Share

BAB 20. Rekam Medis

Author: Mira Restia
last update publish date: 2026-07-08 04:25:45

Pukul 07.30 pagi, Bang Rey dan Alif sudah menunggu di depan rumah dengan mobil Ayah.

Bang Rey mengenakan jas abu-abu, membawa map tebal dan sebuah flashdisk. Wajahnya tenang tapi sorot matanya tajam. Alif memakai kaos hitam. Rahangnya mengeras, jelas menahan emosi.

"Bu Ririn, Ibu tunggu di rumah saja, ya," kata Bang Rey pelan. "Mengurus rekam medis dan meminta salinan CCTV rumah sakit tujuh tahun lalu prosesnya rumit. Jika Ibu ikut, Ibu bisa drop lagi. Denis di sini me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 29. Sidak Panti

    Pagi itu langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seperti ikut menahan napas. Udara berat, lembap. Wangi tanah basah yang belum jadi hujan.Pukul 09.00, mobil SUV hitam berhenti di depan gerbang panti asuhan. Cat pagarnya mengelupas, belang seperti luka lama. Tulisan "Panti Asuhan Harapan Bunda" masih terpampang, tapi hurufnya sudah pudar. Huruf "H" dan "B" hampir hilang, seolah Tuhan sendiri yang menghapus nama itu.Aku menggenggam tangan Azka erat. Telapaknya dingin, berkeringat. Denis di sebelahku, wajahnya tegang. Rahangnya mengeras seperti menahan marah. Rey berjalan di depan kami, map cokelat di tangan kiri, payung hitam di tangan kanan meski belum hujan. Punggungnya tegak, jadi tembok pertama yang akan ditabrak badai."Tenang," bisik Rey pelan tanpa menoleh. Suaranya rendah, datar, tapi menenangkan. "Aku di depan. Kalian di belakangku."Gerbang dibuka satpam tua. Tangannya gemetar. Begitu melihat rombongan berseragam KPAI dan Dinas S

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 28 Menelusuri Luka Lama

    Jam 09.00 pagi bel berbunyi lagi. Tiga kali. Ritme yang sama seperti tadi. Rey datang kembali, setelah sebelumnya pamit ada urusan. Kali ini, kedatangannya adalah menjemputku untuk mendatangi KPAI. Aku membuka pintu. Rey berdiri di sana, rapi dengan kemeja putih dan jas abu-abu. Rambutnya masih basah, pasti habis mandi buru-buru. Di tangannya ada map cokelat tebal dan satu kotak kecil berisi tiramisu."Selamat pagi," ucapnya. Suaranya serak tapi tenang. "Sudah siap? Makan dulu yang manis biar lebih semangat menghadapi hari ini."Aku menerimanya tapi sejujurnya masih kenyang. Nasi ayam yang dia bawakan pagi tadi porsinya tidak main-main. "Aku simpan ini di kulkas dulu, ya. Makasih, loh. Tapi aku masih kenyang. Sarapan yang Bang Rey bawakan tadi porsinya banyak banget lagi. Ini sudah ada makanan lagi."Rey tersenyum sambil mengangguk. Senyumnya tidak berlebihan, tapi hangatnya sampai ke dada. Seperti dia bilang "tidak apa-apa" tanpa bicara.

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 27 Luka Azka

    Hari berganti hari dengan ritme yang sederhana, tapi menenangkan. Pagi aku membuat sarapan, mengantar Denis dan Azka ke sekolah. Siang aku duduk di depan laptop, menerjemahkan novel asing halaman demi halaman. Sore menjemput mereka, mengantar mengaji pada Pak Ustadz, lalu pulang mengajak mereka bermain, menemani belajar, dan membacakan dongeng sebelum tidur.Alif sedang sibuk live streaming gamenya, jarang menghubungi. Rey juga belum muncul lagi sejak sore di Alun-Alun itu. Dari status WhatsApp-nya, ia sedang menangani perkara orang lain di luar kota. Foto ruang sidang, tumpukan berkas, dan secangkir kopi hitam.Aku sedikit rindu momen itu. Tawa Denis dan Azka, Rey yang jadi kiper dadakan, kaosnya yang melar ditarik anak-anak.Pukul 19.00 malam, aku di dapur, anak-anak menghampiri. Denis dan Azka masuk bersama, rambut mereka masih basah setelah mandi. "Mah," Denis bertanya duluan. "Kapan Om Rey ajak main lagi?"Azka mengangguk cepat di sampin

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 26. Sweet Memory

    Satu minggu berlalu. Rumah yang dulu sepi kini dipenuhi suara. Penuh warna, penuh tawa. Denis dan Azka kadang akur, kadang bertengkar. Alasannya sederhana. Siapa yang paling dulu dibuatkan susu oleh Mamah. Siapa yang tubuhnya lebih tinggi. Siapa yang hafalan suratnya lebih banyak. Aku hanya memantau dari dapur. Ketika suara mereka mulai meninggi, aku menengahi dengan satu kalimat. "Stok susu di rumah cukup untuk berdua, jangan rebutan. Tinggi kalian sama-sama akan bertambah. Surat yang kalian hafal, pahalanya sama di mata Allah. Lalu mereka saling pandang. Denis mencubit pipi Azka. Azka mencubit balik. Tiga detik kemudian mereka berlari lagi, main kejar-kejaran seperti tidak pernah bertengkar. Di sela mengurus mereka, aku mulai membuka laptop lagi. Orderan terjemahan novel bahasa asing masuk dari penerbit lama. Aku menerjemahkannya bab demi bab, mengirimkannya sebelum tenggat. Rasanya seperti menemukan diriku yang dulu. Yang sempat padam

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 25. Tiramisu dari Rey

    Pagi berikutnya, rumah terasa berbeda. Ada suara sendok beradu dengan piring, ada tawa kecil, ada langkah kaki berlari dari kamar ke dapur.Aku bangun lebih awal. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku memasak dengan hati yang tenang. Aku membuat nasi goreng, telur dadar, dan sayur bening. Menu sederhana. Menu rumah.Denis sudah duduk rapi di meja makan sejak aku selesai menata piring. Matanya berbinar menatap sarapan. Sementara Azka duduk di sebelahnya. Tubuhnya kaku. Punggungnya tegak seperti sedang berada di panti. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ia tidak berani menyentuh sendok sebelum dipersilakan.Aku menuang nasi ke piring mereka. Porsiku sama untuk keduanya. Porsi anak yang sedang tumbuh.Azka menatap piringnya. Alisnya berkerut pelan. "Mamah... kenapa porsi Azka banyak sekali?" Suaranya pelan, ragu. "Apa boleh Azka makan sebanyak ini?"Pertanyaan itu menghantam dadaku. Tujuh tahun ia hidup dengan jatah yang terb

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 24. Sidang

    Pukul 11.00, sidang dimulai. Ruang Sidang 2. Hakim yang sama seperti saat sidang hak asuh Denis dulu. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya tegas. Dafa duduk di kursi pesakitan, mengenakan baju oranye tahanan. Wajahnya pucat, matanya merah seperti kurang tidur berhari-hari. Bu Sinta duduk di sebelah pengacaranya, kepala menunduk dalam. Maya tidak datang. Katanya "sakit". Rey, Alif, Bidan Sri, aku, Denis, dan Azka duduk di kursi penggugat. Azka duduk di sampingku, jemarinya menggenggam tanganku erat. Denis duduk di sebelah, lengan kanannya memeluk Azka dari samping, seperti perisai kecil. Hakim membuka map tebal di hadapannya. "Sidang penetapan hak asuh dan gugatan penipuan penukaran bayi, Ny. Ririn Riadi melawan Dafa Wibowo. Saya akan membacakan hasil DNA dari Laboratorium RS Hasan Sadikin." Seluruh ruangan hening. Hanya terdengar detak jam dinding. Azka mendongak, berbisik ke telingaku. "Mamah, DNA itu apa, Mah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status