แชร์

Bab 82

ผู้เขียน: Sintiia01
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-31 23:39:14

Yono terkekeh rendah mendengar celotehan berani dari agen properti di depannya.

Tangan besarnya terangkat, bukan untuk melucuti pakaian Sinta, melainkan mengusap lembut pipi mulus wanita itu sebelum memiringkan kepalanya.

"Nanti dulu, Sin," ujar Yono santai sembari melangkah mundur satu tapak.

"Kasihan badan sebagus dan semulus kamu ini kalau nanti harus kedinginan atau malah kebentur lantai keramik keras begini cuma gara-gara kita nekat main di rumah kosong."

Sinta seketika memanyunkan bibirny
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 86

    Rabu pagi yang cerah. Sinar matahari pagi mulai menyiram pelataran kompleks perumahan cluster.Sinta melangkah menyusuri jalanan paving block menuju unit paling pojok dengan gaya pakaian santai namun tetap menunjukkan lekuk tubuhnya yang padat.Agen properti muda itu mengintip melalui celah jendela depan yang gordennya belum terpasang sempurna.Mata Sinta seketika membola. Ia terkejut melihat interior ruang tamu Yono yang tak lagi melompong.Di dalam sana sudah berdiri lemari pakaian, kasur lipat tebal, serta beberapa kardus barang yang tertata di sudut ruangan.Pintu depan mendadak terbuka dari dalam.Yono berdiri di ambang pintu, tampil gagah mengenakan seragam kerja pabrik berwarna biru tua yang lengannya digulung hingga memperlihatkan otot tangannya yang berurat tebal.Pria itu tengah memegang kunci motor, siap meluncur untuk sif paginya.Yono mengangkat sebelah alisnya, agak heran melihat kedatangan Sinta yang teramat pagi di depan rumah barunya."Pagi-pagi banget kamu sudah di s

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 85

    Mata Citra seketika membola mendengar bisikan bernada candaan dari Yono. Rasa kesal yang sejak tadi tertahan di dadanya langsung memuncak.Wanita itu lantas menepuk dada bidang Yono dengan telapak tangannya cukup keras, lalu melangkah mundur satu tapak dengan raut wajah gusar."Mas Yono! Kamu ini kalau bicara ngawur banget ya!" pekik Citra dengan nada tinggi, matanya menatap tajam pada pria tegap di depannya."Bisa-bisanya kamu nawarin aku ke Mas Heri?! Lagian Mas Heri itu sudah punya pacar, Mas! Mana mungkin dia mau main serong sama cewek lain!"Yono hanya menyandarkan punggung lebarnya di daun pintu yang terkunci, menatap Citra dengan ekspresi tenang tanpa beban sedikit pun.Citra mengusap dadanya yang naik-turun menahan emosi. Ia lalu memajukan langkahnya kembali, menatap lurus sepasang mata gelap Yono dengan pandangan yang berubah menuntut dan sarat godaan."Harusnya kamu sadar, Mas. Kita berdua ini sama-sama single. Hubungan kita yang sudah sejauh ini, harusnya kamu tahu kelanjut

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 84

    Tak lama kemudian, suara deru motor matik Yono terdengar berhenti di pelataran carport.Yono melangkah masuk ke dalam rumah membawa dua kantong plastik berisi bungkus nasi padang dan beberapa kantong es teh manis jumbo."Nasi padangnya sudah siap nih," seru Yono santai sembari meletakkan kantong plastik tersebut di atas lantai keramik ruang tamu yang bersih.Heri dan Citra keluar dari area kamar. Mereka bertiga lalu duduk melingkar secara lesehan di atas lantai keramik dingin tersebut.Yono membungkus bungkus nasi padang lauk rendang dan membagikannya satu per satu.Suasana makan malam sederhana itu berlangsung santai.Namun, di tengah-tengah makan, Heri yang memiliki postur tubuh tegap dan dada bidang itu mulai menunjukkan perhatian-perhatian kecil kepada Citra.Saat melihat Citra kesulitan membuka ikatan plastik es teh manisnya, dengan sigap Heri mengambil alih kantong plastik tersebut."Sini, Mbak Citra, biar aku bukakan. Tangannya nanti kena minyak," ujar Heri ramah sembari menari

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 83

    Mobil pick up Heri akhirnya berhenti tepat di carport unit rumah paling pojok milik Yono.Heri turun lebih dulu dari pintu kemudi.Dari arah belakang, Citra menyusul mengendarai motor matiknya. Ia mematikan mesin, melepas helm, lalu bergegas masuk mengikuti langkah Yono dan Heri yang mulai menurunkan barang-barang dari atas bak mobil.Heri mengangkat lemari plastik dan beberapa kardus tebal sekaligus dengan santai, lalu membawanya masuk melintasi pintu utama.Sementara Yono membopong kasur lipat dan tas-tas besar. Citra berjalan paling belakang, mengamati setiap sudut bangunan baru bernuansa cat putih tersebut dengan mata berbinar.Saat menelusuri lorong menuju kamar-kamar tidur, Citra mendadak menghentikan langkahnya di depan kamar tidur kedua."Mas Yono! Mendingan kamar tidur utama pakai yang kamar kedua ini aja deh," seru Citra setengah berbisik, sembari tangannya meraba dinding kamar yang posisinya berada agak di tengah."Kamar yang depan itu seram, jendela besarnya langsung mengh

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 82

    Yono terkekeh rendah mendengar celotehan berani dari agen properti di depannya.Tangan besarnya terangkat, bukan untuk melucuti pakaian Sinta, melainkan mengusap lembut pipi mulus wanita itu sebelum memiringkan kepalanya."Nanti dulu, Sin," ujar Yono santai sembari melangkah mundur satu tapak."Kasihan badan sebagus dan semulus kamu ini kalau nanti harus kedinginan atau malah kebentur lantai keramik keras begini cuma gara-gara kita nekat main di rumah kosong."Sinta seketika memanyunkan bibirnya, memasang raut wajah kecewa yang dibuat-buat. "Yah, Pak Yono mah penakut. Padahal Sinta sudah siap banget lho.""Bukan takut, tapi biar lebih nikmat," potong Yono cepat, lalu memajukan kembali tubuh tinggi besarnya, mengikis jarak hingga napas hangatnya menyapu kening Sinta.Dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan mengintimidasi, Yono berbisik tepat di depan wajah Sinta."Beli isi rumah ini gak bakal lama. Kamu tunggu saja. Begitu kasur busa tebal sudah terpasang di kamar utama, aku sen

  • Aduh, Pak Yono tak Tahan!   Bab 81

    Hari Selasa sore, Yono baru saja mendapatkan telepon dari Sinta bahwa unit rumah yang dia beli sudah di-ACC oleh atasan Sinta.Yono menghentikan motor matik besarnya di carport unit rumah paling pojok. Pria itu turun dari tunggangannya dengan gaya maskulin yang kental. Hari ini Yono baru saja menyelesaikan sif awal di pabrik.Tubuh tinggi besarnya dibalut dengan kemeja flanel lengan pendek yang bagian dadanya sengaja dibiarkan terbuka tiga kancing, mengekspos dadanya yang bidang, keras, dan sedikit berpeluh, dipadukan dengan celana jins tebal andalannya.Di depan teras rumah yang pintunya sudah terbuka, Sinta berdiri menunggunya dengan postur menyilang kaki yang sangat menggoda. Penampilan agen properti muda itu sore ini tak kalah memancing mata.Sinta mengenakan kemeja kerja berwarna krem berbahan silk yang membungkus ketat tubuhnya, dipadukan dengan rok pensil hitam yang mengunci lekuk bokong besarnya.Kemeja krem itu tampak hampir meledak menahan gundukan dadanya yang padat dan ber

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status