Ujung Senja
Aku mengangkat kepala dan melihat Handoko berdiri dengan wajah ruang di depanku.
“Matahari minder pagi ini,” ujarnya sambil menatap langit.
“Maksudnya?” Aku menghentikan kening.
“Lihat ke atas, matahari saja tak berani menunjukkan sinarnya, sebab ia kalah terang dengan pesonamu, Era.”
Astaga, lelaki ini pujangga nyasar mungkin.
“Boleh aku duduk sampingmu, Era?”
“Tentu saja.” Aku menjawab cepat seraya menggeser badan. “Tempat ini terbuka untuk umum, dan juga bukan milikku. Jadi kamu bebas mau duduk di mana pun.”
인기 회차