Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Revenge

Revenge

Gendis mendesis sembari menyebut nama laki-laki yang menjadi suaminya itu. "Jika aku bisa melewati malam bersama Steve, maka, aku pasti akan bisa melewati malam-malam berikutnya dengan mereka." Gendis berdiri di depan cermin, melihat dirinya sendiri berusaha menegakkan kepala sambil tersenyum. Karena, itulah yang akan dia lakukan di hari-hari berikutnya. Jika dia ingin bertahan dan menjadi pemenang, maka salah satu jalan adalah menjadi bagian dari lawan.
108.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 181 kali sebagai versus one
Baca
+Pustaka
Revenge

Revenge

Semua musuh sudah di depan kata, semua lawan tinggal dibinasakan, dengan sekali pukulan Kemudian dia meninggalkan meja kafe, menyelipkan selembar uang tips, berharap dosanya sedikit terampuni dengan berbagi rezeki. Ponselnya berdering, menunjukkan sebuah pesan bergambar. ꦱꦧꦫꦺꦴꦱꦲꦸꦤ꧀ꦠꦫ꧈ꦩꦸꦱꦸꦃꦮꦼꦱ꧀ꦲꦤꦤꦁꦠꦔꦤꦼꦢꦼꦮꦼ¹
104.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 150 kali sebagai versus one
Baca
+Pustaka
Choice

Choice

Siapa yang wajahnya masih bisa terlihat utuh di kamera, dialah pemenangnya. Tanpa disangka hasilnya Reihan dan Maya beradu di akhir game. Reihan merasa sungkan harus menghadapi Maya. Dia menolak untuk menyelesaikan game ini. Tapi Maya justru menantangnya. Mereka duduk bersebelahan. Mata mereka bertemu dan seulas senyum tersungging. “Kamu pasti kalah,” Ucap Maya yakin. Reihan menggeleng mantap.
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 68 kali sebagai versus one
Baca
+Pustaka
Dilema

Dilema

Walau juga banyak memberikan perlawanan. "Lo sama ama Brayn, banci, mainnya keroyokan," ujar Dicky saat ia dan Levin saling berhadapan. "Gue bukan banci, tapi gue licik, gue juga gak bakal kalah dari lo, karena gue gak sama kayak Brayn yang lemah itu, dan ingat, gue udah berhasil ngebunuh adek lo,"
106.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 253 kali sebagai versus one
Baca
+Pustaka
YOU

YOU

Hal yang selalu Aluna sukai dari Xavier. “Dir, gue tinggal dulu ya.” “Hmm” Aluna dan Xavier berjalan berdampingan menuju meja barista, Aluna merasa seperti kurcaci yang berjalan bersisian dengan raksasa karena perbedaan tubuh mereka yang cukup kentara. Xavier memang lebih tinggi dari pada Aluna, tubuh laki-laki itu pun kekar dan berdada bidang ditambah kaos yang ia kenakan semakin memperlihatkan tubuh kekarnya dan otot-otot bisep di kedua lengannya, bisa dibilang body goals untuk ukuran laki-laki. Wajah Xavier pun terbilang tampan dengan kulit putih dan manik mata coklat tua yang semakin membuat para wanita menjerit dan terkesima melihat ketampanan Xavier. Sedangkan Aluna, gadis itu lebih pe
2.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai versus one
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status