Pelukan Terlarang
“Iya. Barengan sama Pak Adrian, kan?”
“Duh, kalau bener ada yang motoin, rame besok.”
Hana menarik napas panjang, tapi rasanya udara malah makin menekan paru-parunya. Ia duduk di kursi, membuka laptop seolah-olah sibuk. Tapi matanya tidak benar-benar membaca. Di layar hanya ada grafik presentasi, tapi pandangannya buram.
Seorang rekan kerja, Sinta, tiba-tiba mendekat dengan segelas kopi di tangan. Senyumnya ramah, tapi matanya berkilat aneh.
Bab Populer