Share

BAB 10

Author: Mikaelach09
last update publish date: 2026-04-29 19:11:51

Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.

Awalnya aku benar-benar kaget. Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Revan, sahabat yang sudah mengenalku sejak masa putih abu, ternyata menyimpan rasa yang lebih. Bagiku, Revan adalah rumah. Anak yang baik—terlalu baik, bahkan. Ia tahu cara membuat orang lain merasa aman. Kadang aku berpikir, dia lebih mengenalku daripada diriku sendiri.

Sejak SMA, kedekatan kami begitu alami. Ia sering mampir ke rumah, kadang hanya untuk sekadar menumpang makan malam. Katanya, ia tak terbiasa makan sendirian di rumah. Aku tahu alasannya: orang tua Revan sering bepergian ke luar kota karena pekerjaan. Ibu bahkan sudah menganggap Revan seperti anaknya sendiri. Tak ada jarak di antara mereka; tak ada kecanggungan. Dan aku pun merasa nyaman dengan kehadirannya.

Karena itulah, saat Revan pertama kali menyatakan perasaannya, aku hanya bisa tersenyum hambar. Aku menganggapnya sebagai candaan, sesuatu yang tak perlu ditanggapi serius. Aku tak ingin hubungan kami rusak hanya karena persoalan hati.

Namun ternyata aku salah. Sampai detik ini, Revan masih sering mengulang ucapannya, masih sering menunjukkan bahwa perasaannya padaku bukan sekadar main-main.

Jujur, aku pun pernah menyimpan rasa pada Revan. Ada sedikit perasaan yang kusimpan sejak SMA dulu—rasa hangat yang sering muncul tanpa diundang. Pernah terlintas keinginan untuk menerimanya, untuk membiarkan diriku jatuh ke dalam pelukan yang nyaman itu.

Tapi kemudian realitas menamparku. Kehidupan kami terlalu berbeda. Revan datang dari keluarga yang mapan, berpendidikan, dan serba berkecukupan. Sedangkan aku… aku hanya Senja, anak dari keluarga sederhana yang berjuang keras demi kelangsungan hidup.

Aku memilih mengesampingkan perasaan itu. Bagiku, cinta terasa remeh dibandingkan dengan jurang perbedaan yang membentang di antara kami. Dan lagi… aku selalu merasa Revan terlalu baik untukku. Terlalu lembut, terlalu tulus. Dia pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik, bukan seseorang sepertiku yang penuh luka dan kebimbangan.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku salah karena menolak Revan? Ataukah aku justru egois, karena masih menyisakan ruang untuknya dalam hatiku dan seperti memberikan harapan palsu padanya.

Saat aku terdiam, tenggelam dalam pusaran pikiranku sendiri, tiba-tiba suara Layla memecah keheningan yang menyesakkan.

“Eh, Bu… sebenarnya Revan nontonnya bareng saya juga kok. Kami kan mau ngerjain tugas Film Analysis dari Ibu.” Layla berusaha terdengar ceria, meski senyumnya tampak dipaksakan. “Kebetulan malam ini Senja lagi luang. Biasanya sih susah banget diajak keluar, kayak punya suami aja yang harus diurus. Ya kan, Van?”

Layla melirik Revan sambil menyikut pelan lengannya. Revan hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk singkat tanpa menambahkan sepatah kata pun.

Keheningan kembali menjerat. Aku bisa merasakan pandangan Althaf, tapi aku memilih untuk tidak menoleh, takut jika matanya benar-benar menusuk ke dalam hatiku.

Dan tepat saat itu—kring—bunyi lonceng pintu kafe berdenting. Seorang pelanggan masuk. Rasanya seperti pertolongan dari semesta.

“Maaf, saya harus melayani pelanggan.” Suaraku lirih, tergesa, dan tanpa menoleh sedikit pun pada Althaf, aku segera berdiri dan melangkah pergi, seolah hanya dengan begitu aku bisa terbebas dari jerat kecanggungan yang menyesakkan dada.

Aku berjalan cepat menuju meja kasir, berusaha menata napas yang tersengal. Tanganku gemetar saat merapikan struk dan menyalakan mesin kasir, padahal pelanggan baru saja memesan minuman sederhana.

“Hazelnut latte satu ya, Mbak.”

“Ba… baik, Kak.” Suaraku bergetar, hampir tercekat.

Pelanggan itu tersenyum ramah, tapi aku hanya membalas seadanya. Pandanganku kabur, bukan karena lelah, tapi karena kepalaku penuh dengan ribuan pikiran yang saling berdesakan.

Aku bisa merasakan—di belakang sana—tawa kecil Layla, suara lembut Bu Yuanita, dan entah tatapan seperti apa yang sedang Althaf arahkan padaku. Rasanya dadaku sesak, seakan aku terperangkap di dalam ruangan yang terlalu sempit.

Revan… kenapa kamu harus bicara seperti itu di depan mereka? Aku menggigit bibir, menahan rasa panas di sudut mataku. Perkataan Revan tadi masih terngiang jelas, membuatku makin sulit bernafas.

Aku ingin berteriak. Ingin lari keluar kafe, menghirup udara malam, dan melupakan semuanya. Tapi yang bisa kulakukan hanya pura-pura sibuk, mengaduk pesanan pelanggan, menata kue kering di etalase, dan tersenyum tipis seolah semuanya baik-baik saja.

Namun sesungguhnya, hatiku sedang runtuh perlahan.

Dari balik meja kasir, aku berusaha menyibukkan diri. Gelas-gelas kubersihkan, kue-kue kering kubenahi, bahkan tumpukan sedotan plastik pun kuberi perhatian berlebih hanya agar tanganku tidak berhenti bergerak. Tapi mataku… selalu berkhianat. Sesekali, aku menangkap bayangan Althaf di sudut kafe.

Dia duduk berhadapan dengan Bu Yuanita, namun tatapannya tidak pernah benar-benar menetap pada wanita itu. Ada jeda—seperti celah kecil—di mana aku merasakan mata Althaf menyentuhku. Sekilas, cepat, lalu berpura-pura sibuk kembali menunduk pada minumannya.

Aku buru-buru menunduk, pura-pura membaca struk pesanan. Tapi detak jantungku tak bisa kubohongi. Panas menjalar ke wajahku, sementara perasaan aneh membelit erat dadaku.

Kenapa dia melihatku seperti itu? tanyaku dalam hati. Seakan ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi terhalang oleh sekat yang kami ciptakan sendiri.

“Senja, pesanan latte sudah jadi?” suara barista lain membuatku tersentak.

“Oh, iya! Ini, sudah.” Aku mengangkat gelas dengan tangan bergetar, menyerahkannya ke pelanggan dengan senyum dipaksakan.

Saat kembali ke meja kasir, aku menahan napas. Dari ujung mata, aku bisa melihat Althaf masih di sana. Tangannya memegang cangkir, tapi matanya—lagi, matanya itu—seperti menarikku paksa untuk menoleh.

Aku tidak tahan. Aku membalikkan tubuh, berpura-pura sibuk mengambil kain lap dan berjalan ke meja pelanggan lain. Apa pun, asal tidak perlu terjebak dalam tatapan itu lebih lama.

Namun, satu hal pasti… aku tahu benar, aku bukan satu-satunya yang gelisah malam ini.

***

Tepat pukul 11.30 malam aku tiba di rumah dengan motor maticku. Kami pulang terlambat karena Layla tiba-tiba memintaku menemaninya berbelanja beberapa pakaian. Begitu sampai di halaman, mataku langsung tertuju pada sebuah mobil mewah yang terparkir di garasi. Mobil Althaf.

Aku tertegun sejenak. Kenapa dia pulang malam ini? Biasanya, Althaf hanya pulang ke rumah di akhir pekan. Hari ini hari Kamis. Dadaku mendadak terasa sesak oleh perasaan aneh yang sulit kujelaskan.

Berusaha menyingkirkan pikiranku yang kalut, aku melangkah masuk. Rumah sudah sepi. Lampu di ruang tamu dan koridor sebagian besar padam. Sepertinya Mbok Mirna dan para pekerja sudah tidur. Aku berniat langsung ke kamar, tapi rasa haus membuatku mengubah langkah menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.

Namun, langkahku terhenti. Di ujung meja makan besar, Althaf duduk sendirian. Cahaya lampu dapur yang temaram menyoroti wajahnya yang muram. Di tangannya ada sebuah gelas, cairan berwarna keemasan berputar di dalamnya, mengeluarkan aroma menyengat. Alkohol.

Deg.

“Mas Althaf…” suaraku tercekat.

Tanpa menatapku, ia meletakkan gelas itu dengan keras, lalu menegakkan tubuhnya. “Oh… jadi kalau saya nggak ada di rumah, kamu selalu pulang selarut ini, ya, Senjani?” Suaranya terdengar ketus, namun ada sesuatu yang lain—sebuah tatapan sendu yang membuatku tak bisa mengalihkan pandangan.

Ia bangkit, melangkah perlahan ke arahku. Hanya berjarak satu langkah, aku bisa merasakan aroma alkohol yang pekat menusuk hidungku.

“Mas… minum?” tanyaku lirih, hampir berbisik.

Althaf tidak menjawab pertanyaanku. Ia justru menatapku tajam. “Kamu habis dari mana? Sama laki-laki itu?”

Jantungku berdegup kencang. “Mas… saya, Revan, dan Layla cuma nonton film. Nggak ada yang lain. Sungguh.” Aku mencoba menahan tatapannya, meski suara lirihku terdengar bergetar.

Althaf mendecih, bibirnya menyunggingkan senyum miring penuh sinis. “Murahan tetap murahan. Apa uang bulanan dari saya nggak cukup, Senjani? Sampai kamu tega menggoda laki-laki lain… bahkan di depan mata saya sendiri.” Suaranya meninggi, menusuk telingaku seperti cambuk.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Mas, saya nggak pernah menggoda Revan. Kami hanya murni berteman,” bisikku dengan suara pecah.

Tiba-tiba Althaf menarikku kasar. Tangannya melingkari pinggangku erat, membuat tubuhku menempel pada dadanya yang bidang. Nafasnya yang bercampur aroma alkohol terasa begitu dekat, begitu menyesakkan.

“Teman, kamu bilang?” desisnya. “Teman nggak akan berani menyentuh kamu dengan bebas, Senjani.” Wajahnya semakin mendekat, jarak kami hanya sejengkal.

Aku menelan ludah, panik bercampur takut. “Mas… Mas lagi mabuk. Kalau memang mau bicara soal Revan, lebih baik besok saja. Saat Mas dalam keadaan lebih tenang dan lebih  normal.” Suaraku bergetar, tanganku mendorong dadanya lemah. “Tolong… lepaskan saya, Mas.”

Althaf mendecih lagi, cengkeramannya semakin menguat. “Jadi menurut kamu saya nggak normal? Hanya dia yang normal? Hanya dia yang pantas?”

“Bukan begitu, Mas. Saya cuma—” ucapanku terputus.

Tanpa peringatan, bibir Althaf menekan bibirku. Aku terkejut. Mataku membelalak, tubuhku menegang. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak ada kasih sayang. Hanya ada desakan yang kasar, penuh amarah, seolah ia ingin menghukumku dengan caranya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 78

    Kami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 77

    Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 76

    Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 75

    Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 4

    Aku masih bisa merasakan gemetar di kakiku ketika duduk di sofa ruang Althaf. Nafasku terengah, wajahku pucat, sementara bayangan pria-pria tadi masih menari di kepalaku. Jaketku basah, kemejaku kusut, tapi lebih dari itu... hatiku terasa campur aduk-antara takut, marah, dan malu.Althaf menutup pi

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 2

    Suara benturan keras memecah sunyi, disusul suara perabot terjatuh. Aku terperanjat dari tidur lelapku. Jantungku berdegup liar, napasku tercekat.“Ibu…” gumamku panik.Tanpa pikir panjang, aku menyingkap selimut dan melompat dari ranjang. Kaki telanjangku menghantam lantai dingin saat aku berlari

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 1

    "Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena per

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 3

    Namaku Sekar Senjani Paramitha. Usiaku dua puluh empat tahun– Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta—seharusnya tahun ini aku sudah menyandang gelar sarjana, jika saja setahun lalu aku tidak memilih berhenti sementara demi merawat Ibu yang sakit.Beberapa minggu terakhir, hidup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status