Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 171. Bahasan Penting

Share

171. Bahasan Penting

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 15:14:22

Teja tersenyum dan memahami bahwa wanita cantik di depan selangkangannya itu telah lelah.

Ia tidak ingin memaksakan kehendak lebih jauh lagi setelah melihat usaha keras Nana yang berlutut di lantai kamar mandi yang basah demi menyenangkannya.

Ia pun membimbing Nana untuk berdiri sambil memegang kedua ketiak wanita itu dengan lembut dan mengangkat tubuhnya agar kembali tegak di bawah kucuran air pancuran.

"Kita lanjutin mandinya aja, Na," bisiknya tepat di dekat telinga Nana.

"Tapi, Jo. Kamu—"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   239. Rengkuhan Hangat

    "Kenapa, Lin?" tanya Teja sembari menghentikan sejenak tekanan jemarinya di atas permukaan kulit mulus sang gadis. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu menatap punggung Linda yang tampak sedikit tegang usai helaan desah pelan tadi."Geli, Ja," cicit Linda dengan suara teredam bantal. Wajahnya yang kian panas berbenam rapat, tak berani memperlihatkan rona merah yang sudah menjalar hingga ke belakang telinganya.Teja pun terus melakukan pijatan di paha mulus Linda dan perlahan kian naik. Tanpa terpengaruh oleh celoteh singkat gadis yang mengidolakannya itu, jemari tangannya bergerak menyusuri setiap lekuk otot paha bagian atas, mengurai simpul-simpul saraf yang tegang akibat dorongan porsi latihan keras di tengah hutan tadi.Tangan Teja mulai merogoh jauh di bawah selimut, memijat gumpalan kenyal dari bokong Linda yang sudah polos sepenuhnya. Sentuhan telapak tangan Teja yang hangat bersalut pelicin gel dingin mengusap alur area pinggul dengan tekanan memutar yang sangat lembut,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   238. Minta Pijat

    Panda berpamitan dulu dan memacu motor bebeknya pergi dari halaman rumah megah Teja. Wanita berparas oriental itu melemparkan senyum ramah serta lambaian tangan singkat sebelum akhirnya mesin kendaraan roda duanya meraung halus, membelah jalanan dan menghilang di balik tikungan."Kamu nggak pulang sekalian, Lin?" tanya Teja melirik Linda yang masih berdiri bersamanya di depan moncong Maserati Quattroporte GTS V8. Pemuda berambut panjang itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memperhatikan raut wajah gadis di sampingnya yang tampak serba salah dan memendam sesuatu."Anu, Ja... Bisa nggak kita ngobrol dulu habis ini?" tanya Linda pelan. Matanya melirik ke arah tanah, enggan menatap langsung sorot mata tajam Teja yang seolah bisa membaca isi kepalanya."Soal apa, Lin?" sahut Teja penasaran. Pemuda itu menghentikan langkahnya yang tadinya hendak berjalan menuju area pintu, menantikan penjelasan lebih lanjut dari putri ketua Perguruan Teratai Kembar tersebut."Nggak enak n

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   237. Keinginan Tersembunyi

    Linda dan Panda bekerja sama dengan sangat apik. Sinkronisasi gerakan kedua gadis cantik itu terpancar begitu sempurna, membentuk barikade serangan beruntun yang saling melengkapi antara teknik pertempuran jarak dekat khas Teratai Kembar milik Linda dan kelincahan refleks Tiongkok milik Panda.Serangan keduanya begitu gencar dan kuat. Lintasan pukulan serta sabetan kaki mereka meluncur deras dari dua sudut berbeda secara bersamaan, menyapu celah pertahanan Teja tanpa memberikan sedikit pun ruang kosong untuk bernapas.Teja tersenyum melihat kekompakan itu. Rasa bangga memancar kuat di dalam dadanya menyaksikan dua sosok yang sebelumnya sempat bersitegang kini mampu memadukan potensi terbaik mereka menjadi sebuah kombinasi pertarungan yang begitu solid.Ia terpaksa meladeni dengan lebih serius. Pemuda berambut ala rocker itu menguatkan tumpuan kakinya di atas tanah lapang, mengalirkan kembali porsi energi murni Qi yang lebih besar ke seluruh jalur tubuhnya demi mengimbangi gelombang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   236. Serangan Ganda

    "Istirahat aja dulu, Ja. Itu tadi termos herbalnya aku bawa kok. Linda juga bisa minum lagi buat menjaga fisik," ujar Panda sembari melangkah mengambil termos herbal yang ia letakkan di samping akar pohon besar. Wanita berparas oriental itu melangkah anggun menyusuri tepian tanah lapang, menjangkau wadah penampung cairan hangat tersebut."Kamu udah biasa minum yang pahit kayak gini ya, Nda?" tanya Linda sembari menuangkan sedikit ramuan herbal ke tutup termos. Gadis itu meneliti cairan berwarna kecokelatan pekat tersebut dengan tatapan yang jauh lebih tenang dibandingkan saat ia menyemburkannya di area kolam renang pribadi Teja pagi tadi."Aku lahir di tengah keluarga Tiongkok, Lin. Minuman kayak gini udah jadi minuman sehari-hari buat kami," terang Panda. Ia tersenyum ramah mendapati saingannya itu kini bersedia mencoba kembali racikan obat tradisional yang sempat memicu perdebatan konyol di antara mereka.Linda menarik napas panjang, lalu meminum sisa ramuan di tutup termos itu s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   235. Jauh Lebih Cepat

    "Oke, aku siap, Ja," ujar Panda. Wanita berparas oriental itu mengibaskan tangannya pelan, meluruskan postur tubuhnya sembari menghembuskan napas halus untuk memfokuskan seluruh perhatiannya pada lawan di hadapannya."Serang aku, Nda!" perintah Teja penuh semangat. Pemuda berambut gondrong itu merentangkan kedua tangannya pelan, membuka ruang gerak di tengah hamparan tanah lapang tersebut.Panda bergerak lincah menyerang. Langkah kakinya menyapu permukaan tanah kering tanpa menimbulkan suara keras sedikitpun. Ia meluncur cepat menghampiri posisi Teja berdiri.Olah tubuhnya terlihat gemulai namun bertenaga khas bela diri Tiongkok. Setiap ayunan lengan dan liukan pinggulnya mengalir begitu fleksibel bagaikan kibasan kain. Namun, di balik keanggunan itu tersimpan daya tekan yang padat dan mengincar titik-titik penting tubuh lawan.Teja menghindar namun Panda seperti tak ada habisnya mengejar dan mengunci pergerakan Teja. Begitu pukulan pertama berhasil dielakkan dengan geseran bahu,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   234. Ilusi Gerakan

    Teja mengangguk. "Kayaknya gitu. Soalnya aku juga nggak paham sama tingkatanku sendiri," aku pemuda berambut gondrong itu polos sembari mengibaskan tangannya santai."Itu udah tinggi banget lho, Ja. Aku aja masih ada di ranah bela diri tingkat dasar tahap puncak," sahut Linda. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, terkesima sekaligus takjub mendapati betapa jauhnya jarak kemampuan fisik mereka berdua saat ini."Iya bener tinggi banget itu, Lin. Aku masih di ranah bela diri tingkat sedang tahap fondasi. Aku bahkan awalnya nggak nyangka kalau Teja bisa bela diri," timpal Panda. Wanita berparas oriental itu melangkah mendekati Linda, menatap Teja dengan sorot mata yang dipenuhi rasa hormat atas pencapaian luar biasa pemuda tersebut dalam waktu yang teramat singkat."Ya udah, ayo latihan. Gantian ya lawan aku, habis itu gabungan," kata Teja mengambil tempat di tengah pelataran tanah padat. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memasang kuda-kuda kokoh tak tergoyahkan.Linda maj

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   49. Serangan Beruntun

    "Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status