ホーム / Romansa / Aku menolak ending novel ini! / BAB 30: mekarnya bunga es

共有

BAB 30: mekarnya bunga es

作者: Ruzaaayoora
last update 公開日: 2026-06-22 11:36:06

Harap like dan follow akun ini

-------

Musim semi di wilayah Utara Kekaisaran bukanlah pemandangan hijau yang biasa ditemui di wilayah Selatan. Di sini, musim semi adalah fenomena yang jauh lebih magis dan langka. Salju abadi mulai menipis, membiarkan tanah beku bernapas sejenak, dan yang paling menakjubkan adalah mekarnya Bunga Alyssum Perak—bunga langka yang hanya muncul setahun sekali saat matahari bersinar sedikit lebih hangat di tanah Valerius. Kelopak bunga itu bening seperti kaca, n
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 37: Bara di Istana 2

    Setelah merasa cukup bersih, Nara bangkit. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, lalu mengenakan jubah mandi sutra tipis berwarna putih gading. Jubah itu sangat ringan, hampir tidak terasa di kulitnya yang masih lembap, dan memberikan efek transparan yang samar di bawah pencahayaan lampu kristal yang temaram. Nara berdiri di depan wastafel marmer, mencoba merapikan rambut hitamnya yang basah, ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka tanpa peringatan. Killian masuk dengan langkah yang penuh otoritas. Pria itu kini hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit pinggangnya yang rendah. Tubuh bagian atasnya terekspos sepenuhnya, memperlihatkan otot-otot dada yang bidang dan perut yang terpahat sempurna seperti patung dewa perang. Rambut peraknya yang basah berantakan, meneteskan air ke bahunya yang pucat namun kuat. Nara tersentak, tangannya refleks memegang kerah jubah mandinya. "Killian! Aku belum selesai... kau harusnya menunggu di luar ruangan." Killian tidak ber

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 36: Bara di Istana 1

    Harap like dan follow akun sebelum lanjut membaca ----- Setelah ketegangan di balkon dan ciuman yang membakar di bawah rembulan, Killian tidak membiarkan Nara berlama-lama di aula pesta. Baginya, tatapan pria-pria di sana adalah polusi yang mengganggu hak miliknya. Ia menarik Nara melewati koridor-koridor panjang istana yang megah, menuju paviliun tamu agung yang telah disiapkan khusus untuk keluarga Duke Valerius. Sepanjang jalan, genggaman tangan Killian terasa sangat panas, seolah-olah mana miliknya sedang bergejolak menuntut pelampiasan. Begitu pintu paviliun tertutup rapat dan terkunci, suasana sunyi istana langsung berubah menjadi medan energi yang menyesakkan. Killian menyandarkan Nara ke pintu, menatapnya dengan mata ungu yang kini benar-benar gelap, hanya menyisakan sedikit kilatan gairah yang buas. "Mandilah dulu, Veronica," bisik Killian, suaranya serak dan berat. "Bersihkan aroma pesta ini dari kulitmu. Aku ingin hanya aromaku yang tersisa di tubuhmu malam ini."

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 35: berujung bara

    Suasana pesta semakin memanas ketika musik orkestra mulai melambat, memberikan kesempatan bagi para bangsawan untuk saling menyapa. Di sudut ruangan, Nara melihat Baron Ashbourne—ayahnya—tengah mencoba mendekati seorang Earl kaya. Baron itu tampak kuyu, mungkin karena guncangan mental setelah menerima penghinaan telak dari Killian. "Lihat itu," Killian menunjuk dengan dagunya. "Ayahmu sepertinya butuh moralitas baru, bukan sekadar kayu busuk." Nara hanya tersenyum tipis. "Dia tidak akan pernah belajar selama dia merasa masih bisa memanfaatkan nama 'Veronica' untuk kepentingannya." Tiba-tiba, seorang pemuda dengan rambut pirang madu dan pakaian yang terlalu mencolok mendekati mereka. Namanya Julian, seorang Count muda yang baru saja melakukan debutante-nya. Ia memiliki reputasi sebagai perayu yang tidak tahu malu. "Duke Valerius, sungguh kejutan melihat Anda sudah bisa berdiri tegak," ucap Julian dengan nada yang sedikit merendahkan, matanya justru tertuju pada lekuk tubuh Na

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 34: bertemu kaisar

    Di lantai atas istana, tepatnya di balik jendela besar ruang kerja kaisar yang terbuat dari kristal gelap, seorang wanita dengan mahkota emas yang rumit berdiri memperhatikan seluruh kejadian di taman mawar. Ia adalah Sang Kaisar, penguasa tertinggi Astheria. Mata Sang Kaisar menyipit saat melihat punggung Nara yang menjauh. Ia meletakkan tangannya di kaca jendela, dan tiba-tiba, sebuah energi keemasan yang sangat tipis bereaksi di ujung jarinya—energi yang selaras dengan getaran Mana yang terpancar dari tubuh Nara. "Darah Elianor..." gumam Sang Kaisar dengan suara yang penuh misteri. "Aku bisa merasakan Roh Kuno itu menggeliat di dalam dirinya. Veronica Ashbourne... kau bukan lagi wanita gila yang diceritakan orang-orang." Kaisar berbalik ke arah penasehatnya yang berdiri di kegelapan ruangan. "Pastikan dia duduk di sampingku saat perayaan pesta pembukaan besok. Aku ingin melihat seberapa besar kekuatan yang ia sembunyikan di balik wajah tenangnya itu. Utara telah menemukan per

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 33: Perjamuan Teh

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Malam pertama di paviliun istana berlalu dengan kehangatan yang kontras dengan udara Ibu Kota yang mulai dipenuhi intrik. Nara terbangun dengan perasaan sedikit berat di bahunya—lengan Killian masih melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidur. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama karena jadwal hari ini telah menanti. Sebuah undangan pesta minum teh dari para Lady terpandang di Ibu Kota telah tiba di atas meja riasnya. Nara menatap undangan berwarna krem dengan pinggiran emas itu dengan helaan napas panjang. Sebagai seorang mahasiswa "kupu-kupu" (kuliah-pulang-kuliah-pulang) di kehidupannya yang dulu, interaksi sosial berskala besar adalah mimpi buruk baginya. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau di depan laptop mengerjakan skripsi daripada harus berbasa-basi di bawah payung sutra sambil memegang cangkir porselen. "Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Istriku?" Killian terbangun, suaranya serak

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 32: Deburan Ombak

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Perjalanan dari wilayah Utara menuju Ibu Kota Kekaisaran, Astheria, memakan waktu beberapa hari menggunakan kereta kuda sihir milik keluarga Valerius. Musim semi yang telah merebak sepenuhnya membuat pemandangan di sepanjang jalan berubah dari hamparan salju putih menjadi padang rumput hijau yang dihiasi bunga-bunga liar. Namun, bagi Nara, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri undangan pesta musim semi dari Kaisar; ini adalah kepulangannya ke tempat di mana reputasi Veronica dihancurkan, tempat di mana "Aku yang Tak Pernah Dipilih" bermula. "Kau terlihat sangat gelisah sejak kita melewati perbatasan wilayah Tengah," suara Killian memecah lamunan Nara. Pria itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan kemeja linen hitam yang longgar dengan beberapa kancing atas terbuka—sebuah tampilan santai yang tetap membuatnya terlihat sangat berbahaya. Killian sedang memegang segelas anggur merah, namun matanya tidak pernah lepas dari

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 2: menjadi Veronica Ashbourne

    "Veronica Ashbourne," desis Nara. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah nama itu sudah lama tertanam di dalam saraf vokalnya. Ingatan demi ingatan mulai membanjiri otaknya seperti air bah yang merobohkan bendungan. Bukan lagi sekadar potongan plot novel yang ia baca, melainkan

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 6: Putaran Takdir

    Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 4: negosiasi dan Pelelangan

    Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari koridor mansion Ashbourne yang dingin dan penuh dengan aroma arogansi. Nara—yang kini harus terbiasa dengan panggilan Veronica—berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia tidak memilih gaun sutra berwarna pastel yang biasa dikenakan Veronica as

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 1: Aku yang tak pernah dipilih

    Hujan turun deras sejak sore, menghantam jendela kamar kos di lantai tiga seperti ribuan jemari yang memaksa ingin masuk. Suara tetesan air bercampur dengan derit kipas angin tua di langit-langit, menciptakan irama monoton yang menyesakkan.Namun Nara tidak peduli.Ia tetap tengkurap di atas kasur

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status