Share

BAB 9

Penulis: Mikaelach09
last update Tanggal publikasi: 2026-04-29 19:11:00

Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.

Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata, meski suaraku terdengar nyaris bergetar.

Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku lagi. Ia justru berjalan lebih dulu, masih dengan genggaman tangan Bu Yuanita yang membuat langkahku terasa goyah. Seakan sengaja, Bu Yuanita terkekeh kecil, nada tawanya ringan, terlalu manis untuk seorang dosen di depan mahasiswanya.

Aku bisa merasakan dua pasang mata mengawasi dari sudut kafe. Layla mencondongkan tubuhnya ke arah Revan, lalu berbisik pelan tapi cukup jelas kudengar.

"Eh, lihat deh. Kayaknya Bu Yuanita genit banget sama Pak Althaf, ya?"

Revan mendengus sambil mengangkat alis, ekspresinya sinis. "Genit apaan, itu sih udah kelewatan. Mereka masuk kafe aja gandengan tangan, Lay. Kayak... bukan dosen dan kolega, tapi pasangan."

"Gila sih. Padahal Bu Yuanita dosen, bukan mahasiswi. Masa iya dia segitunya?" Layla menggeleng, wajahnya penuh tanda tanya.

Aku menunduk, pura-pura sibuk merapikan piring kosong di meja sebelah. Suara mereka menusuk telingaku. Ingat Senjani, pernikahan ini bukan perrnikaan normal. Apa yang kamu harapkan dari Althaf? Merasa bersalah karena bergandengan tangan dengan Bu Yuanita? Minta maaf padamu? Jangan bermimpi Senjani.

Aku menelan ludah, berusaha mengendalikan napas. Tenang, Senja. Jangan tunjukkan apa pun. Jangan sampai mereka curiga.

Sementara itu, di meja ujung kafe, Bu Yuanita tertawa renyah mendengar sesuatu yang dikatakan Althaf. Ia bahkan menyentuh lengannya, terlalu akrab untuk sekadar kolega. Sedangkan Althaf... wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun, tatapan dinginnya membuatku semakin merasa kecil dan tak berarti.

Layla kembali berbisik dengan nada tak percaya. "Serius deh, Van, lo nggak ngerasa aneh? Kok Bu Yuanita bisa segitu lengketnya sama Pak Althsambunbaf?"

Revan hanya menyilangkan tangan di dada. "Ya jelas aneh. Gue nggak ngerti lagi. Kalau mahasiswa yang genit sama dosen, masih wajar lah. Tapi ini dosen ke dosen. Dan lihat deh, Bu Yuanita keliatan banget yang ngejar."

"Bener. Kasihan banget istrinya di rumah," balas Revan ketus sambil menggeleng pelan. Ucapannya membuat darahku seolah berhenti mengalir. Aku ingin menegurnya, tapi lidahku kelu.

Layla justru malah menepuk tangan dengan antusias. "Eh, gue ada ide! Gimana kalau kita gangguin mereka aja. Kita gabung yuk di meja mereka." Matanya berkilat penuh keberanian.

Aku menoleh kaget. "La, jangan..." bisikku cemas, tapi Layla sudah lebih dulu menarik pergelangan tanganku. Revan mendengus, tapi akhirnya ikut berdiri juga, mungkin karena tidak tega meninggalkanku sendiri.

Langkah Layla ringan, bahkan terlalu bersemangat, sementara kakiku terasa seperti diseret batu besar. Napasku tidak beraturan. Aku bisa melihat jelas Bu Yuanita masih tersenyum sambil merapikan rambutnya, dan Althaf... meneguk kopinya pelan tanpa ekspresi.

"Eh ada Bapak dan Ibu dosen kesayangan kita. Boleh gabung di sini nggak?" ucap Layla ramah, suaranya dibuat seceria mungkin, tapi aku tahu betul senyum itu hanya topeng.

Tampak Althaf dan Bu Yuanita sedikit terkesiap. Tatapan mereka sempat bertukar, seakan menimbang sesuatu. Bu Yuanita yang lebih dulu bereaksi, tersenyum lebar meski agak kaku. "Oh... tentu, silakan. Ramai-ramai juga lebih seru, kan, Pak Althaf?" Ia menoleh dengan manja, berharap persetujuan.

Althaf hanya mengangguk tipis, wajahnya tetap dingin. Pandangannya sekilas menembusku, lalu kembali ke arah kopinya, seolah aku hanyalah bayangan.

Layla langsung menarik kursi dan duduk dengan penuh percaya diri. Revan duduk di sebelahku, tubuhnya tampak tegang, sementara aku memilih kursi paling pinggir-berusaha membuat diriku sekecil mungkin.

"Wah, kebetulan banget ya bisa ketemu di sini," sambung Layla dengan nada dibuat-buat. "Ibu lagi ngajarin Pak Althaf tentang... apa ya, romantisme klasik, gitu? Sama kayak di mata kuliah Ibu" godanya sambil tersenyum sinis.

Bu Yuanita terkekeh, meski suaranya terdengar agak canggung. "Aduh, kamu bisa aja, Layla. Kita cuma ngobrol soal tugas saja kok."

Revan mencondongkan tubuh, menyilangkan tangan di dada. "Tugas? Tugasnya sampai gandeng-gandengan tangan gitu, Bu?" sindirnya tajam.

Suasana langsung hening. Musik jazz yang tadi samar kini terdengar begitu jelas, menusuk ruang hampa di antara kami.

Aku menunduk dalam-dalam, wajahku panas, dada terasa sesak seolah udara di kafe itu mendadak menipis. Gelak tawa Layla yang tadi riuh kini seperti teredam. Hening menekan kami, menyisakan detak jantungku yang berdentum nyaring di telinga sendiri. Dengan senyum kaku, aku berusaha mencairkan suasana yang mendadak beku.

"Silakan dinikmati, Pak Althaf, Bu Yuanita. Cheesecake ini best seller di kafe kami," ucapku pelan, suaraku terdengar hampir bergetar.

"Oh, ya? Pantas saja rasanya seenak ini," sahut Bu Yuanita riang sambil mencicipi cheesecake dengan tatapan berbinar. Ia tampak santai, sama sekali tak menyadari pusaran kegugupan yang menggulung di meja ini.

Revan tiba-tiba mendorong piring berisi cheesecake ke hadapanku. "Lo juga makan deh, Jani. Dari tadi gue perhatiin lo belum nyentuh apa pun."

Aku tertegun, kaku di tempat. Saat itu juga, Althaf yang sedari tadi hanya menunduk, menatap minumannya tanpa suara, akhirnya mengangkat kepala.

Mata kami bertemu.

Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuatku merasa terintimidasi, seakan semua rahasia dan kegelisahanku terbaca jelas di sana. Tatapan itu tajam, dingin, penuh sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, menunduk, jari-jariku meremas ujung rok yang kukenakan.

"Makasih, Van. Tapi gue lagi nggak pengen cheesecake," jawabku kaku, berusaha menutup celah yang bisa menimbulkan salah paham lagi.

Namun Revan tak menyerah. Senyumnya muncul lagi, tulus tapi juga sedikit menantang. "Kalau gitu gimana? Sebelum nonton kita makan ramen favorit lo dulu. Gue tahu tempat yang enak."

Aku membuka mulut hendak menjawab, tapi Bu Yuanita mendadak menimpali dengan suara ceria yang menusuk telinga. "Kalian mau nonton film? Wah, saya sudah bisa nebak, sih... memang Senja dan Revan ini kelihatan punya hubungan spesial." Ia melirikku, lalu mengerling manja ke arah Althaf. "Soalnya dari cara Revan menatap Senja, jelas banget kalau dia punya rasa lebih."

Aku tersenyum kaku, wajahku makin memanas. Ujung mataku menangkap Revan yang sedang menatapku-dengan sorot mata teduh, dalam, tapi sulit kutebak. Sementara itu, di sisi lain, Althaf menegang. Rahangnya mengeras, tangannya meremas gelas di hadapannya begitu kuat hingga jemarinya memutih.

Aku mencoba menjawab, suara tercekat di tenggorokan. "Bu Yuanita salah paham, sepertinya. Saya dan Revan murni cuma berteman. Kami sudah berteman sejak-"

"Benar, Bu," potong Revan tiba-tiba, suaranya dalam, mantap, dan nyaring di telinga semua orang. "Saya memang menaruh hati pada Jani."

Deg.

Seolah ada petir yang menyambar tepat di tengah meja.

Dadaku berdegup kencang tak karuan. Tenggorokanku kering, lidahku kelu. Revan menatapku lurus, seakan ingin meyakinkanku sekaligus menantang siapa pun yang berani menyangkalnya.

Aku bisa merasakan udara di sekelilingku mendadak membeku. Dari sudut mataku, kulihat Althaf terpaku. Sorot matanya gelap, dalam, penuh sesuatu yang tak terucapkan. Amarah? Luka? Aku tak tahu. Yang jelas, tatapan itu menusuk, membuatku hampir tak bisa bernapas.

Aku meremas pangkuanku makin erat, berusaha menahan getar tubuh. Ya Tuhan masalah apalagi yang akan ku hadapi saat ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 78

    Kami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 77

    Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 76

    Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 75

    Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 29

    Saat aku tiba di rumah Althaf, langit sudah benar-benar gelap. Lampu teras menyala redup, namun tetap saja rumah itu terasa dingin, hampa, dan asing. Aku menatap garasi yang kosong—tak ada mobil Althaf di sana. Biasanya, mobil hitamnya akan terparkir rapi, seakan menegaskan bahwa rumah ini adalah m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 53

    Perlahan, Revan berbalik. Tatapannya menghantamku - begitu dingin, begitu kosong, seolah-olah kalimatku tadi baru saja merobek sisa perasaan terakhir yang ia punya untukku."For the money?" katanya pelan, nyaris berbisik, tapi justru membuat dadaku kaku. Aku menarik napas panjang yang bergetar, me

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 39

    Revan tersenyum tipis, tak menanggapi langsung tapi jelas tidak keberatan dengan godaan itu. Ia hanya mengangkat alis sedikit, lalu menyesap minumannya seakan menyembunyikan sesuatu. Layla menepuk meja pelan, terkekeh puas melihat reaksiku. "Serius, aku iri deh. Jarang banget ada cowok segentle Re

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 20

    Begitu aku keluar dari kamar mandi, langkahku melambat. Pandanganku langsung menangkap pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak.Revan duduk menunduk, fokus pada ponselnya dengan wajah serius. Sementara itu, di sisi lain meja, Bu Yuanita tampak berbicara dengan Althaf. Tawa renyah Bu Yuanita te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status