تسجيل الدخول“Eh, gue denger kabar… Pak Althaf udah nikah.”
Ucapan Revan terdengar begitu ringan, tapi bagiku seperti palu besar yang menghantam dadaku. Sendok di tanganku berhenti di udara. Mataku refleks melebar, napasku tercekat. Sejenak, suara di sekitar kafetaria seakan lenyap, hanya degup jantungku yang terdengar keras—tak beraturan. Soto yang tadi terasa hangat dan gurih kini berubah hambar, nyaris tak bisa kutelan. Layla yang sedang mengunyah hampir menyemburkan makanannya. “Hah?! Jangan becanda lo, Van. Nggak lucu banget, sumpah. Bisa bikin gue nggak selera makan,” gerutunya sambil manyun, wajahnya memerah kesal. Aku masih diam, tubuhku kaku. Rasa panas menjalar ke wajahku, sementara jemariku menggenggam sendok begitu erat sampai terasa sakit di pergelangan. Apa… secepat ini semuanya akan terungkao Revan, tanpa merasa bersalah, justru mencondongkan tubuh ke meja. Suaranya diturunkan sedikit, seakan ingin menambah dramatis. “Serius, Lay. Gue nggak ngarang. Perusahaan bokap gue kan kerja sama sama Dirgantara Textile. Nah, di sana lagi rame banget. Katanya, Pak Althaf nikah karena permintaan Omanya. Gara-gara itu juga dia langsung naik jadi direktur.” Aku bisa merasakan darahku turun naik. Pernikahan? Oma? Direktur? Kata-kata itu menusuk telingaku satu per satu, mengaduk-aduk isi kepalaku yang sudah kacau. Layla langsung menyahut cepat, “Ya ampun, gosip kantor tuh biasanya dilebih-lebihin. Jangan gampang percaya, Van. Orang kaya mah, batuk aja bisa jadi bahan berita.” Aku hanya tersenyum tipis—palsu, getir, terpaksa. Kalau saja Layla tahu kenyataannya… kalau saja dia tahu akulah perempuan yang dimaksud gosip itu, mungkin dia tak akan bisa bercanda seleluasa ini. Revan mengangkat bahunya, santai. “Ya gue cuma nyampein apa yang gue denger. Lagi pula, buat orang kaya, nikah karena urusan bisnis udah biasa banget, kan?” Aku menunduk dalam-dalam, menatap soto yang sudah dingin. Sendokku masih tenggelam di mangkuk, tapi aku tak punya tenaga untuk melanjutkan makan. Dada ini terasa penuh, seperti ada rahasia besar yang terus menjeratku, siap meledak kapan saja. “Beruntung banget pasti istri Pak Althaf,” ucap Layla sambil menghela napas panjang, matanya menerawang penuh iri. “Bayangin aja, tiap bangun tidur langsung disuguhi muka gantengnya. Ya auto semangat kerja seharian.” Dia lalu menyipitkan mata, mendadak bersemangat. “Eh, tapi siapa ya perempuan beruntung itu? Pasti cantik banget. Mantannya aja sekelas Raisa, ya jelas istrinya minimal selevel Raisa lah.” Aku tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip luka. Secantik Raisa? Bahkan bayangannya pun aku tak sebanding. Revan yang dari tadi sibuk mengaduk sotonya menimpali, “Gue malah denger kabarnya istrinya orang biasa. Nggak artis, nggak selebgram, ya bener-bener orang biasa gitu. Tapi nanti deh, gue coba pastiin lagi.” Ucapannya membuat nafasku tercekat. Sendok di tanganku berhenti. Soto yang tadinya hangat mendadak hambar. Perlahan kuletakkan mangkuk itu dan kugapai gelas teh manis yang sudah dingin. Kuteguk sedikit, tapi rasa manisnya sama sekali tak bisa menutupi getir di tenggorokanku. “Eh, lo kenapa, Sen?” tanya Revan sambil mengernyit. “Kok tiba-tiba pucat gitu. Lo sakit?” Aku buru-buru menggeleng, memaksakan senyum yang kaku. “Nggak, Van. Udah kenyang aja. Tadi sempat sarapan dikit di rumah,” ucapku datar. Layla mendadak tertawa kecil, mencoba mengalihkan suasana. “Kayaknya kita harus bikin hashtag Hari Patah Hati Nasional deh buat mahasiswi UNJ. Secara, dosen paling ganteng udah taken.” Dia langsung mengangkat ponselnya, selfie cepat, lalu menuliskan caption sambil nyengir puas. Revan ikut ngakak. Aku hanya tersenyum kecut. Andai saja mereka tahu… bahwa pernikahan Althaf bukanlah kisah cinta indah, melainkan ikatan dingin tanpa rasa. “By the way, kalau memang Pak Althaf udah nikah, kenapa Bu Yuanita masih aja nempel kayak perangko gitu ya? Ganjen banget,” celetuk Layla, nadanya jelas menyimpan sindiran. Aku spontan menoleh. Di sudut kafetaria itu, mereka berdua duduk berdampingan. Bu Yuanita tampak memesona dengan blazer krem yang elegan, rambutnya yang hitam bergelombang jatuh manis di bahu, tawanya renyah, nyaring, dan terdengar menembus keramaian. Jemari lentiknya sesekali menepuk pelan meja, sesekali hampir menyentuh lengan Althaf. Althaf hanya diam, sesekali mengangguk, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Namun justru sikap dingin itulah yang membuatnya semakin sulit ditebak—dan semakin menyakitkan. Aku menahan napas. Tapi tiba-tiba, matanya menoleh. Tatapannya jatuh tepat padaku. Dingin. Menusuk. Seolah-olah ia sengaja mengingatkanku: Jangan berharap apa pun dariku. Deg. Tanganku gemetar. Tanpa sadar, mangkuk soto di depanku tersenggol. Isinya tumpah, kuah panasnya mengotori celana kulotku. “Ya ampun, Sen!” Revan langsung panik, meraih tisu dengan terburu-buru dan berusaha membersihkannya. Layla mendecak. “Lo kenapa sih hari ini? Kayak orang linglung.” Wajahku terasa memanas, bukan karena soto, melainkan karena malu. Bukan hanya karena kejadian konyol ini, tapi juga karena tatapan dingin itu masih terasa menancap, menghantui pikiranku. Aku berusaha tersenyum. “Aku nggak apa-apa. Mungkin cuma kurang tidur,” jawabku pelan, meski suaraku bergetar. “Yaudah yuk, gue temenin ke kamar mandi.” Layla langsung menggandeng tanganku, sementara Revan menyodorkan beberapa tisu tambahan dengan wajah khawatir. Langkahku berat. Untuk sampai ke kamar mandi, aku harus melewati meja itu. Meja tempat Althaf dan Bu Yuanita duduk. Aku menunduk, tapi tetap mencoba menjaga sopan santun. “Permisi, Pak… Bu.” Bu Yuanita menoleh, senyumnya hangat, terlalu manis hingga terasa menusuk. “Hai, Senjani. Hati-hati ya, bajumu kotor,” katanya lembut, seolah-olah ia benar-benar peduli. Tapi Althaf? Tidak. Ia tidak menoleh. Tidak menanggapi. Tidak menatapku. Seolah aku hanyalah bayangan. *** Hari sudah sore ketika aku akhirnya menyelesaikan kelas terakhirku. Kebetulan semester ini Layla tidak mengambil mata kuliah Sosiolinguistik, jadi aku sendirian. Saat keluar dari kelas, langit sudah mulai berwarna jingga yang meredup, tanda senja segera berganti malam. Begitu sampai di parkiran, mataku langsung menangkap sosok Revan yang tengah duduk santai di atas motor sport hitamnya. Ia menunduk memainkan ponsel, tapi begitu melihatku, senyum lebarnya langsung mengembang. “Lo nungguin gue, Van?” tanyaku sambil berjalan mendekat. Revan turun dari motornya. Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna emas dengan motif timbul yang elegan, tampak mahal dan eksklusif. “Tadi gue mau langsung pulang, tapi hampir lupa ngasih ini.” Ia menyodorkannya padaku. Aku menerimanya dengan bingung. “Undangan ulang tahun bokap-nyokap lo?” Revan mengangguk, senyumnya lebar. “Iya. Sabtu ini. Datang ya. Gue udah undang Layla juga.” Aku mengangguk pelan. “Oke, gue datang.” Revan tampak lega mendengarnya. Lalu, tanpa diminta, tangannya terulur mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Sentuhan yang akrab, tapi justru membuat wajahku sedikit memanas. “Yaudah, balik sekarang, yuk. Ntar kemaleman di jalan, bahaya, Sen. Atau lo mau—” Ucapan Revan mendadak terhenti. Aku refleks menoleh ke samping. Jantungku hampir meloncat keluar begitu menyadari seseorang berdiri di dekatku. Althaf. Wajahnya tenang, tapi ketenangan itu justru terasa mengintimidasi. Rahangnya mengeras, sorot matanya dingin menusuk. Aura di sekelilingnya membuat udara mendadak berat. “Eh, sore Pak Althaf. Belum pulang, Pak?” sapa Revan canggung, mencoba ramah. Althaf sama sekali tidak menjawab. Tatapannya hanya terpaku padaku. Dingin, tajam, seolah menelanjangi isi kepalaku. Dengan nada datar namun penuh wibawa, ia berkata, “Saya ada keperluan dengan Senjani. Bisa tinggalkan kami berdua?” Nada itu bukan sekadar ucapan, melainkan perintah. Revan menatapku sekilas, lalu mengangguk. “Yaudah, gue duluan, Sen. Jangan lupa ya, Sabtu nanti.” Ia menepuk kepalaku sekali lagi sebelum melangkah pergi. Suara mesin motor sport-nya yang meraung perlahan menjauh, meninggalkan aku yang kini berdiri berhadapan dengan Althaf. Aku menelan ludah. “Pak…?” Ekspresinya tetap sama. Datar. Tak terbaca. “Ayo, Senjani. Pulang bareng saya.” Suaranya dingin, tak memberi ruang untuk menolak. Ia langsung berjalan menuju mobilnya, meninggalkan aku yang hanya bisa mengekor dengan perasaan kacau. Di dalam mobil, suasananya jauh lebih mencekam. Tidak ada suara musik, hanya dentuman lembut mesin yang terasa semakin menekan ruang sempit itu. Tanganku bergetar di pangkuan, jemariku saling menggenggam erat. Aku menoleh sekilas ke arahnya. Profil wajahnya terlihat tegas dalam remang lampu jalan. Rahangnya masih mengeras, urat di pelipisnya menegang. Ia menyetir dengan fokus penuh, tapi aura tegang itu jelas menguar dari tubuhnya. Aku ingin membuka percakapan, tapi lidahku kelu. Hening di antara kami terasa lebih keras dari pada suara apa pun. Lalu, tiba-tiba suaranya pecah. Dingin, tapi penuh tekanan. “Kamu punya hubungan dengan laki-laki tadi?” Aku terlonjak kecil, menatapnya kaget. “Maksud Bap—eh, maksud Mas… Revan?” Ia tidak menjawab. Tatapannya lurus ke jalan, kedua tangannya mencengkeram erat setir, buku-buku jarinya memutih. “Dia cuma teman,” ucapku gugup. “Nggak lebih—” Ucapanku terhenti karena ia mendadak memotong kalimatku. “Saya memang mengatakan pernikahan kita bukan pernikahan normal. Tapi itu tidak membuat kamu bebas jadi wanita murahan yang bisa disentuh seenaknya oleh laki-laki lain, Senjani.” Seketika tubuhku membeku. Kata-katanya menghantam dadaku keras, begitu tajam hingga membuat napasku tercekat. Datar, tanpa intonasi marah yang meledak, tapi justru karena itulah lebih menusuk. Mataku panas. Air mata nyaris jatuh, tapi aku buru-buru menunduk, menahannya. Aku ingin membantah, ingin menjelaskan… tapi suaraku tak keluar. Semua hanya berputar di kepalaku: rasa sakit, rasa marah, dan rasa tak adil yang bercampur menjadi satu. Aku menggenggam celanaku erat-erat, berusaha menenangkan degup jantungku yang kacau. Apa salahku? Kenapa aku selalu salah di matanya? Di balik kaca mobil yang buram oleh pantulan lampu jalan, bayangan diriku tampak kecil dan rapuh. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Kali ini aku tidak bisa hanya diam. “Pak…” suaraku bergetar. “Saya bukan wanita murahan. Dan Revan cuma teman. Nggak lebih.” Suasana hening kembali. Althaf tidak segera merespons. Namun aku bisa melihat dari sudut mataku—rahangnya semakin menegang, dan sorot matanya yang dingin itu sekilas tampak goyah, seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.Kami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen
Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia
Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal
Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka
Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m
Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da
Oma menggenggam kedua tanganku erat, hangatnya seolah merambat langsung ke dadaku. Tatapan matanya menembus, lembut tapi sarat dengan harap.“Tolong… sayangi Althaf, ya, Senja.” suaranya bergetar, lirih, seakan setiap kata keluar dari lubuk hati paling dalam. “Sayangi dia… bimbing dia. Di balik sik
Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak
Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata
Setelah tiga bulan menjalani pernikahan bersama Althaf, ternyata benar seperti yang dikatakan Mbok Mirna, Althaf memang jarang sekali pulang ke rumah. Biasanya hanya dua minggu sekali, bahkan kadang sampai tiga minggu baru sekali pulang. Itupun hanya sebentar, langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa







