Share

A DEAL WITH COLD PROFESSOR
A DEAL WITH COLD PROFESSOR
Author: Mikaelach09

BAB 1

Author: Mikaelach09
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-28 22:53:32

"Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."

Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena perak, dan secangkir kopi yang asapnya sudah mulai menghilang. Lampu meja memantulkan cahaya hangat ke wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat semakin tegas.

Beliau — dosen yang terkenal dingin, misterius, dan jarang berbicara — diam-diam menjadi favorit di kampus karena ketampanannya yang membius kaum hawa. Dan kini, pria itu menatapku dengan sorot mata yang sulit kutebak, seolah ingin membaca pikiranku... atau mungkin, masa depanku.

Aku menelan ludah, mencoba memastikan telingaku tidak salah menangkap. "Ma—maaf, Pak?" suaraku terdengar ragu, bahkan di telingaku sendiri.

Althaf menyandarkan punggungnya pada kursi, menyilangkan jari-jarinya di atas meja. "Saya serius, Senjani," katanya tenang, seakan yang baru saja ia ucapkan bukanlah sesuatu yang mampu mengguncang dunia seorang mahasiswi biasa sepertiku.

Aku ingin tertawa, atau mungkin marah. Tapi yang keluar justru hanya tatapan kosong. Otakku bekerja keras mencari penjelasan... karena jelas, ini bukan pembicaraan yang wajar antara dosen dan mahasiswinya.

"Mungkin ini terdengar mengejutkan untukmu, Senjani. Tapi saya serius dengan apa yang saya katakan." Suaranya tenang, namun penuh keyakinan. "Saya tahu kamu sedang kesulitan finansial. Ibumu sakit dan membutuhkan biaya besar untuk perawatan di rumah sakit. Pekerjaan sambilan yang kamu jalani tidak cukup untuk menopang hidupmu dan keluargamu. Karena itu, saya menawarkan kesepakatan pernikahan ini padamu."

Aku memberanikan diri menatap matanya. Sorot tajam itu sama sekali tidak menyiratkan keraguan.

"Maaf, Pak... saya masih belum mengerti dengan jelas. Maksud Bapak, saya dan Bapak... menikah?" tanyaku, suaraku hampir bergetar.

"Benar, Senjani," Suaranya tenang, nyaris tanpa jeda, seolah kata-kata itu sudah lama mengendap di benaknya. "Saya ingin mengajak kamu menikah. Ini akan menjadi win-win solution untuk kita berdua. Saya sedang mencari calon istri... dan kamu sedang berada di jurang kesulitan finansial."

Kata-katanya jatuh di telingaku seperti batu ke permukaan air—menciptakan riak yang lama tenggelam, tapi menyisakan getar di dadaku. Pernikahan? Dengan dosenku sendiri? Rasanya absurd.

"Tapi... Pak—" suaraku terputus, bukan karena tak ingin bicara, tapi karena lidahku kelu, tak tahu harus memulai dari mana.

"Saya beri kamu waktu satu minggu untuk berpikir, Senjani." Nada bicaranya seperti keputusan final yang sulit untuk dibantah, "Saya akan memberimu uang bulanan dan mahar pernikahan. Uang itu bisa kamu gunakan untuk melunasi hutang ayahmu... dan untuk biaya pengobatan ibumu."

Hatiku terasa diremas. Kata-kata itu menyentuh titik paling rapuh dalam hidupku. Ayah... Ibu... wajah mereka berkelebat di kepalaku. Tangan Ibu yang lemah di ranjang rumah sakit. Tatapan kosong Ayah yang semakin hari semakin larut dalam kebiasaan buruknya.

Tatapan Althaf datar, nyaris tanpa emosi. Seolah yang ia ucapkan bukan tawaran yang akan mengubah seluruh hidupku, melainkan hal remeh seperti mengucapkan selamat pagi.

Nafasku terasa sesak. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantung yang menggila. Namun saat kubuka lagi, tatapannya masih menembusku—mata setenang dan sedalam danau di senja hari. Indah, tapi bisa menenggelamkan siapa saja yang berani mendekat.

"Kamu boleh keluar, Senjani" ucapnya menyadarkanku dari lamunanku.

"Baik, Pak... saya permisi." balaskuku lirih, nyaris tak terdengar.

Langkahku cepat meninggalkan ruangan itu. Setiap langkah terasa seperti menjauh dari satu bencana, tapi juga entah mendekati bencana yang lain. Aroma kopi pahit yang sejak tadi memenuhi ruangan kini menempel di hidungku, mengganggu, membuatku ingin segera menghirup udara luar.

Begitu pintu tertutup, aku menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari jebakan yang tak terlihat.

Layla sudah menunggu di luar, berdiri sambil menatapku penuh tanya.

"Sudah selesai, Sen? Ada masalah apa sampai lo dipanggil dosen kesayangan gue itu? Jangan-jangan gara-gara lo bolos mata kuliah dia kemarin?" suaranya setengah bercanda, setengah khawatir. Ia menyesuaikan langkahnya mengikuti langkahku yang terburu-buru menuju lift.

Aku memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan badai yang masih mengamuk di kepalaku. "Bener. Pak Althaf nyuruh gue ngumpulin tugas minggu ini juga," jawabku datar. Mana mungkin aku menceritakan tawaran gila yang baru saja ia lontarkan? Mana mungkin aku membiarkan orang lain ikut menilai dilema yang bahkan aku sendiri tak sanggup menilainya?

"Gila... yaudah, hari ini kita mulai observasi ke lapangan aja. Lo, kan, jurnalistik—kena bagian wawancara siapa?"

"Wawancara dosen," jawabku pendek, tanpa minat.

"Yaudah aman. Besok gue temenin nyusun naskah dan wawancaranya. Sekarang kita makan dulu. Gue lapar!" seru Layla sambil meraih lenganku.

Aku hanya membiarkan dia menarikku menuju kafetaria, sementara pikiranku masih tertinggal di ruangan itu. Di antara tatapan datar dan kata-kata dingin seorang Althaf Arsakha Dirgantara—yang entah sejak kapan mulai terasa seperti undangan... sekaligus ancaman.

***

Malam merayap masuk perlahan, menelan sisa cahaya di jendela kamarku. Lampu meja belajar menyala redup, menyisakanlingkar cahaya hangat di antara buku-buku dan kertas berserakan. Di luar, suara hujan tipis mengetuk-ngetuk kaca, seperti irama tak sabar yang mengiringi pikiranku.

Aku duduk di tepi ranjang, lutut tertekuk, kedua tangan meremas struk obat Ibu yang harus segara aku tebus. Sejak meninggalkan ruangan Pak Althaf tadi, kata-katanya berulang-ulang memutar di kepalaku. Saya ingin mengajak kamu menikah... saya akan memberimu uang bulanan... mahar pernikahan... untuk membebaskan ayahmu... biaya pengobatan ibumu...

Napas berat lolos dari dadaku. Bagaimana mungkin satu orang bisa meletakkan beban sebesar ini hanya dengan beberapa kalimat?

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dalam gelap yang tercipta, aku bisa melihat bayangan Ayah duduk di teras rumah, matanya merah, tangannya gemetar memegang gelas minuman murahan. Lalu wajah Ibu—pucat, lemah, dengan selang infus menusuk punggung tangannya. Dua orang yang begitu kucintai, yang nasibnya kini seperti boneka di tangan takdir.

Dan di tengah semua itu... ada Althaf. Dosen yang selama ini hanya kukenal lewat tatapan tenangnya di kelas, yang kini tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang mampu mengubah seluruh arah hidupku. Bukan dengan cinta, bukan dengan janji manis... tapi dengan sebuah tawaran yang rasanya seperti pintu keluar dari labirin gelap. Pintu keluar... yang mungkin sekaligus pintu masuk menuju penjara baru.

Kupandangi langit malam di luar jendela. Lampu-lampu kota berkedip, seperti mata-mata asing yang mengawasi. Aku bertanya-tanya—apakah benar semua orang punya pilihan dalam hidupnya, atau sebagian dari kita hanya diberi ilusi untuk memilih?

Hujan mulai deras. Dan di sela suara air yang menabrak atap, aku mendengar suaraku sendiri—lirih, nyaris tak terdengar—bertanya pada malam, Apakah aku harus menerimanya?

Tiga ketukan pelan menyentuh pintu kamarku—seperti hujan pertama yang menyapa kaca, ragu namun tetap jatuh. Sunyi mengikutinya, lalu pintu terbuka perlahan.

Ibu berdiri di sana, siluetnya dilatari cahaya lampu lorong. Di tangannya, sepiring nasi goreng mengepulkan uap, mengirim aroma bawang putih dan kecap manis yang merayap ke sudut-sudut hatiku, membangunkan kenangan masa kecil yang entah kenapa terasa asing.

Aku menghapus sisa air mata dengan gerakan gugup, tapi Ibu selalu punya cara membaca wajahku—seperti membaca buku yang sudah dihafalnya puluhan kali.

"Kamu dari tadi Ibu panggil... kok diam saja, Nak?" suaranya lembut, tapi di baliknya ada gurat cemas yang sulit disembunyikan. "Ibu udah siapkan nasi goreng buat makan malam. Ayah sama Ibu udah selesai makan."

Ia meletakkan piring itu di meja belajarku yang reot—meja yang pernah menjadi saksi tawa kecilku, kini hanya menopang beban kertas dan sunyi. Tangannya, hangat dan penuh bekas kerja, mengusap puncak kepalaku.

Aku bersandar di bahunya—bahu yang kurus, namun selalu seperti tembok terakhir saat semua runtuh.

"Ibu..." suaraku pecah menjadi serpihan. "Ayah sering nyakitin Ibu... tapi kenapa Ibu masih saja melayaninya? Walau... walau nggak pernah dihargai."

Aku menatap matanya—mata yang memeluk luka, namun tak pernah menyerah. Jemariku menyusuri garis-garis di wajahnya, seperti membaca peta hidup yang jalannya penuh tikungan tajam.

Ibu tersenyum tipis. Senyum itu seperti malam yang dingin—tenang di luar, membeku di dalam. "Nak... bagaimanapun juga, dia tetap suami Ibu. Dia imam Ibu... surga Ibu ada padanya. Ibu yang memilih dia. Jadi, seburuk apa pun sifatnya... Ibu harus menerimanya."

Ia berhenti, menatapku lama, seolah ingin menyalakan kata-kata ini di dadaku agar tak pernah padam. "Ingat, Nak... seburuk apa pun bapakmu, dia tetap bapakmu. Tetap suami Ibu. Itu pilihan Ibu... dan setiap pilihan punya harga yang harus dibayar, meski dengan hati sendiri."

Kata-kata itu jatuh di hatiku seperti hujan deras di tanah retak—menyentuh, tapi juga membuat retakan semakin melebar. Suara Ibu berbaur dengan gema suara Pak Althaf dari siang tadi. Apa aku juga akan berjalan di jalan yang sama? Menikah bukan karena cinta, tapi karena pasrah pada takdir yang disodorkan? Bagaimana kalau aku pun kelak tersenyum sambil menyembunyikan perih, menelan malam demi malam tanpa suara?

Aku menatap nasi goreng di meja—nasi sederhana, lahir dari tangan yang mencintai tanpa syarat, di rumah yang diam-diam menyimpan badai. Dan di sana, aku tiba-tiba takut... takut pada masa depan, takut pada wajah anakku kelak yang mungkin menatapku dengan mata yang sama sayunya seperti mata Ibu malam ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 78

    Kami duduk berhadapan. Aku menyendokkan Nasi Jeruk ke piring Althaf—butiran nasinya masih harum dan berkilauan—kemudian aku memberinya porsi besar Ayam Betutu kuah. Daging ayam yang empuk dan kuah pedasnya tampak menggugah selera.“Mas, selamat makan,” kataku tulus.“Selamat makan, Sayang,” balas Althaf, ia meraih tanganku dan mengecup punggungnya sebelum mulai menyantap. “Terima kasih banyak, ini comfort food yang paling saya rindukan setelah seharian diluar rumah.”Althaf mulai menikmati hidangannya dengan lahap. Aku memperhatikannya, melihat bagaimana raut tegang di wajahnya perlahan luntur seiring setiap suapan yang ia nikmati. Ini adalah momen intim kami, fondasi yang ku coba pertahankan mati-matian dari guncangan Theresa Adrianna.Aku tahu, meskipun suasana sudah nyaman, aku harus bertanya. Jika aku menunda lagi, bayangan Theresa yang anggun di layar TV—sang Top Model yang sempurna—akan kembali menghantuiku. Aku tidak mau membiarkan rasa pen

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 77

    Aku duduk di meja makan, menatap hidangan yang telah aku masak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di dapur, menuangkan semua energi cemas dan rasa insecurity terhadap Theresa menjadi hidangan yang hangat. Di hadapanku, tersaji Ayam Betutu Kuah yang aromanya menggiur kan, kaya akan wangi rempah, jahe, dan kunyit—rasanya pasti pedas dan hangat. Ayam utuh itu dimasak perlahan hingga dagingnya begitu lembut. Hidangan utama itu ditemani semangkuk besar Nasi Jeruk yang harum, butiran nasinya pulen dan berkilau. Sebagai pelengkap, ada Tumis Bunga Pepaya yang sengaja kutambahkan teri medan agar rasanya seimbang, tidak terlalu pahit.Semua tertata rapi di atas piring-piring keramik yang baru kami beli. Aku menatapnya dengan tatapan bangga. Aku mengambil ponselku, membuka kamera, dan memotret makanan di meja makan itu dari sudut terbaik, memastikan plating yang rapi dan uap tipis yang masih mengepul terlihat jelas.aku mengirimkan foto itu pada Althaf.[Sent to : Mas Althaf]Makanan sudah sia

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 76

    Di layar itu, terpampang jelas akun Instagram dengan ikon centang biru dan followers yang mencapai jutaan. Feed-nya menampilkan foto-foto Theresa Adrianna dalam balutan gaun haute couture di berbagai fashion week Eropa. Sosok wanita itu tampak sangat cantik, elegan, dan memancarkan aura jet-setter yang profesional dan mahal. Wajah Theresa benar-benar tanpa cela: mata tajam, tulang pipi tinggi, kulit porselen yang memancarkan aura dingin, dan sorot mata yang penuh percaya diri—sebuah kecantikan yang terasa matang, elit, dan sangat mahal.“Iya, Lay. Ini dia. Wajahnya sama persis,” bisikku, lidahku terasa kelu. “Dia... dia jauh lebih cantik dari yang gue bayangkan dari foto profil kecil itu.”Fakta bahwa Theresa adalah Top Model yang menetap di Milan dan tidak pernah kembali ke Indonesia, namun kini menghubungi Althaf secara urgent di hari Minggu, membuat situasiku terasa mencekik. Konflik ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan lebih pribadi daripada sekadar masal

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 75

    Aku duduk meringkuk di sofa ruang TV apartemen. Udara terasa dingin, meskipun di luar cerah. Aku baru saja mematikan televisi, tak ada satu pun suara berita di sana yang bisa menenggelamkan riuh di kepalaku. Baru beberapa jam yang lalu, aku terbangun dalam pelukan Althaf yang begitu hangat; kini, yang tersisa hanyalah kekosongan dan kehampaan.Althaf sudah pergi. Ia pergi begitu cepat, tergesa-gesa mengganti baju training-nya dengan kemeja formal, setelah menerima telepon yang tidak ia sebutkan namanya. Tentu saja, aku tahu siapa yang membuat rahangnya menegang dan membuatnya buru-buru menghilang: Theresa Adrianna.Nama itu mendadak menjadi racun yang menyebar di nadiku. Setelah semua janji, semua keintiman yang kami bagi semalam—pengakuan cinta, belanja groceries bersama, tidur berdua, dan janji lari pagi sebagai fondasi pernikahan kami—kenapa ia memilih pergi mendadak dengan raut wajah tegang saat nama wanita lain muncul?Aku bangkit, berjalan gelisah menuju dapur. Aku membuka kulka

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 74

    Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 73

    Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 10

    Revan pernah mengatakan bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadapku. Itu terjadi tepat di awal semester perkuliahan, di sebuah sore yang biasa, ketika aku sama sekali tidak menduganya. Aku masih ingat jelas ekspresinya saat itu—tulus, hangat, dan penuh keyakinan.Awalnya aku benar-benar kaget. Tak

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 9

    Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 8

    Setelah tiga bulan menjalani pernikahan bersama Althaf, ternyata benar seperti yang dikatakan Mbok Mirna, Althaf memang jarang sekali pulang ke rumah. Biasanya hanya dua minggu sekali, bahkan kadang sampai tiga minggu baru sekali pulang. Itupun hanya sebentar, langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa

  • A DEAL WITH COLD PROFESSOR   BAB 7

    “Eh, gue denger kabar… Pak Althaf udah nikah.”Ucapan Revan terdengar begitu ringan, tapi bagiku seperti palu besar yang menghantam dadaku.Sendok di tanganku berhenti di udara. Mataku refleks melebar, napasku tercekat. Sejenak, suara di sekitar kafetaria seakan lenyap, hanya degup jantungku yang t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status