Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 151. Kitab Pendamping

Share

151. Kitab Pendamping

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 12:32:36

Di dalam kamar sementara milik Toni yang berukuran sedang, ia kini tampak duduk berdua saja dengan Teja di atas ranjang kayu.

"Sekarang coba kamu ceritakan secara detail gimana caranya kamu bisa secepat itu menerobos ke ranah energi Qi tingkat dua? Bukankah tadi di dalam pesan singkat yang kamu kirim, kamu sendiri yang bilang kalau masih pusing tujuh keliling mikirin target wanita keenam?" cecar Toni dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa penasaran yang teramat sangat besar.

Teja pun mengangguk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   239. Rengkuhan Hangat

    "Kenapa, Lin?" tanya Teja sembari menghentikan sejenak tekanan jemarinya di atas permukaan kulit mulus sang gadis. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu menatap punggung Linda yang tampak sedikit tegang usai helaan desah pelan tadi."Geli, Ja," cicit Linda dengan suara teredam bantal. Wajahnya yang kian panas berbenam rapat, tak berani memperlihatkan rona merah yang sudah menjalar hingga ke belakang telinganya.Teja pun terus melakukan pijatan di paha mulus Linda dan perlahan kian naik. Tanpa terpengaruh oleh celoteh singkat gadis yang mengidolakannya itu, jemari tangannya bergerak menyusuri setiap lekuk otot paha bagian atas, mengurai simpul-simpul saraf yang tegang akibat dorongan porsi latihan keras di tengah hutan tadi.Tangan Teja mulai merogoh jauh di bawah selimut, memijat gumpalan kenyal dari bokong Linda yang sudah polos sepenuhnya. Sentuhan telapak tangan Teja yang hangat bersalut pelicin gel dingin mengusap alur area pinggul dengan tekanan memutar yang sangat lembut,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   238. Minta Pijat

    Panda berpamitan dulu dan memacu motor bebeknya pergi dari halaman rumah megah Teja. Wanita berparas oriental itu melemparkan senyum ramah serta lambaian tangan singkat sebelum akhirnya mesin kendaraan roda duanya meraung halus, membelah jalanan dan menghilang di balik tikungan."Kamu nggak pulang sekalian, Lin?" tanya Teja melirik Linda yang masih berdiri bersamanya di depan moncong Maserati Quattroporte GTS V8. Pemuda berambut panjang itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memperhatikan raut wajah gadis di sampingnya yang tampak serba salah dan memendam sesuatu."Anu, Ja... Bisa nggak kita ngobrol dulu habis ini?" tanya Linda pelan. Matanya melirik ke arah tanah, enggan menatap langsung sorot mata tajam Teja yang seolah bisa membaca isi kepalanya."Soal apa, Lin?" sahut Teja penasaran. Pemuda itu menghentikan langkahnya yang tadinya hendak berjalan menuju area pintu, menantikan penjelasan lebih lanjut dari putri ketua Perguruan Teratai Kembar tersebut."Nggak enak n

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   237. Keinginan Tersembunyi

    Linda dan Panda bekerja sama dengan sangat apik. Sinkronisasi gerakan kedua gadis cantik itu terpancar begitu sempurna, membentuk barikade serangan beruntun yang saling melengkapi antara teknik pertempuran jarak dekat khas Teratai Kembar milik Linda dan kelincahan refleks Tiongkok milik Panda.Serangan keduanya begitu gencar dan kuat. Lintasan pukulan serta sabetan kaki mereka meluncur deras dari dua sudut berbeda secara bersamaan, menyapu celah pertahanan Teja tanpa memberikan sedikit pun ruang kosong untuk bernapas.Teja tersenyum melihat kekompakan itu. Rasa bangga memancar kuat di dalam dadanya menyaksikan dua sosok yang sebelumnya sempat bersitegang kini mampu memadukan potensi terbaik mereka menjadi sebuah kombinasi pertarungan yang begitu solid.Ia terpaksa meladeni dengan lebih serius. Pemuda berambut ala rocker itu menguatkan tumpuan kakinya di atas tanah lapang, mengalirkan kembali porsi energi murni Qi yang lebih besar ke seluruh jalur tubuhnya demi mengimbangi gelombang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   236. Serangan Ganda

    "Istirahat aja dulu, Ja. Itu tadi termos herbalnya aku bawa kok. Linda juga bisa minum lagi buat menjaga fisik," ujar Panda sembari melangkah mengambil termos herbal yang ia letakkan di samping akar pohon besar. Wanita berparas oriental itu melangkah anggun menyusuri tepian tanah lapang, menjangkau wadah penampung cairan hangat tersebut."Kamu udah biasa minum yang pahit kayak gini ya, Nda?" tanya Linda sembari menuangkan sedikit ramuan herbal ke tutup termos. Gadis itu meneliti cairan berwarna kecokelatan pekat tersebut dengan tatapan yang jauh lebih tenang dibandingkan saat ia menyemburkannya di area kolam renang pribadi Teja pagi tadi."Aku lahir di tengah keluarga Tiongkok, Lin. Minuman kayak gini udah jadi minuman sehari-hari buat kami," terang Panda. Ia tersenyum ramah mendapati saingannya itu kini bersedia mencoba kembali racikan obat tradisional yang sempat memicu perdebatan konyol di antara mereka.Linda menarik napas panjang, lalu meminum sisa ramuan di tutup termos itu s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   235. Jauh Lebih Cepat

    "Oke, aku siap, Ja," ujar Panda. Wanita berparas oriental itu mengibaskan tangannya pelan, meluruskan postur tubuhnya sembari menghembuskan napas halus untuk memfokuskan seluruh perhatiannya pada lawan di hadapannya."Serang aku, Nda!" perintah Teja penuh semangat. Pemuda berambut gondrong itu merentangkan kedua tangannya pelan, membuka ruang gerak di tengah hamparan tanah lapang tersebut.Panda bergerak lincah menyerang. Langkah kakinya menyapu permukaan tanah kering tanpa menimbulkan suara keras sedikitpun. Ia meluncur cepat menghampiri posisi Teja berdiri.Olah tubuhnya terlihat gemulai namun bertenaga khas bela diri Tiongkok. Setiap ayunan lengan dan liukan pinggulnya mengalir begitu fleksibel bagaikan kibasan kain. Namun, di balik keanggunan itu tersimpan daya tekan yang padat dan mengincar titik-titik penting tubuh lawan.Teja menghindar namun Panda seperti tak ada habisnya mengejar dan mengunci pergerakan Teja. Begitu pukulan pertama berhasil dielakkan dengan geseran bahu,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   234. Ilusi Gerakan

    Teja mengangguk. "Kayaknya gitu. Soalnya aku juga nggak paham sama tingkatanku sendiri," aku pemuda berambut gondrong itu polos sembari mengibaskan tangannya santai."Itu udah tinggi banget lho, Ja. Aku aja masih ada di ranah bela diri tingkat dasar tahap puncak," sahut Linda. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, terkesima sekaligus takjub mendapati betapa jauhnya jarak kemampuan fisik mereka berdua saat ini."Iya bener tinggi banget itu, Lin. Aku masih di ranah bela diri tingkat sedang tahap fondasi. Aku bahkan awalnya nggak nyangka kalau Teja bisa bela diri," timpal Panda. Wanita berparas oriental itu melangkah mendekati Linda, menatap Teja dengan sorot mata yang dipenuhi rasa hormat atas pencapaian luar biasa pemuda tersebut dalam waktu yang teramat singkat."Ya udah, ayo latihan. Gantian ya lawan aku, habis itu gabungan," kata Teja mengambil tempat di tengah pelataran tanah padat. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memasang kuda-kuda kokoh tak tergoyahkan.Linda maj

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status