Share

BAB 8

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-04-29 19:10:16

Setelah tiga bulan menjalani pernikahan bersama Althaf, ternyata benar seperti yang dikatakan Mbok Mirna, Althaf memang jarang sekali pulang ke rumah. Biasanya hanya dua minggu sekali, bahkan kadang sampai tiga minggu baru sekali pulang. Itupun hanya sebentar, langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa sempat bertegur sapa.

Awalnya Mbok Mirna sering bertanya-tanya, kenapa majikannya jarang sekali pulang meski sudah menikah. Aku sempat berbohong, mencoba menutupi. Namun, seiring berjalannya waktu, Mbok Mirna akhirnya paham—pernikahan kami memang jauh dari kata normal.

Hari-hariku berjalan seperti biasa. Aku tetap kuliah, dan di sela waktu kosong, aku bekerja sebagai kasir di sebuah kafe. Bukan karena aku kekurangan. Uang bulanan dari Althaf sudah lebih dari cukup, bahkan fantastis jumlahnya. Tapi aku punya alasan lain. Aku ingin menabung sebanyak mungkin. Aku tidak pernah tahu sampai kapan pernikahan ini bertahan, dan ketika semua ini berakhir, aku ingin punya bekal untuk hidup normal tanpa Althaf.

Di rumah, aku mencoba sibuk dengan hal-hal sederhana. Kadang aku membantu Mbok Mirna memasak atau belanja ke pasar. Bahkan aku mulai berkebun. Di samping kolam renang ada sebidang tanah kecil yang dulu tak terurus, hanya ditumbuhi rumput liar. Aku menyulapnya menjadi taman mungil dengan bunga-bunga warna-warni. Melihat mereka tumbuh pelan-pelan, entah kenapa membuat hatiku sedikit lebih tenang.

Tentang Ibu, aku sungguh bersyukur. Kondisinya kini jauh membaik. Bulan lalu, aku membelikan sebuah rumah kecil tak jauh dari kontrakan lama, menggunakan uang pemberian Althaf, tentu saja. Di depan rumah itu, Ibu membangun warung nasi sederhana, dibantu Mira, sepupuku. Itu memang impian Ibu sejak lama—punya warung nasi sendiri. Dan aku lega bisa membantu mewujudkan mimpinya.

Sore itu aku sampai di rumah Ibu setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan dengan motor. Dari kejauhan aku melihat beliau sedang sibuk melayani pelanggan di warung kecilnya. Beberapa meja dipenuhi orang, aroma masakan menyeruak hangat ke jalan. Pemandangan itu membuat dadaku terasa hangat.

Tanpa pikir panjang, aku segera turun dan ikut membantu. Mira tampak kewalahan, wajahnya basah oleh keringat, namun tetap tersenyum ramah pada para pelanggan.

“Ya ampun, Jani… kapan kamu datang, Nak?” sapa Ibu dengan suara riang, meski tangannya masih cekatan menuangkan sayur ke piring pelanggan.

“Baru saja, Bu. Kebetulan ada tugas dekat sini, jadi sekalian mampir.” Aku tersenyum kecil, berbohong halus. Aku tak mungkin bilang sebenarnya aku memang sengaja datang untuk menginap. Kalau Ibu tahu, beliau pasti akan bertanya kenapa Althaf tidak ikut bersamaku.

“Kamu sudah izin sama suamimu, kan?” tanyanya sambil melirik sekilas, nada suaranya penuh keibuan.

“Sudah, Bu. Mas Althaf kebetulan lagi ada pekerjaan di luar kota. Jadi Jani mau nginap di sini, kangen sama Ibu.” Aku langsung memeluk Ibu erat-erat, manja, seperti anak kecil yang merindukan rumah.

Ibu terkekeh kecil lalu membalas pelukanku. Hangat, menenangkan, dan membuatku sejenak lupa pada segala beban di rumah besar itu.

***

Malam itu warung sudah ditutup. Lampu bohlam kuning di beranda memantulkan cahaya temaram, menemani kami duduk berdua. Udara malam terasa lembut, tapi hati kecilku justru gelisah.

Ibu menaruh secangkir teh hangat di depanku, lalu duduk di sampingku. Tangannya sibuk mengibas-ngibas sisa asap dapur dari bajunya, wajahnya tampak lelah, namun senyumnya tetap tulus.

“Jani, Ibu senang kamu datang,” ucapnya sambil menepuk pelan pahaku. “Rumah ini jadi lebih ramai kalau ada kamu.”

Aku tersenyum, mencoba menguatkan hati. “Jani juga senang, Bu. Warungnya ramai banget, Ibu hebat.”

Ibu terkekeh, matanya berkilat lembut. “Kalau bukan karena kamu, warung ini nggak akan berdiri. Kamu yang wujudin mimpi Ibu.”

Aku terdiam. Senyum di wajahku perlahan memudar. Sakit rasanya mendengar ucapan itu. Bukan aku yang mewujudkan impian Ibu… tapi uang dari Althaf. Uang dari pernikahan yang bahkan tak kudapati arti dari  pernikahan ini.

Ibu menoleh padaku, seolah bisa membaca isi hatiku. Tatapannya menusuk lembut, membuatku sulit bersembunyi.

“Senjani…” suaranya pelan, tapi tegas. “Kamu bahagia, Nak? Dengan pernikahanmu?”

Aku tercekat. Kata ‘bahagia’ rasanya terlalu berat untuk kujawab. Aku ingin bilang iya, ingin membuatnya lega. Tapi hatiku menolak.

Aku mengangkat wajah, memaksa tersenyum. “Jani baik-baik aja, Bu. Jangan khawatir.”

Ibu menghela napas panjang, lalu menggenggam tanganku. Genggamannya hangat, tapi terasa seperti tamparan halus.

“Baik-baik saja belum tentu sama dengan bahagia, Senja.”

Dadaku sesak. Air mata rasanya mendesak ingin keluar, tapi aku buru-buru menunduk, pura-pura meniup tehku yang sudah dingin.

“Ibu cuma ingin kamu benar-benar bahagia,” lanjutnya lirih. “Bukan cuma terlihat kuat.”

Kali ini aku tak bisa menahan lagi. Setitik air mata jatuh ke punggung tanganku. Aku buru-buru menghapusnya, berharap Ibu tidak melihat. Tapi aku tahu, beliau selalu bisa melihat lebih dari apa yang kutunjukkan.

Dalam hati aku berbisik doa, semoga suatu hari nanti aku benar-benar bisa menunjukkan kebahagiaan yang nyata pada Ibu—bukan sekadar kepura-puraan.

Ibu menatapku dengan tatapan tak terbaca sebelum berkata. “Kamu harus menghormati suamimu. Jaga dia baik-baik, Jani. Althaf anak yang baik. Dia beberapa kali main ke sini kalau kebetulan ada kerjaan dekat sini. Kalau datang, nggak pernah dengan tangan kosong. Selalu bawain makanan kesukaan Ibu.”

Aku terdiam. Cangkir teh di tanganku hampir terlepas. Apa? Althaf sering datang ke sini? Tanpa sepengetahuanku?

“Althaf suka sekali dengan tempe orek dan sayur bacem masakan Ibu,” lanjut Ibu sambil tersenyum mengenang. “Katanya mirip dengan masakan almarhumah ibunya. Kalau datang, dia selalu minta Ibu masakin itu. Kapan-kapan kamu masakin juga untuk suamimu, ya. Ingat, Nak… masak untuk suami itu pahalanya besar.”

Hatiku mendadak sesak. Aku baru tahu hal itu. Kenapa Althaf bisa begitu hangat pada Ibu, sementara padaku… seolah aku hanya orang asing di rumahnya?

“Ibu nggak nyangka, anak orang kaya seperti Althaf suka makanan kampung buatan Ibu.” Ibu terkekeh kecil. Wajahnya terlihat bahagia.

Aku hanya mampu mengangguk, lalu meraih tangannya, mengusap lembut. Senyumku tipis, tapi dadaku penuh dengan tanda tanya besar. Rasa getir, haru, dan bingung bercampur menjadi satu.

***

Siang itu, setelah mata kuliah selesai, seperti biasa aku langsung bekerja di kafe tak jauh dari kampus. Hari ini, Layla dan Revan sudah duduk manis di sudut kafe tempatku bekerja. Mereka sengaja menungguku, karena sesuai janji, setelah aku selesai shift kami akan menonton film untuk tugas analisis dari Bu Yuanita. Minggu ini tugas itu harus dikumpulkan, jadi kami sepakat menyelesaikannya bersama.

Dari kejauhan kulihat mereka bercanda, tawa mereka terdengar renyah menembus riuh rendah musik kafe. Aku membawa sepiring kecil berisi kue kering, lalu menghampiri meja mereka.

“Nih, gratis buat kalian, karena sudah berbaik hati nungguin gue kerja.” Aku meletakkan piring itu di meja sambil tersenyum.

Layla menyambut dengan mata berbinar. Tanpa basa-basi ia langsung menyomot satu kue dan menggigitnya. “Makasih ya, Sen. Tahu gitu, gue sering-sering nemenin lo kerja biar dapet cemilan gratis.”

Revan menatapnya tajam, seolah kesal. “Cuma lo doang, orang kaya tapi hobinya ngemis makanan gratis.”

Layla terkekeh, tak ambil pusing dengan komentar Revan. “Namanya juga makanan gratis. Monyet aja seneng dikasih pisang, apalagi gue.”

“Ye, memang lo monyet,” balas Revan dengan nada menggoda.

Layla meledak tertawa, sementara aku ikut tersenyum. Rasanya hangat bisa melihat mereka bercanda seperti itu. Aku sudah hendak menimpali, tapi tiba-tiba bunyi kerincing di pintu kafe membuat langkahku terhenti. Refleks aku menoleh, menyambut pelanggan yang baru datang.

“Selamat dat—”

Deg.

Kalimatku terhenti. Jantungku langsung berdetak tak karuan.

Althaf.

Ia berdiri di ambang pintu bersama Bu Yuanita. Pandangan kami bertemu sepersekian detik—dan saat itu rasanya seluruh tubuhku membeku. Namun, sama cepatnya, Althaf mengalihkan tatapannya. Seolah aku hanyalah orang asing.

Dan yang lebih menusuk hatiku… tangannya menggenggam tangan Bu Yuanita erat-erat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 78

    Kami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 77

    Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 76

    Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 75

    Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 39

    Revan tersenyum tipis, tak menanggapi langsung tapi jelas tidak keberatan dengan godaan itu. Ia hanya mengangkat alis sedikit, lalu menyesap minumannya seakan menyembunyikan sesuatu. Layla menepuk meja pelan, terkekeh puas melihat reaksiku. "Serius, aku iri deh. Jarang banget ada cowok segentle Re

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 29

    Saat aku tiba di rumah Althaf, langit sudah benar-benar gelap. Lampu teras menyala redup, namun tetap saja rumah itu terasa dingin, hampa, dan asing. Aku menatap garasi yang kosong—tak ada mobil Althaf di sana. Biasanya, mobil hitamnya akan terparkir rapi, seakan menegaskan bahwa rumah ini adalah m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 20

    Begitu aku keluar dari kamar mandi, langkahku melambat. Pandanganku langsung menangkap pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak.Revan duduk menunduk, fokus pada ponselnya dengan wajah serius. Sementara itu, di sisi lain meja, Bu Yuanita tampak berbicara dengan Althaf. Tawa renyah Bu Yuanita te

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 15

    Oma menggenggam kedua tanganku erat, hangatnya seolah merambat langsung ke dadaku. Tatapan matanya menembus, lembut tapi sarat dengan harap.“Tolong… sayangi Althaf, ya, Senja.” suaranya bergetar, lirih, seakan setiap kata keluar dari lubuk hati paling dalam. “Sayangi dia… bimbing dia. Di balik sik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status