Jodoh Jebakan Dari Opa
“Tenang, cucu menantu. Opa dukung seratus persen. Kau itu gadis labil, tapi kalau sudah menemukan orang yang bikin kau baper, berarti itu jodoh.”
“Bukan jodoh, Opa. Ini cuma kontrak, inget nggak?”
“Kontrak apa, lama-lama jadi cinta beneran. Opa sudah lihat chemistry kalian kayak gula sama kopi. Manis, pahit, tapi nyandu.”
Anaya menutupi wajah dengan bantal sofa.
"Tuhan, kenapa Opa selalu benar?"
Malam kedua, Anaya kembali gelisah. Ia tak tahan, ingin mendengar suara Raka lagi. Tapi gengsinya melambung tinggi.
Chapitres populaires