Once then Forever
"Tiba-tiba sekali kamu menginginkan hal kayak gitu?"
"Kamu mau enggak?"
Lelaki itu mengedikkan bahu. "Tergantung. Lari bukan soal sulit. Itu hobi aku, kalau kamu lupa."
Semakin antusias, Sera mengangkat wajah. "Jadi, sepakat, ya?"
"Gimana, ya? Aku dapat apa kalau menang?"
Detik itu juga Sera paham apa yang suaminya coba lakukan. Kilatan jahil di dua iris pekat itu sudah memberitahu segalanya.