INICIAR SESIÓNSaat itulah Komandna Arman bergerak.Di bawah tatapan semua orang yang dipenuhi keterkejutan, dia mengeluarkan pistol dari pinggangnya dengan gerakan yang tenang.Klik.Suara logam yang tajam membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Namun, alih-alih mengarahkan moncong senjata itu kepada Raka, Komandan Arman justru melangkah maju dan menyodorkannya. Tatapannya tetap dingin tanpa sedikit pun emosi."Kau yang melakukannya sendiri… atau aku yang melakukannya untukmu?"Kalimat itu menghantam seluruh kantin jauh lebih keras daripada perintah ‘tembak pelakunya’ sebelumnya.Semua orang benar-benar terpaku.Apa pelakunya bahkan diberi kesempatan melakukannya sendiri? Komandan Unit ini benar-benar bertindak di luar dugaan.Tidakkah beliau khawatir Raka yang sudah berada di ujung tanduk akan kehilangan akal, merebut pistol itu, lalu mengamuk di dalam kantin?Bukankah adegan seperti itu sering muncul dalam film, ketika seseorang yang sudah putus asa memilih menyeret orang lain bersamanya?Ketika
Bisik-bisik langsung memenuhi kantin.Para kadet memandang Raka dengan sorot mata penuh simpati. Selesai sudah, kali ini Raka benar-benar tamat.Senyum di wajah Kevin dan Celine semakin lebar. Mereka bahkan sudah membayangkan Raka dibawa pergi di depan semua orang, dipermalukan habis-habisan, lalu menjalani hukuman yang berat.Itulah akibatnya jika berani menentang kelompok mereka. Sekalipun sekarang Raka berlutut dan memohon ampun, semuanya sudah terlambat.Namun, pada detik berikutnya, tatapan Komandan Arman berubah semakin dingin. "Lalu, bagaimana dengan orang yang sengaja memutarbalikkan fakta, membuat tuduhan palsu, dan berusaha menyesatkan publik?"Komandan Hendra menarik napas dalam sebelum menjawab dengan suara yang bergema di seluruh kantin. "Lapor, Komandan Unit! Pada masa perang, tindakan tersebut termasuk pelanggaran yang sangat berat. Perbuatan itu setara dengan pengkhianatan dan merupakan kejahatan yang tidak dapat diampuni!"Komandan Arman mengangguk pelan. Kemudian, de
Melihat Raka sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, bahkan masih bisa tersenyum, kemarahan Celine semakin membuncah. Dia merasa wibawanya sedang diabaikan. Tanpa berkata apa-apa, dia melirik Kevin.Kevin langsung memahami maksudnya. Dia melangkah mendekat, lalu berbisik dengan nada mengancam. "Raka, jangan keras kepala! Kalau Komandan Unit Arman tahu kau memukulku dan membuat keributan di kantin, menurutmu kau masih bisa lolos?"Dia menyeringai sinis. "Apalagi kalau nanti aku menambahkan sedikit bumbu pada ceritanya. Itu sudah cukup untuk membuatmu menerima hukuman berkali-kali."Kevin kemudian menunjuk ke arah Celine. "Celine sudah memberimu jalan keluar. Itu satu-satunya kesempatanmu untuk selamat. Cepat berlutut, minta maaf kepada kami, lalu penuhi semua syaratnya. Kalau tidak, bahkan dewa pun tidak akan bisa menyelamatkanmu.""Begitukah?" Senyum Raka justru berubah semakin dingin.Di bawah tatapan semua orang, dia sama sekali tidak terlihat panik. Sebaliknya, dia dengan tenang
Ketika suasana di kantin membeku dan semua orang menunggu bagaimana para instruktur akan menangani keributan itu, sebuah tekanan yang jauh lebih besar tiba-tiba menyelimuti ruangan."Sudah cukup membuat keributan?"Suara itu tidak terdengar keras, tetapi wibawanya langsung membungkam seluruh kantin.Semua orang spontan menoleh ke arah pintu.Di sana berdiri sosok pria, tatapannya yang setajam elang menyapu setiap sudut ruangan tanpa melewatkan seorang pun. Tekanan tak kasatmata langsung memenuhi udara hingga suasana di dalam kantin terasa beberapa derajat lebih dingin."Komandan Unit!"Ekspresi Komandan Hendra beserta para instruktur lainnya langsung berubah. Hampir secara refleks mereka menegakkan badan dan memberi hormat militer dengan sikap sempurna.Orang yang baru datang adalah Komandan Arman Halim.Para kadet yang semula masih berkerumun langsung ketakutan oleh aura pria itu. Mereka buru-buru mundur dan membuka jalan.Beberapa mahasiswa senior yang belum memahami situasi hanya b
Kekuatan pukulannya begitu besar hingga kepala Kevin terlempar ke samping dan darah langsung muncul di sudut bibirnya.Suasana mendadak membeku.Para kadet yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi langsung tercengang.Di mata mereka, Kevin baru saja berlari ke depan, lalu terdengar suara tamparan keras.Sesaat kemudian, dia sudah jatuh ke lantai.Inilah momen yang dia tunggu-tunggu.Kevin menutupi wajahnya dan mengerang kesakitan. Kemampuan aktingnya benar-benar pantas mendapat penghargaan."Ada yang dipukul! Raka Mahendra memukul orang!"Dia berguling-guling di lantai sambil berteriak sekuat tenaga."Instruktur! Instruktur, tolong saya! Raka memukul orang di depan umum! Tolong beri saya keadilan!"Benar-benar contoh sempurna seorang pelaku yang lebih dulu menuduh korbannya."Sial!"Bara dan yang lain melihat semuanya dengan jelas dan langsung meledak marah."Kau bohong! Kau yang memukul dirimu sendiri!"Bara begitu marah hingga seluruh tubuhnya gemetar. Dia menunjuk Kevin ya
"Aku akan mengatakannya sekali lagi. Kembalikan uang tiga ratus juta itu hari ini. Kalau tidak...""Kalau tidak apa?"Melihat begitu banyak orang berada di pihaknya, Kevin kembali dipenuhi rasa percaya diri dan langsung memotong ucapan Raka. "Apa? Kau mau memukulku?""Raka Mahendra, kuberitahu sesuatu. Ini lingkungan militer! Di sini ada para kadet yang sedang menjalani pelatihan, sama seperti kita."Dia menunjuk ke arah orang-orang di belakangnya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling dengan ekspresi sombong. "Hari ini, coba saja sentuh aku sekali. Begitu banyak mata yang melihat. Mereka semua adalah saksi!"Melihat Raka tetap diam, Kevin mengira lawannya tidak berani bertindak. Kepercayaan dirinya langsung melonjak. Dia bahkan melangkah maju beberapa langkah dan mengangkat dagunya dengan angkuh."Ayo! Pukul aku!""Ayo…! Pukul aku kalau berani!"Serangkaian tindakan aneh Kevin membuat seluruh kantin tercengang. Ekspresi percaya dirinya yang berlebihan, ditambah ucapan yang begitu prov
Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemanca
Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu te
Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.
WIUUU~ WIUUU~Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.Koridor itu hancur berantakan.Retakan menjalar di tembok, beberapa pint







