LOGINCalvin mencoba menghubungi Olivia, sejuta alasan sudah muncul di kepalanya, namun Olivia tidak juga mengangkat telpon darinya. Calvin pun menghela nafas berat, ke mana semua wanita cantik ini? Hingga pagi ini pun Anna tidak juga membalas pesannya. Tidak Olivia, tidak Anna, keduanya tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi.Biasanya weekend adalah jadwalnya bermain basket, merenggangkan otot-ototnya yang selama lima hari menegang di kantor. Namun kali ini ada misi yang harus segera diselesaikan. Setelah berpakaian casual rapi kaos polo dan juga celana kain pendek, Calvin menyetir kendaraannya menuju rumah Anna.“Pagi Om, saya Calvin. Teman Anna.” Sapa Calvin ketika melihat ayah Anna, Adrian, sedang duduk santai di teras depan sambil membaca koran, ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.Pria paruh baya yang berkacamata itu segera melipat korannya dan memperbaiki posisi duduknya, “Pagi.” jawab Adrian sambil wajahnya menelisik Calvin dari atas ke bawah. Adrian sudah ser
“Vin, besok main basket yuk.” Calvin membaca pesan di handphonenya yang baru saja masuk dari Ivan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya dan juga menyalurkan hasratnya.“Besok aku harus ke sekolah Dariel.” Jawab Calvin sambil mengeringkan rambut di kepalanya.“Kenapa?” balas Ivan.“Ada acara family day di sekolah Dariel dan aku sudah berjanji untuk menemani Olivia.”“Kak Ivan aja yang temani, biar ada alasan ketemu Olivia.” Steffany membalas pesan di grup whatsapp itu.“Kamu memang adik terbaik dan tercantik yang aku punya.”“Baru sadar, Kak?” Jawab Steffany cepat.“Tapi aku harus bilang gimana sama Olivia?” balas Calvin.“Ya bilang aja tiba-tiba ada kerjaan atau apa gitu.” Balas Steffany.“Kerjaan gimana, kan Oliv tau kalau weekend kantor libur.” Sanggah Calvin.“Ya alasan yang lain kek, mau kencan atau apa gitu. Besok pagi baru kamu kabari Olivia kalau kamu tidak bisa hadir, terus Kak Ivan langsung datang aja ke sekolah Dariel. Kan Oliv nggak mungk
Calvin melahap strawberry dari mulut Anna, bahkan ketika strawberry itu sudah berpindah ke dalam mulutnya, Calvin tetap melumat bibir gadis itu seakan tidak merelakan sari-sari strawberry tertinggal di mulut gadis itu.Kelu, itu yang dirasakan Anna ketika pria itu kembali menyentuh bibirnya, bibir yang diam-diam tiap malam selalu dirindukannya. Dan kini dia merasakannya kembali, tetap hangat dan membuat sekujur tubuhnya membeku.Ciuman yang awalnya begitu lembut perlahan berubah menjadi sedikit terburu-buru. Rupanya Anna sudah mulai paham langkah apa yang harus dilakukannya berikutnya. Gadis itu secara otomatis membuka mulutnya, membiarkan lidah Calvin menjelajah di setiap sudut mulutnya. Suara kecupan mulai terdengar dan diilanjutkan suara derit roda kursi yang menandakan kedua insan tersebut semakin merapatkan tubuhnya.Sebelah tangan kiri Calvin mulai merangkul pinggang Anna, sementara tangan kanannya beralih ke rambut Anna melepaskan gulungan rambut yang tertata rapi. Dalam sekeja
Anna membuka bungkus sate dan lontong dan memindahkannya ke dalam piring yang baru saja disiapkan oleh Pak Ilham, sang office boy kantor Calvin.“Pak Ilham, ini untuk bapak.” Ucap Anna memberikan dua bungkus sate padang lengkap dengan lontongnya.“Nggak usah Mbak. Buat Mbak Gianna dan Pak Calvin aja. Saya sebentar lagi mau balik.” Tolak Pak Ilham secara halus.“Engga Pak, ini saya beli memang khusus buat bapak dan keluarga bapak. Saya dan Pak Calvin udah ada kok.”“Diterima saja Pak, rejeki jangan ditolak, apalagi yang ngasi cewek cantik.” Celetuk Calvin yang sedang mengaktifkan komputernya.“Terima kasih, Mbak.” Ucap Pak Ilham tersenyum.“Sama-sama, Pak.”Pak Ilham mengangguk, “Pak Calvin, untuk strawberry-nya sudah saya simpan di kulkas pantry. Mau bapak bawa pulang?”“Oke baik Pak, nanti saya bawa pulang. Pak Ilham kalau mau balik silahkan, nanti saya yang kunci pintu.”“Baik Pak, saya pamit dulu. Mbak, pamit dulu. Sekali lagi terima kasih makanannya.”“Sama-sama. Hati-hati, Pak I
“Anna, kamu jadian sama Calvin?” tangan Anna tiba-tiba ditarik oleh Victor ketika dia keluar dari ruang ganti dan bersiap pulang. Belakangan ini dirinya dan Calvin memang sering jalan bareng, alasannya karena mereka harus memerankan sebagai pasangan baru di depan Ivan dan Olivia. Nampaknya Olivia mulai membuka hati kembali pada Ivan.Anna berusaha melepaskan genggaman tangan Victor, “Aku rasa itu bukan urusan kamu.”“Jadi kamu putusin pertunangan kita karena pasienmu itu? Aku nggak nyangka, ternyata kamu licik banget. Seolah-olah kamu jadi korban, ternyata kamu juga melakukan hal yang sama.”Anna tersenyum, “Hal yang sama? Bukankah seharusnya kamu bersyukur dengan aku memutuskan pertunangan kita, kamu sekarang bebas dan bisa meresmikan hubunganmu dengan Sherly? Kenapa kamu malah marah?”“Aku tidak ada hubungan dengan Sherly! Kami tidak berpacaran.”“Itu bukan urusanku.”“Anna...”“Maaf, aku harus pulang.”Anna melangkah cepat meninggalkan Victor yang mengepalkan tangannya menahan amar
“Uda tidur? Sorry ya kamu pulangnya jadi malam.” Sebuah pesan masuk membuat jantung Anna berdebar.“Belum, masih baca novel. Nggak apa-apa kok, malah biasa pulang pagi.” Balas Anna dengan emoticon lidah terjulur.“Wah, kayaknya nantangin nih.” balas Calvin.“Eh enggak ya, kan memang aku sering pulang pagi kalau dapat tugas jaga malam.”“Jadi besok jaga malam?”“Iyah.”“Kalau gitu lusa pagi aku jemput ya, kita sarapan bareng.”Kali ini jantung Anna terasa hampir copot. Apakah ini ajakan kencan? Astaga Anna pikiranmu. Anna bahkan tidak mampu membalas.“Kebetulan lusa aku ada meeting sama client dekat rumah sakit jam sepuluh. Jadi daripada harus ke kantor dulu, mending aku langsung ke sana. Cari sarapan dekat sana. Itu juga kalau kamu nggak keberatan.”Pesan dari Calvin kembali masuk dan Anna tanpa berpikir langsung menjawab, “Boleh.”“Ok, sampai jumpa lusa pagi. Ya uda kamu istirahat aja. Good night.”“Good night.”Anna tersenyum dan menutup wajahnya yang tiba-tiba terasa panas, ya Tuha
Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangki
“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t
Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari
Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam







