LOGINCHAPTER 76
Lampu depan mobil Dylan menembus gelapnya jalanan Highgate–Hampstead yang lengang di tengah malam. Tangannya menggenggam setir erat sejak meninggalkan asrama, sementara dua nama yang sejak tadi memenuhi pikirannya terus berputar tanpa henti.Summer Ryu.Ryu Takeshi.Tak butuh waktu lama sampai mobilnya memasuki gerbang utama kediaman keluarga Seo. Begitu mobil berhenti di depan mansion, Dylan langsung turun lalu melangkah cepat menaiki tangga depan.Ia berjCHAPTER 110Pintu utama terbuka bahkan sebelum Dylan sempat menekan bel.Seorang pria paruh baya sudah berdiri di ambang pintu, seolah memang telah menunggu kedatangan mereka. Senyum hangat langsung menyambut keduanya. “Selamat datang.”Dylan mengangguk kecil. “Ayah.”Summer yang berdiri di samping Dylan seketika membeku. Ayahnya…? Tatapannya tak lepas dari pria di hadapannya. Entah mengapa wajah itu terasa begitu akrab, seolah pernah ia lihat bertahun-tahun yang lalu, tetapi semakin ia berusaha mengingat, bayangan itu justru semakin kabur.Arthur ikut memandang Summer beberapa saat. Senyumnya tak berubah. “Kau sudah besar.”Summer tersadar dari lamunannya lalu sedikit membungkukkan badan. “Selamat siang, Pak.”Arthur masih memandang Summer. Sorot matanya perlahan melembut hingga senyum di wajahnya ikut berubah semakin hangat. “Sudah lama… saya menunggu hari ini.”Summer mengernyit pelan. Kalimat itu terdengar begitu tulus, seolah pria di hadapan
CHAPTER 109Dylan memperhatikan iring-iringan mobil keluarga Ryu hingga menghilang dari halaman Royal Crest Academy.Di sampingnya, Summer masih memandangi arah yang sama. “Senior Dylan.”“Hm?”“Arthur…” Summer mengernyit pelan. “Apa kau mengenalnya?”Dylan mengangguk. “Dia ayahku.”“Ayahmu?” Wajah Summer tampak kaget.“Iya.” Tatapan Dylan kembali jatuh kepada Summer. Ternyata gadis itu memang belum mengetahui apa pun.“Kalau begitu…” Summer kembali bertanya. “Bagaimana Kakek bisa mengenal ayahmu?”Dylan terdiam beberapa saat. Ia bisa saja menjawab, tetapi setelah semua yang baru saja terjadi, ia merasa bukan dirinya yang berhak menceritakan kisah itu.“Itu…” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Biarkan Tuan Takeshi yang menjelaskannya nanti.” Summer mengangguk pelan, lalu kembali menundukkan kepala.Dylan memperhatikan wajah gadis itu sejenak. Hari ini terlalu banyak hal yang harus diterimanya. “Summer... apa kau baik-baik saja?”“A
CHAPTER 108Kai tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Summer yang kini berdiri di sisi Dylan sambil menggenggam lengan pria itu. Namun sesuatu telah berubah. Gadis yang selama bertahun-tahun selalu menundukkan kepala di hadapannya kini balas menatap tanpa lagi berusaha menghindar. Summer tidak lagi bersembunyi darinya.Pandangan Kai kemudian menyapu halaman Royal Crest Academy, mulai dari mobil-mobil hitam yang terus berdatangan, para pria berpakaian hitam yang telah membentuk beberapa lapis pengamanan, hingga kilatan cahaya di atap gedung utama yang langsung dikenalnya sebagai posisi para penembak.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya kembali berhenti pada Dylan yang tetap berdiri di sisi Summer tanpa sedikit pun bergeser. Dylan ternyata telah mempersiapkan semuanya jauh lebih matang daripada yang ia perkirakan.Hari ini ia hanya datang dengan beberapa pengawal, sementara Dylan telah mengubah seluruh sekolah menjadi benteng.
CHAPTER 107“…Kai Akazakura.”Dylan seketika berdiri dari kursinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya refleks merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponsel.Begitu layar menyala, sorot matanya berubah saat melihat sembilan panggilan tak terjawab dari Ethan beserta pesan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.💬 Ethan: Tuan muda. Kai Akazakura menuju Royal Crest Academy. Saya tidak bisa menyusulnya secepat itu. Jalanan menuju sekolah macet. Beberapa tim kehilangan arah setelah target memecah jalur pengawasan. Maaf.“…Jadi begitu.” Dylan mengembuskan napas kasar. Kai tidak pernah menghilang. Pria itu sengaja memecah perhatian seluruh tim Ethan agar bisa datang ke Royal Crest tanpa ada yang menyadarinya.“Dy.” Cloud yang berdiri di sampingnya ikut melihat perubahan ekspresi Dylan.“Dia tidak boleh ada di sini.”Cloud mengernyit. “Lo kenal dia?”Dylan mengangkat pandangannya ke arah Summer yang masih membeku di atas panggung. “Masalah
CHAPTER 106Senin pagi.Cahaya matahari yang masuk dari balik jendela memenuhi kamar asrama Dylan. Ia berdiri di depan meja kerja sambil membuka laci paling bawah, lalu mengangkat sebuah kotak beludru hitam.Saat tutupnya terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin perak kecil.Tatapan Dylan melembut. Kalung itu sudah ia siapkan beberapa waktu lalu sebagai hadiah kelulusan untuk Summer. Dan hari ini, akhirnya tiba juga saat yang ia tunggu untuk memberikannya.“Bagus.” Suara Cloud membuat Dylan menoleh. Pria itu bersandar santai di dekat pintu sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Dia pasti suka.”Dylan kembali memandang kalung itu beberapa saat, lalu menutup kotaknya perlahan. “Cloud.”“Hm?”“Ada yang belum gue omongin sama lo.”Cloud mengangkat sebelah alis, menyadari nada bicara Dylan kali ini jauh lebih serius daripada biasanya. “Apa?”“Gue tahu… lo pernah suka sama Summer.”Cloud terdiam mendenga
CHAPTER 105Saat bel panjang akhirnya berbunyi, ruang ujian yang semula sunyi seketika berubah riuh. Beberapa siswa langsung menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengembuskan napas lega, sementara yang lain tertawa dan saling melempar candaan begitu para pengawas mulai mengumpulkan lembar jawaban terakhir.Summer menyerahkan kertas ujiannya, merapikan alat tulis ke dalam tas, lalu berjalan keluar bersama arus siswa yang mulai meninggalkan ruang kelas. Begitu tiba di koridor, Emma yang sejak tadi berada di sampingnya tiba-tiba mengangkat kedua tangannya ke udara.“Aku resmi bebas!”Summer tersenyum geli. “Baru selesai ujian, sudah merasa jadi orang baru?”“Jelas.” Emma merentangkan kedua lengannya sambil berjalan di samping Summer. “Lima hari berturut-turut bangun pagi, belajar, ujian, pulang, belajar lagi. Aku hampir lupa rasanya hidup.”“Kamu memang berlebihan.”“Aku serius.” Emma menepuk dadanya dramatis. “Mulai malam ini aku nggak mau lihat buku sat
CHAPTER 96Lampu belajar yang masih menyala membuat Cloud membuka mata. Ia berkedip beberapa kali sambil menyesuaikan pandangan, lalu memiringkan kepala ke arah meja di dekat jendela.Dylan masih berada di sana dengan laptop yang belum juga ditutup. Cahaya layar memantul di wajahnya, menerangi tump
CHAPTER 95Pagi itu Royal Crest Academy kembali dipenuhi murid-murid dengan seragam rapi dan wajah penuh semangat. Koridor yang sempat lengang selama beberapa minggu terakhir kembali ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan yang saling bersahutan.Setelah jam pelajaran keempat berak
CHAPTER 75Dylan masuk ke mobil tanpa mengatakan apa pun. Begitu pintu tertutup, ia langsung menunduk menatap layar ponselnya yang kembali menyala di genggamannya.Sebuah file baru saja masuk.Di sampingnya, Summer duduk diam sambil merapikan tali tas di pangkuannya. Jemarinya be
CHAPTER 1 PROLOG 👧 Saat itu Summer baru berusia lima tahun. Dorr!! Suara tembakan tiba-tiba mengguncang ruangan hingga telinganya langsung berdenging dan kaca-kaca jendela bergetar keras. Summer refleks menoleh, lalu membeku saat melihat pria yang sedetik lalu masih berdiri di dekatnya kini r







