INICIAR SESIÓN"Darahnya keluar banyak sekali, Ndoro..." Isak tangis Mira kembali terdengar, suaranya bergetar dipenuhi kepanikan yang terlihat begitu tulus.Tanpa membuang waktu, Mira merobek paksa ujung bawah daster seragamnya. Belahan daster tersebut robek hingga ke pangkal paha, mengekspos kulit putih mulus dan tungkai jenjangnya secara gamblang.Napas Brata seketika tertahan. Urat-urat lehernya menegang kaku. Rasa perih luar biasa yang ia rasakan seolah tersapu bersih dalam sekejap, tergantikan oleh gelombang panas yang tiba-tiba mendidih dan berpusat di bawah perutnya. Ketegangan yang sejak tadi menguasai tubuhnya perlahan berganti menjadi gairah liar yang tak lagi mampu ia bendung.Dengan tangan yang sengaja dibikin gemetar, Mira melilitkan robekan kain katun itu ke lengan Brata, mengikatnya kuat-kuat untuk menghentikan pendarahan. Setiap kali gadis itu mencondongkan tubuhnya, belahan dadanya yang mengintip dari balik kerah daster yang longgar bergesekan lembut dengan dada bidang sang majik
"Ndoro... hiks... turuti saja kemauan Nyonya!" Suara tangis Mira memecah ketegangan yang sedari tadi membekukan ruang keluarga itu. Dengan tubuh gemetar hebat dan lututnya yang masih berbalut perban, gadis itu menyeret dirinya maju. Ia menjatuhkan diri, memeluk kaki Brata dengan wajah berlinang air mata yang tampak begitu hancur, pucat, dan diliputi ketakutan murni. "Saya akan pergi! Saya akan angkat kaki dari rumah ini detik ini juga asalkan Nyonya selamat!" isak Mira semakin keras, memohon dengan suara yang begitu memilukan. "Tolong, Ndoro... jangan biarkan Nyonya menyakiti dirinya sendiri karena orang seperti saya..." "Diam kau, pelacur!" jerit Ratna kesetanan melihat tangan Mira memeluk kaki suaminya. "Lepaskan tangan kotormu dari suamiku!" Amarah dan rasa jijik membuat konsentrasi Ratna terpecah sepersekian detik. Pecahan kaca di pergelangan tangannya sedikit merenggang saat wanita itu menunjuk Mira dengan tangan yang gemetar. Brata tidak membuang kesempatan itu.
"B-bukan aku, Mas! Dia sendiri yang terjatuh–" Ratna menoleh panik ke arah Brata, wajahnya langsung memucat.Sebelum Ratna sempat menyelesaikan kalimat pembelaannya, Mira mendongak perlahan. Wajahnya pucat pasi, air matanya bercucuran karena rasa sakit yang nyata, dan dengan suara bergetar paling menyayat hati, ia berbisik di hadapan Brata yang kini berlari menghampiri mereka. "Tidak apa-apa, Ndoro... Jangan marahi Nyonya. Ini salah saya... kaki saya tadi lemas..."Brata langsung merebut tangan Mira yang berdarah, lalu mendongak menatap istrinya dengan sorot mata murka yang luar biasa tajam. Urat-urat di leher pria itu menegang menahan amarah yang hampir meledak."Keterlaluan kamu, Ratna!" geram Brata penuh kebencian.Mata Ratna membelalak lebar. Ia menatap tangan suaminya yang dengan penuh kelembutan menekan luka di telapak tangan Mira menggunakan sapu tangannya sendiri.Pemandangan itu membua
"Jangan mulai pagi ini dengan tuduhan-tuduhan tidak jelas mu itu, Ratna!" sergah Brata, suaranya terdengar dingin dan penuh ketidaksabaran. Pria itu menatap istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan kejenuhan tingkat tinggi.Ratna terkesiap kecil, namun amarah di dadanya langsung mendesak naik, membuat air matanya kembali tumpah di atas pipinya yang tirus. "Tuduhan?! Kamu pikir aku buta, Mas?! Jelas-jelas kamu sedang mencarinya! Kamu mengkhawatirkannya lebih dari kamu mengkhawatirkanku yang baru saja terluka!""Aku menanyakan keadaannya karena kemarin dia habis kamu pukuli sampai pingsan!" balas Brata dengan nada suara yang meninggi, tidak lagi peduli jika para pelayan lain mendengar pertengkaran mereka. "Kalau dia kenapa-napa di rumah ini, bukan hanya urusan kemanusiaan yang rumit, tapi rumah ini akan benar-benar menjadi tempat yang paling menjijikkan untuk ditinggali!"Mendengar suaminya membela Mira lagi dengan begitu emosional, Ratna meronta di a
"B-Bi Sumi ngomong apa...?" Jemari Mira mencengkeram sisi kemeja kebesaran yang membalut tubuhnya. Bibirnya bergetar, sengaja membuat suaranya terdengar rapuh seperti gadis desa yang tertindas. "Saya tidak punya niat busuk apapun... Sumpah, Bi. Saya hanya bekerja untuk mencari uang...""Bohong!" potong Bi Sumi tegas, suaranya mendesis rendah namun penuh penekanan. Wanita tua itu mencengkeram erat pinggiran ranjang tipis Mira hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan coba-coba mengelabui aku! Aku sudah puluhan tahun makan asam garam di rumah ini, Nduk. Aku tahu persis gelagat perempuan yang sengaja merusak tatanan rumah tangga majikannya!" Bi Sumi mencondongkan wajahnya semakin dekat, napasnya memburu menahan amarah yang memuncak."Semalam, Ndoro Brata membawamu ke kamar utamanya. Dia membela setengah mati dan hampir mengamuk pada Nyonya besar hanya demi membelamu!" lanjut Bi Sumi tajam. "Kamu pikir aku tidak tahu apa tujuan mu mendekati Ndoro Brata? K
Tangan besar pria itu terulur, menarik selimut yang menutupi separuh wajah Mira dengan sangat hati-hati. Ibu jarinya kemudian bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi pias gadis itu. "S-saya takut, Ndoro..." Tubuh Mira bergetar pelan saat ia mendongak. Sepasang netranya yang basah menatap pria itu dengan kerentanan paripurna. "Kehadiran saya di kamar ini hanya merusak rumah tangga Ndoro... Tolong, biarkan saya kembali ke kamar pelayan sekarang juga. Saya tidak pantas berada di sini, dan Nyonya Ratna pasti sangat hancur hatinya melihat Ndoro membelanya tadi." Brata memejamkan mata, rahangnya mengeras mendengar permohonan yang begitu tulus dari bibir pelayannya. Ia ingin menahan Mira tetap di sisinya. Namun melihat gadis itu masih gemetar, ia sadar membiarkannya kembali ke kamar pelayan jauh lebih aman jika Ratna kembali mengamuk. "Baiklah." Brata menghela napas panjang, mengalah dengan berat hati. "Aku akan membawamu kembali ke kamarmu." Tanpa membuang waktu, Brata menyu







