LOGINCHAPTER 44
Dylan, yang baru saja mengangkat gelas kristalnya untuk meneguk minuman, mendadak berhenti di tengah gerakan. Gelas itu tertahan hanya beberapa senti di depan bibirnya, sementara matanya terkunci pada sosok yang baru saja membelah kerumunan. Di sampingnya, Cloud, Dre, Tom, dan Axl serentak terdiam. Candaan kasar dan tawa sombong yang baru saja mereka lontarkan lenyap ditelan udara dingin.Mereka benar-benar terpaku, seolah-olah baru saja melihat sebuah keajaiban yangCHAPTER 108Kai tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Summer yang kini berdiri di sisi Dylan sambil menggenggam lengan pria itu. Namun sesuatu telah berubah. Gadis yang selama bertahun-tahun selalu menundukkan kepala di hadapannya kini balas menatap tanpa lagi berusaha menghindar. Summer tidak lagi bersembunyi darinya.Pandangan Kai kemudian menyapu halaman Royal Crest Academy, mulai dari mobil-mobil hitam yang terus berdatangan, para pria berpakaian hitam yang telah membentuk beberapa lapis pengamanan, hingga kilatan cahaya di atap gedung utama yang langsung dikenalnya sebagai posisi para penembak.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya kembali berhenti pada Dylan yang tetap berdiri di sisi Summer tanpa sedikit pun bergeser. Dylan ternyata telah mempersiapkan semuanya jauh lebih matang daripada yang ia perkirakan.Hari ini ia hanya datang dengan beberapa pengawal, sementara Dylan telah mengubah seluruh sekolah menjadi benteng.
CHAPTER 107“…Kai Akazakura.”Dylan seketika berdiri dari kursinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya refleks merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponsel.Begitu layar menyala, sorot matanya berubah saat melihat sembilan panggilan tak terjawab dari Ethan beserta pesan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.💬 Ethan: Tuan muda. Kai Akazakura menuju Royal Crest Academy. Saya tidak bisa menyusulnya secepat itu. Jalanan menuju sekolah macet. Beberapa tim kehilangan arah setelah target memecah jalur pengawasan. Maaf.“…Jadi begitu.” Dylan mengembuskan napas kasar. Kai tidak pernah menghilang. Pria itu sengaja memecah perhatian seluruh tim Ethan agar bisa datang ke Royal Crest tanpa ada yang menyadarinya.“Dy.” Cloud yang berdiri di sampingnya ikut melihat perubahan ekspresi Dylan.“Dia tidak boleh ada di sini.”Cloud mengernyit. “Lo kenal dia?”Dylan mengangkat pandangannya ke arah Summer yang masih membeku di atas panggung. “Masalah
CHAPTER 106Senin pagi.Cahaya matahari yang masuk dari balik jendela memenuhi kamar asrama Dylan. Ia berdiri di depan meja kerja sambil membuka laci paling bawah, lalu mengangkat sebuah kotak beludru hitam.Saat tutupnya terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin perak kecil.Tatapan Dylan melembut. Kalung itu sudah ia siapkan beberapa waktu lalu sebagai hadiah kelulusan untuk Summer. Dan hari ini, akhirnya tiba juga saat yang ia tunggu untuk memberikannya.“Bagus.” Suara Cloud membuat Dylan menoleh. Pria itu bersandar santai di dekat pintu sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Dia pasti suka.”Dylan kembali memandang kalung itu beberapa saat, lalu menutup kotaknya perlahan. “Cloud.”“Hm?”“Ada yang belum gue omongin sama lo.”Cloud mengangkat sebelah alis, menyadari nada bicara Dylan kali ini jauh lebih serius daripada biasanya. “Apa?”“Gue tahu… lo pernah suka sama Summer.”Cloud terdiam mendenga
CHAPTER 105Saat bel panjang akhirnya berbunyi, ruang ujian yang semula sunyi seketika berubah riuh. Beberapa siswa langsung menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengembuskan napas lega, sementara yang lain tertawa dan saling melempar candaan begitu para pengawas mulai mengumpulkan lembar jawaban terakhir.Summer menyerahkan kertas ujiannya, merapikan alat tulis ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa yang mulai meninggalkan ruang kelas. Begitu tiba di koridor, Emma yang sejak tadi berada di sampingnya tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke udara.“Aku resmi bebas!”Summer tersenyum geli. “Baru selesai ujian, sudah merasa jadi orang baru?”“Jelas.” Emma merentangkan kedua lengannya sambil berjalan di samping Summer. “Lima hari berturut-turut bangun pagi, belajar, ujian, pulang, belajar lagi. Aku hampir lupa rasanya hidup.”“Kamu memang berlebihan.”“Aku serius.” Emma menepuk dadanya dramatis. “Mulai malam ini aku nggak mau lihat buku sat
CHAPTER 104Pukul sepuluh malam berlalu tanpa ada satu pun keputusan yang berubah. Daigo tetap memilih mempertahankan Seo Kang Jin, yakin Takeshi tidak akan menepati ancamannya.Namun keyakinan itu runtuh ketika puluhan kendaraan berhenti di sekitar kediaman Akazakura menjelang tengah malam. Malam itu keluarga Ryu datang membawa Seo Kang Jin keluar dan meninggalkan Daigo dengan kehilangan yang jauh lebih berharga daripada uang.Kepercayaannya.Beberapa jam kemudian, serangkaian laporan anonim mulai tiba di meja pemerintah dan aparat penegak hukum. Dokumen-dokumen itu memuat catatan transaksi ilegal, pemerasan, penyelundupan, hingga berbagai aktivitas yang selama bertahun-tahun disembunyikan keluarga Akazakura.Tidak ada satu pun laporan yang mencantumkan nama keluarga Ryu, tetapi semua orang tahu dari mana informasi itu berasal.Dalam hitungan hari, nama Daigo Akazakura menjadi sorotan di seluruh Jepang. Para mitra bisnis mulai menarik diri, orang-orang
CHAPTER 103Beberapa pengawal mengikuti dari belakang saat Kai memasuki lobi hotel. Tidak ada seorang pun yang berani membuka suara hingga mereka masuk ke lift pribadi dan pintunya tertutup rapat.Salah satu pria di belakangnya akhirnya memberanikan diri bertanya, “Tuan, apa rencana kita selanjutnya?”Kai tetap memandangi angka lantai yang terus bergerak naik. “Aku ingin menikmati waktuku sebentar.”Pria itu mengangguk pelan. “Kalau begitu… haruskah saya menjemput Nona Summer?”Suasana di dalam lift seketika berubah sunyi saat Kai mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Tatapannya tidak berubah sedikit pun, tetapi pria tersebut langsung memucat dan menundukkan kepala.“Apa kau ingin mati?” tanyanya tenang.Dalam hitungan detik pria itu menjatuhkan diri berlutut. “Maafkan saya, Tuan.”Tidak ada yang berani bergerak ataupun mengangkat kepala. Kai mengalihkan pandangannya ke depan lalu berkata dengan tenang, “Selama aku masih diam, tidak ada yang
CHAPTER 19Di luar Studio C, lorong tetap terjebak dalam kesunyian yang statis. Namun, koridor itu tidak sepenuhnya kosong. Dylan berdiri mematung di ujung lorong, tepat di balik sudut bayangan pilar. Posisinya strategis—tak terlihat dari arah pintu studio, namun cukup dekat untuk menangkap setiap
CHAPTER 18Cloud berdiri di sana, keraguan nampak jelas di wajah tampannya yang biasanya cerah. “Summer…”Summer tidak mengangkat kepala. Ia tidak ingin melihat rasa kasihan atau kebaikan yang hanya akan membuatnya semakin hancur.“Aku dengar soal loker itu,” katanya hati-hati. “Dan soal kelas seni
CHAPTER 17“Kita lihat berapa lama kamu bisa membodohi semua orang,” gumamnya pelan ke arah kegelapan kamar.Sora meletakkan ponselnya, membiarkan rumor itu tumbuh liar seperti api di tengah padang rumput kering Royal Crest Academy, sementara Summer tetap terjaga, tenggelam dalam ketakutan yang kin
CHAPTER 16Saat mereka tiba di kedai kecil itu, lonceng di atas pintu berdenting pelan, menyambut mereka dengan semburan uap panas yang membawa aroma kaldu kaya dan gurih. Bau tulang yang direbus berjam-jam bercampur dengan wangi kecap asin fermentasi dan minyak wijen, menciptakan kehangatan yang l







