lepas dari ancaman predator. Mereka hanya berubah bentuk dan permukaan kulit saja. Dia menarik kedua sudut bibir hingga memunculkan eyes smile yang memesona.
Langkahnya perlahan memendek saat suara tawa Lucy semakin terdengar jelas. “Selamat siang.” Sapaan itu santai, berani dan tegas.
Memandang mereka sambil mengelap bibir menggunakan lidahnya.
Itulah ekspresi predator saat menangkap basah mangsanya.
Monster betina itu kini tepat di atas kepala mereka!
'Gawat!'