Manis di Bibir, Pahit di Takdir
Menjadi wanita sabar, pengertian, diam-diam berdiri di belakangnya… meski hatiku kadang terluka.
Malam itu, setelah menutup kafe, aku dan Bima berjalan berdampingan di lorong supermarket, membicarakan menu makan malam.
Tangannya menggenggamku erat, kadang menunduk untuk menggesekkan pipinya ke keningku.
Momen manis ini… tak kusangka menyulut amarah seseorang.
Tiba-tiba, Devan muncul. Langkahnya lebar, sorot matanya tajam, dan tanpa peringatan dia menarikku keras ke pelukannya.
Bab Populer