Share

Bab 2

Author: Lalapoo
last update publish date: 2026-05-04 12:41:45

Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.

Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamkan mata, seolah mencoba menahan sesuatu yang akhirnya runtuh di dalam dirinya.

Selama ini, ia percaya bahwa bertahan adalah kekuatan.

Bahwa selama ia menolak perceraian itu, ia masih memiliki kendali atas hidup dan pernikahannya. Ia pikir gelarnya sebagai ratu dan perasaannya yang tulus akan cukup untuk menjaga semuanya tetap utuh.

Namun kenyataannya, semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan Carsein. Lelaki itu tidak hanya menyingkirkannya, tetapi menghancurkan segala yang ia miliki, orang tuanya, keluarganya, bahkan harga dirinya.

Bayangan kecelakaan kereta kuda itu kembali muncul di benaknya. Kabar kematian yang datang tiba-tiba, duka yang bahkan belum sempat ia cerna sepenuhnya.

Dan kini, ia tahu kebenarannya. Itu bukan kecelakaan. Sejak awal, ia sudah mencurigainya, hanya saja ia menolak mempercayainya. 

Jari-jari Laticia mengerat di atas pahanya, mencengkeram kain gaun hitam yang masih ia kenakan sebagai tanda berkabung.

Anehnya, tidak ada air mata yang jatuh. Seolah ia telah melewati titik di mana tangisan tidak lagi berarti apa pun. Jika Carsein menolak menceraikannya, maka ia tidak punya pilihan selain tetap tinggal.

Namun kali ini, bukan sebagai wanita yang bertahan karena cinta.

“Yang Mulia…” suara Melisa terdengar hati-hati,.

Laticia membuka matanya dan menoleh.

Asistennya berdiri tidak jauh darinya, wajahnya menyimpan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

“Grand Duke sudah datang lebih awal. Beliau menunggu Anda di ruang tamu.”

Laticia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Bahkan di masa berkabung seperti ini, ia tidak diberi ruang untuk berhenti. Ia tetap harus berdiri sebagai ratu, seolah tidak ada yang terjadi. Dengan gerakan tenang, ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang makan itu.

Namun langkahnya terhenti begitu ia memasuki lorong.

ia melihat mereka.

Carsein berdiri begitu dekat dengan Pricilla Seymour hingga nyaris tidak ada jarak di antara keduanya. Tangan pria itu bertumpu santai di pinggang Pricilla, seolah sentuhan itu sudah menjadi kebiasaan yang terlalu sering dilakukan.

Pricilla mendongak sambil tersenyum lembut. Sorot matanya penuh rasa dimanja, sementara Carsein membalas tatapan itu dengan kehangatan yang asing bagi Laticia.

Lalu, tepat di depan matanya, Carsein menundukkan kepala dan mengecup kening Pricilla dengan lembut. Seolah keberadaan Laticia sama sekali tidak penting.

Setelah kecupan singkat itu, Pricilla tersenyum malu-malu. Tangannya perlahan terangkat mengusap perutnya yang membuncit dengan gerakan penuh kehati-hatian.

Gerakan sederhana itu membuat sesuatu di dalam dada Laticia terasa sesak.

Bukan karena iri, melainkan karena ironis. Karena saat ini ia juga sedang mengandung anak Carsein.

Hanya saja usia kandungannya bahkan belum mencapai tiga bulan. Perutnya masih rata, tubuhnya belum menunjukkan perubahan apa pun, dan belum ada seorang pun di istana yang mengetahui hal tersebut.

Termasuk Carsein sendiri.

Tanpa sadar, jemari Laticia bergerak pelan menyentuh bagian bawah perutnya di balik lipatan gaun.

“Yang Mulia Ratu.” Suara Pricilla memecah kesunyian.

Wanita itu membungkukkan tubuh sedikit, meskipun tidak benar-benar terlihat hormat.

“Saya jadi memperlihatkan sesuatu yang memalukan di depan Anda.”

Nada suaranya terdengar lembut dan manis seperti biasa. Namun di balik kelembutan itu, tersembunyi kemenangan kecil yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Carsein akhirnya menoleh.

Tatapan pria itu jatuh pada Laticia dengan dingin dan datar. Tidak ada keterkejutan, tidak ada rasa bersalah, seolah ia sama sekali tidak merasa perlu menjelaskan apa pun.

“Tidak masalah,” jawab Laticia tenang.

Jawaban itu membuat Pricilla tampak sedikit terkejut.

Dulu, Laticia pasti akan tersenyum lembut lalu memuji hubungan baik antara kaisar dan selir kesayangannya. Ia akan menelan semua rasa sakitnya sendiri demi membuat Carsein merasa nyaman.

Namun sekarang ia terlalu lelah untuk berpura-pura.

“Yang Mulia Kaisar terlalu memanjakan saya,” lanjut Pricilla sambil mengusap perutnya lagi. “Hanya karena saya hamil, beliau sampai melupakan etika di depan Anda.”

Laticia menatap wanita itu lurus.

“Apakah sekarang kau mencoba menghormatiku?”

Suasana di lorong mendadak berubah sunyi.

Para pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam. Bahkan Melisa yang berdiri di belakang Laticia ikut menahan napas.

Pricilla tampak terdiam sesaat sebelum terkekeh pelan.

“Yang Mulia,” katanya manis, “bukankah Anda sendiri yang dulu meminta saya bersikap santai di hadapan Anda?”

Laticia menghela napas perlahan.

“Setelah kupikir-pikir,” ucapnya lembut, “itu adalah keputusan yang salah.”

Ia melangkah maju.

“Bagaimanapun juga,” lanjut Laticia perlahan, “aku adalah ratu.”

“Cukup.” Suara dingin Carsein memotong di antara mereka.

Pria itu melangkah maju sedikit, berdiri samar-samar di depan Pricilla seperti melindunginya secara refleks. Gerakan kecil itu membuat dada Laticia terasa semakin dingin.

Tatapan tajam Carsein tertuju padanya.

“Kau datang hanya untuk mempermasalahkan hal sepele seperti ini?”

Laticia menatap pria itu beberapa saat.

Dulu, hanya dengan melihat Carsein membela wanita lain saja sudah cukup membuatnya menangis diam-diam sepanjang malam.

Sekarang yang ia rasakan hanyalah kelelahan yang mendalam.

“Aku sedang mengingatkan batasan,” jawabnya tenang. “Atau Yang Mulia Kaisar sudah lupa siapa ratunya?”

Tatapan Carsein mengeras.

“Pricilla sedang mengandung anakku,” katanya dingin. “Ia tidak perlu menerima tekanan darimu.”

Kalimat itu membuat jemari Laticia perlahan mengepal di balik lengan bajunya.

Anakku... betapa mudahnya Carsein mengucapkan itu dengan nada penuh perlindungan. Sementara anak lain miliknya bahkan belum pernah ia sadari keberadaannya.

Laticia tersenyum tipis.

“Tekanan?” ulangnya pelan. “Aku bahkan belum melakukan apa pun.”

Pricilla segera memegang lengan Carsein dengan lembut.

“Yang Mulia, jangan karena saya hubungan Anda dengan Ratu menjadi buruk.”

Carsein tidak menepis sentuhan itu. Tatapan matanya tetap dingin saat memandang Laticia.

“Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?”

Hening sesaat.

Laticia menatap pria yang telah menjadi suaminya selama bertahun-tahun itu dalam diam.

“Aku hanya lewat namun selir anda menyapa saya,” jawabnya akhirnya.

Suaranya tetap lembut dan tenang.

“Tapi karena Yang Mulia bertanya… aku lebih baik mengatakanya lagi.”

Carsein mengernyit tipis.

Laticia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap pria itu lurus tanpa sedikit pun keraguan.

“Berikan surat perjanjian cerai itu. Aku akan menandatanganinya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 172

    Malam itu, Carsein tidak dapat memejamkan mata. Ucapan Pricilla terus berputar di dalam benaknya. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Laticia tidak mungkin melakukan hal yang melanggar kehormatannya sebagai seorang ratu. Ia mengenal perempuan itu lebih baik daripada siapa pun.Namun setiap kali keyakinan itu mulai muncul, bayangan yang ia lihat di taman kembali menghantuinya. Laticia dan Lereg duduk berhadapan, makan malam bersama. Bahkan Laticia sempat tersenyum.Senyum yang sudah sangat lama tidak pernah ia tunjukkan kepadanya. Carsein menghela napas kasar. Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela ruang kerjanya, lalu memandang halaman istana yang masih diterangi cahaya obor."Mustahil..." gumamnya pelan. "Laticia bukan wanita seperti itu."Akan tetapi, keraguan yang telah ditanamkan Pricilla perlahan menggerogoti pikirannya. Bagaimana jika selama berada di Utara, hubungan mereka benar-benar berubah? Bagaimana jika Laticia tidak lagi memiliki tempat untuknya di

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 171

    Langit malam menyelimuti taman Istana Kekaisaran dengan cahaya bulan yang lembut. Di sebuah gazebo yang menghadap danau, Laticia dan Lereg duduk berhadapan. Di atas meja kayu terbentang beberapa laporan, peta wilayah, serta catatan mengenai distribusi pangan dan persediaan senjata.Makan malam yang tersaji di antara mereka hanyalah pelengkap. Sejak tadi, pembicaraan keduanya tidak pernah keluar dari urusan pemerintahan."Kalau kementerian logistik tidak mampu memenuhi tenggat tujuh hari, gudang di Utara bisa menjadi cadangan terakhir," ujar Lereg sambil menunjuk salah satu titik pada peta.Laticia menggeleng pelan."Jangan." Lereg mengangkat pandangan. "Mereka harus belajar bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri. Kalau Utara terus membantu, mereka tidak akan pernah berubah."Lereg tersenyum tipis."Kalau begitu aku akan menunggu keputusanmu."Belum sempat Laticia menjawab, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat.Bruk.Carsein berhenti tepat di depan gazebo. Tatapannya lang

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 170

    Tatapannya kembali beralih kepada para pejabat."Mulai hari ini, setiap kementerian bertanggung jawab penuh atas bidangnya masing-masing. Besok pagi, aku ingin kalian kembali ke ruangan ini.""Bukan membawa daftar masalah. Tetapi membawa rencana, solusi, dan waktu pelaksanaannya."Ia berhenti sejenak, memastikan setiap orang mendengar ucapannya dengan jelas."Siapa pun yang datang dengan alasan, tanpa penyelesaian, lebih baik menyerahkan jabatannya hari itu juga."Suara Laticia menggema di seluruh ruang rapat. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Tak seorang pun memiliki keberanian untuk membantah.Baru hari itu mereka benar-benar menyadari bahwa Ratu Laticia telah kembali. Namun perempuan yang kini berdiri di hadapan mereka bukan lagi sosok yang diam-diam membereskan semua kekacauan dari balik layar.Ia akan memastikan setiap orang yang menyandang jabatan di Kekaisaran Ascham benar-benar layak berada di kursinya. Dan bagi mereka yang tidak mampu Laticia sendiri yang akan menying

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 169

    Ucapan Laticia membuat tak seorang pun bergerak dan tak seorang pun mengangkat kepala. Beberapa saat kemudian, Jenoch melangkah maju lebih dulu. Ia berlutut di hadapan Laticia, diikuti para kesatria dan seluruh pelayan yang berada di aula."Kami bersumpah akan tetap berada di sisi Yang Mulia.""Sampai akhir."Suara itu disusul oleh yang lain hingga memenuhi seluruh aula."Kami bersumpah setia kepada Yang Mulia Ratu."Sudut bibir Laticia terangkat membentuk senyum tipis. Permainan telah dimulai. Dan kali ini ia tidak akan menghadapinya sendirian.***Keesokan paginya, aula rapat Kekaisaran Ascham kembali dipenuhi para pejabat tinggi, menteri, panglima, dan para bangsawan yang memiliki kedudukan penting di pemerintahan.Suasana ruangan jauh lebih tegang dibanding biasanya. Semua orang mengetahui bahwa untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan menghilang dari ibu kota, Ratu Laticia akan kembali menghadiri sidang kekaisaran.Di kursi utama, Carsein duduk dengan wajah serius. Di sisi ka

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 168

    Pricilla mengepalkan kedua tangannya di balik lengan gaunnya. Semakin lama, ia merasa Laticia perlahan kembali mengambil sesuatu yang selama ini ia yakini telah menjadi miliknya.Perhatian Carsein, kepercayaan Carsein. Bahkan kini harga diri Carsein sendiri. Sementara itu, Laticia yang masih berdiri di balik pintu Istana Ratu mendengar samar percakapan tersebut. Namun wajahnya tetap tenang. Tidak ada sedikit pun perubahan dalam ekspresinya.Ucapan Carsein tidak lagi mampu menggoyahkan hatinya. Yang ia nilai sekarang bukanlah kata-kata. Melainkan tindakan.Di sisi lain, Carsein terus melangkah menyusuri koridor utama hingga seorang asistennya segera menghampiri dan membungkukkan badan."Yang Mulia."Carsein menghentikan langkahnya."Panggil seluruh pejabat istana."Asisten itu mengangkat kepala."Termasuk para bangsawan yang terlibat dalam urusan pemerintahan beberapa bulan terakhir."Mata sang asisten membelalak."Yang Mulia... maksud Anda...""Kita akan mengadakan rapat." Nada suara

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 167

    Langkah Carsein terhenti. Koridor utama istana yang semula hanya dipenuhi suara langkah kaki para pelayan kembali diliputi keheningan. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela-jendela tinggi memantulkan warna keemasan di lantai marmer, tetapi kehangatan itu sama sekali tidak mampu mengurangi jarak yang kini terbentang di antara keduanya.Carsein menatap Laticia tanpa berkedip. Selama beberapa saat, ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Dahulu, setiap kali ia membutuhkan sesuatu, Laticia akan langsung mengerti bahkan sebelum ia mengatakannya. Tidak pernah ada penolakan. Tidak pernah ada syarat. Perempuan itu selalu menyelesaikan semuanya dengan tenang, seolah memang itulah tugasnya sebagai seorang ratu.Namun sekarang Laticia tidak lagi berdiri di hadapannya sebagai wanita yang akan menerima semua permintaannya begitu saja.Ia telah berubah dan perubahan itu begitu jelas hingga Carsein tidak bisa lagi berpura-pura tidak menyadarinya."Aku tahu," ucapnya akhirnya dengan su

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 101

    Melisa menunduk dalam, memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar percakapan biasa.“Baik, Yang Mulia.”Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Laticia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Gaunnya bergesekan pelan di atas lantai marmer, langkahnya terdengar mantap meski tubuhnya belum sepenuhnya puli

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 37

    Suasana di sekitar mereka langsung berubah canggung begitu nama Grand Duke Lereg disebutkan.Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik kecil sambil berpura-pura tetap melanjutkan percakapan masing-masing. Bahkan seorang viscount tua buru-buru meneguk wine-nya terlalu cepat

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 3

    “Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di

  • Bercerai Dari Kaisar!   Bab 1

    “Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status