Saat Hati Menyesal
Perutku makin nyeri, benar-benar tak punya tenaga untuk berdebat dengannya.
Richard menghela napas, “Sudahlah, jangan marah lagi. Aku salah soal kemarin, aku bakal berubah ke depannya, ya?”
Ucapan basa-basinya itu sudah terlalu sering kudengar. Tapi nyatanya, hanya aku yang selalu menganggap semuanya serius.
Memikirkan semua itu membuat hatiku terasa getir.
Melihat wajahku yang pucat, Richard langsung menawarkan diri untuk membuatkan air gula merah.
Bab Populer