/ Romansa / Amnesti Sang Eksekutor / Chapter 27: Labirin Intrik

공유

Chapter 27: Labirin Intrik

작가: Adelia
last update 게시일: 2026-05-11 17:00:56

​Aroma kopi hitam yang tajam mengisi ruang kerjaku pagi ini, namun kafein sekuat apa pun tak mampu menghalau rasa dingin yang mengendap di tulang belakangku. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tanpa pengirim tergeletak manis. Isinya hanya selembar foto: aku dan Arkana di balkon penthouse dua malam lalu. Sudut pengambilannya sangat presisi, menangkap momen saat Arkana membisikkan instruksi akuisisi di telingaku, namun dari kejauhan, itu terlihat seperti skandal yang sangat intim.

​Se
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 77

    Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. ​"Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 76

    ​"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. ​Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 75

    Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. ​Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. ​"Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 74

    ​"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." ​Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 73

    ​"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." ​"Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 72

    Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. ​"Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." ​Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 7: Ruang Tanpa Pilihan

    Jarak yang tersisa di antara kami hanya hitungan milimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam dan mint dari napas Arkana, bercampur dengan wangi maskulin yang kini mulai masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pria ini baru saja mengunci pintu kantor, mengubah ruangan mewah ini menjadi penjara prib

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 3: Perjanjian Di Atas Meja

    Hujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.​Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 2: Algojo Ruang Rapat

    Aku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.​Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 1: Gelas Terakhir

    ​"Lagi," kataku pada bartender, sambil menyodorkan gelas martini kosong yang keempat.​Pria di balik bar itu menatapku ragu. "Mbak, ini sudah terlalu banyak untuk satu malam."​"Aku ke sini untuk minum, bukan untuk mendengar khotbah kesehatan," jawabku dingin. Aku tidak butuh simpati dari siapa pun

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status