Home / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 3. ASUMSI YANG MEMBAKAR

Share

3. ASUMSI YANG MEMBAKAR

Author: NONA_DELANIE
last update publish date: 2026-01-28 09:20:11

“I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?”

Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa.

Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan noda darah di sprei hanyalah manipulasi agar ia bersimpati pada wanita itu?

Saat Hexa sibuk dengan isi pikirannya, Hazel justru telah duduk dengan dagu mendongak—angkuh, di sofa tunggal, tepat di hadapan Hexa.

Dengan gerakan anggun, Hazel menyilangkan kaki, mempertontonkan paha dan betis mulusnya sambil menyesap rokok. “Pembicaraan apa yang ingin kau bahas, Tuan Jaksa?” tanyanya datar, disusul dengan asap rokok tipis yang keluar dari bibirnya. Wanita itu terlihat sangat provokatif.

Kendali diri Hexa yang biasanya sekokoh karang di ruang sidang, runtuh seketika. Ia berdiri menyentak sembari menunjuk-nunjuk wajah Hazel. “Sialan, jangan berlagak bodoh! Kau menjebakku, Hazel. Aku ingin kau bertanggung jawab untuk menjelaskan semuanya! Kenapa aku bisa tidur bersamamu!”

Hazel justru terkekeh dingin. “Tanggung jawab?” Ia menatap Hexa tepat di mata. “Bukankah semalam kau juga sangat menikmatinya? Kita sama-sama tenggelam dalam hangatnya sentuh dan buaian candu yang memabukkan. Lalu sekarang kau bertanya tanggung jawabku apa? Jangan terlalu munafik! Kau yang lebih dulu masuk ke kamarku. Artinya, kau menginginkanku, ‘kan?”

Ucapan Hazel menghantam telinga Hexa seperti simfoni yang mengerikan. Pria itu menggeram, telunjuknya gemetar saat menuding wajah cantik di depannya. “Tutup mulutmu, sialan! Aku yakin kau menjebakku! Kau membubuhi minumanku dengan obat perangsang, ‘kan? Mengaku saja!”

Hazel tidak menanggapi celotehan Hexa. Sebaliknya, ia menyahut pendek, mengalihkan pembicaraan itu. “Baiklah.” Setelahnya, ia mematikan rokoknya ke asbak dengan gerakan lambat, seolah sedang menikmati setiap detik amarah Hexa.

Hazel meraih tas jinjingnya yang sejak semalam tergeletak di atas meja kaca. Lalu dengan gerakan elegan yang menghina, ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dolar.

Hazel meletakkannya di atas meja kaca, menyodorkannya ke arah Hexa—persis seperti cara seseorang membayar ‘jasa pemuas profesional’.

“Ambillah. Hanya ini yang kubawa tunai. Sisanya akan kutransfer ke rekeningmu—aku punya datanya. Untuk yang semalam ... thanks. Kau sangat lihai sekaligus memuaskan, Tuan Jaksa.”

Hexa sangat tersinggung. Tak mengambil uang itu, ia justru menendang meja kaca di sampingnya hingga pecah berderak. Lalu, telunjuknya ia angkat tepat ke wajah Hazel. “Hentikan omong kosongmu! Apa kau pikir aku laki-laki bayaran, huh?”

Suara Hexa merendah namun sarat akan ancaman. Wajahnya mengeras, memperlihatkan gurat vena yang menonjol di pelipis seiring dengan otot lehernya yang menegang.

Sebagai seorang Jaksa Penuntut Umum yang terkenal, harga diri yang selama ini ia jaga dengan penuh integritas kini terasa hancur, seolah diinjak-injak tanpa sisa.

Dengan langkah yang mantap dan sorot mata garang, Hexa mendekat. Ia mengunci pergerakan Hazel dengan meletakkan kedua lengannya di sisi tubuh wanita itu, memaksa tubuhnya condong ke depan dalam sebuah intimidasi yang mencekam. Ia menatap Hazel seolah sedang mengunci mangsa agar tidak memiliki celah untuk melarikan diri.

Namun, Hazel justru menanggapi kemarahan itu dengan ketenangan yang provokatif. Ia menaikkan sebelah alisnya, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang menyebalkan.

Mata biru Hazel mengerjap lamban, menatap lurus ke dalam bola mata Hexa yang berapi-api. Ia bergumam tenang, “Tidak. Tapi jasamu semalam layak mendapat apresiasi, bukan? Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku.”

Kesal karena amarahnya hanya membentur tembok datar, Hexa menarik diri dengan napas memburu.

“F*ck!” makinya pelan, berusaha meredam gejolak di dada yang kian tak terkendali. Ia menatap Hazel dengan tatapan menghunus. “Pergilah! Jangan katakan apa pun pada siapa pun, termasuk pada Jenna, kalau kita pernah—”

“Sayangnya, itu sudah terlambat,” potong Hazel tenang. Suaranya datar, namun sanggup menghentikan detak jantung Hexa sesaat.

Dengan santai, Hazel menyugar rambut pirang ikalnya, lalu mengikatnya menjadi kuncir kuda seolah baru saja menyelesaikan urusan biasa.

Hexa terpaku dan fokus pada kata ‘terlambat’ yang baru saja diucapkan oleh Hazel. Kedua mata birunya menyipit penuh keraguan. “Apa maksudmu?”

Hazel menyeringai penuh kelicikan. Ia berdiri, lalu melangkah mendekat hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya tepat di telinga Hexa hingga deru napasnya terasa dingin di kulit pria itu. “Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat.”

“What?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Mantap, Sayang   118. TEKA TEKI RUMIT

    “Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya

  • Ah! Mantap, Sayang   117. KECURIGAAN YANG SALING TEHUBUNG

    “Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb

  • Ah! Mantap, Sayang   116. TEMUKAN BENANG MERAH

    “Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya

  • Ah! Mantap, Sayang   115. TERASA JANGGAL

    “Bukalah!”“Apa ini?” Hazel menatap beberapa amplop dengan logo rumah sakit yang disodorkan Hexa ke atas bantal di pangkuannya. Fokusnya yang semula tertuju pada buku referensi tesis seketika buyar.“Aku sudah menyuruh anak buah Enrico mengambil hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit. Semua hasilnya masih tersegel. Lihatlah sendiri,” jelas Hexa dengan suara rendah, mencoba memberikan ruang bagi istrinya untuk memproses keadaan.Hazel menatap Hexa cukup lama—terlalu lama hingga membuat suaminya itu kembali bertanya.“Apa yang membuatmu tidak langsung membukanya?”“Aku hanya takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi,” bisik Hazel seraya menunduk.Ia menyingkirkan amplop-amplop itu dari pangkuannya dengan gerakan pelan, seolah benda-benda itu bisa meledak kapan saja. Tatapannya kini melayang jauh ke arah pemandangan di luar jendela kamar.Langit di luar tampak mendung, seirama dengan keresahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. “Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa Mama sudah

  • Ah! Mantap, Sayang   114. HUKUMAN TIDAK MAIN-MAIN

    “Kalau ibuku benar-benar masih hidup dan berhasil kita selamatkan, apa kau mau menerimanya—maksudku, menampungnya di rumahmu?”“Hah?” Hexa tertegun sejenak. Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ia belum memikirkan sejauh itu karena fokusnya masih pada hasil tes DNA yang belum pasti.Iya kalau hasilnya cocok, kalau tidak, lantas bagaimana? Ia pasti akan kelimpungan menenangkan Hazel yang bersedih.“Kenapa? Kau keberatan?” Hazel mencecar saat melihat keraguan di wajah suaminya. “Kalau kau keberatan dia tinggal di kediaman River, bisakah kau memberikan satu rumah lagi untukku?”Hexa mengernyit, masih diam karena otaknya sedang menimbang berbagai risiko keamanan dan birokrasi keluarga besar mereka.Melihat respons Hexa yang pasif, Hazel merasa dirinya terlalu menuntut. Ia pun sadar diri, lalu menundukkan wajahnya dengan gurat kecewa yang jelas.“Ya sudah kalau kau keberatan. Aku akan menyewa rumah sendiri untuk Mama nanti. Pasti beliau sangat senang jika bisa tinggal bersamaku lagi.”Hexa m

  • Ah! Mantap, Sayang   113. SAMPEL RAMBUT

    “Lalu, aku harus bagaimana?”Suara Hazel serak, isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai terdengar memilukan. Pertahanan kedokterannya runtuh seketika saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa ibunya masih bernapas di suatu tempat.Hexa tak tega melihat kehancuran itu. Mengabaikan nyeri di perutnya, ia segera berdiri dan menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya, menyandarkannya erat pada pinggangnya. Tangan Hexa mengusap rambut Hazel, mencoba menyalurkan kekuatan.“Tunggu satu minggu. Setelah hasil tes DNA keluar … maka kita lakukan operasi penyelamatan. Kau setuju?” bisik Hexa menenangkan.Hazel mengangguk di balik tangisnya, air matanya membasahi telapak tangan Hexa. Sambil mengusap wajahnya yang sembap, ia mendongak dengan tatapan menuntut. “Kalau begitu, apa kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga?”Hexa tercengang. “Sekarang juga?”“Ya. Kalau Enrico sudah memegang sampel rambut wanita itu, bukankah tes

  • Ah! Mantap, Sayang   5. DISIDANG KELUARGA

    Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu

  • Ah! Mantap, Sayang   4. BERSIAPLAH JADI AYAH

    “Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucap

  • Ah! Mantap, Sayang   1. MENJEBAK CALON ADIK IPAR

    Cahaya neon fuchsia dan biru kobalt berpendar liar mengikuti dentuman bass yang menggetarkan tulang rusuk. Aroma alkohol mahal, cerutu, dan parfum bercampur menjadi satu, menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus liar. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang kehilangan

  • Ah! Mantap, Sayang   2. ONE NIGHT STAND

    “Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!” Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status