LOGIN"Bercinta? Kamu gila?!"
Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino, kembali bersandar dengan santai. "Pacaran, Ta. Pacaran dewasa." "Kenapa aku harus menerima tawaran kamu?" Vino menghela napas. "Kata lo kompensasi bikin lo jomblo, kan?" "Mulut kamu bisa lebih baik sedikit nggak?" tukas Bita. Bibirnya mengerucut sebal. "Kan Fakta. Seharusnya kalo ada yang tertarik, mau lo ketempelan cowok paling tampan kayak gue atau nggak, mereka tetep bakalan maju. Tapi, apa? Nggak ada, kan?" Kalimat Vino telak menampar ego Bita. Kenyataan bahwa memang tidak ada satu pun laki-laki yang mencoba mendekatinya selama ini membuat dadanya mendadak sesak. Mata Bita mulai berkaca-kaca karena tersinggung. "Aku emang nggak kayak kamu yang bisa gonta-ganti pacar seminggu sekali," gumam Bita, suaranya mulai bergetar. Melihat gurat sedih yang nyata di wajah Bita, sorot mata Vino sedikit melunak, meski suaranya tetap terdengar datar. "Lo bukan nggak menarik. Lo itu... .... Cowok seumuran Mas Aksa nggak mencari yang imut. Dia cari perempuan dewasa yang bisa nemenin waktunya. Paham?" ujarnya menggantung Bita mengerutkan kening. "Intinya apa? Omonganmu muter-muter." Vino melangkah maju, mencondongkan tubuh hingga wajahnya sejajar dengan cuping telinga Bita. Embun napasnya yang hangat menggelitik kulit leher gadis itu. "Intinya, lo harus belajar jadi dewasa di depan dia.” “Dewasa dalam hal?” Vino terkekeh pelan, suaranya terdengar berat. “Ya… semua? Mulai dari penampilan, tingkah laku sampai, hal-hal lain yang berbau dewasa.” Bita membelalak ngeri. "Gamau. Jangan ajarin aku aneh-aneh ya, Vino.” "Dicoba dulu, Ta. Malunya dipikir belakangan." "Pokoknya aku nggak mau!" Bita memutar tubuh, berjalan cepat masuk ke dalam rumah demi menghindari tatapan mengintimidasi milik Vino. Namun, Vino tidak menyerah. Langkah kakinya yang panjang dengan mudah mengikuti Bita hingga ke area dapur. "Ini satu-satunya kesempatan lo, Ta. Gue kan lebih berpengalaman dari Mas Aksa. Jadi, bisa bantu lo biar gak ngeganggu gue terus.” Bita mengerang frustrasi, membalikkan badan dengan cepat. "Orang mami kamu kok yang minta.” Vino memegang kedua pundak Bita, menguncinya di tempat. "Pendekatannya aja deh.” Bita melepaskan diri secara halus, bergerak menuju bar dapur untuk menuangkan air putih ke gelasnya. "Emang jaminannya berhasil kalau kamu yang ajarin?” Vino bersandar di tepian pantry, memperhatikan Bita yang sedang minum dengan ekspresi menilai. Penampilan cowok itu sebenarnya sangat sederhana—hanya kaus putih polos yang dilapisi celana pendek. Tapi harus Bita akui, Vino selalu tahu bagaimana cara terlihat menarik tanpa harus berusaha keras. "Selera gue sama Mas Aksa nggak jauh beda." ujar Vino penuh percaya diri. Bita menunduk, menatap ujung sandalnya. Tawaran Vino terdengar sangat menggiurkan, namun membayangkan dirinya harus membuang urat malu demi menggoda Aksa membuat nyalinya menciut. "Nggak, tetap nggak mau. Udah, jangan dibahas lagi." Bita langsung berlari menuju kamarnya di lantai atas, merebahkan diri di atas kasur, lalu menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Pintu kamar terbuka. Langkah kaki Vino kembali terdengar mendekat. "Gue bisa bikin Mas Aksa lirik lo deh, Ta," bisik Vino. Bita membalikkan tubuhnya menjadi terlentang, berniat memprotes, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan. Wajah Vino sudah berada tepat di atasnya. Cowok itu bertumpu dengan kedua lengan di sisi kepala Bita, mengurung tubuh mungil gadis itu di bawah kungkungannya. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat jantung Bita berdegup tidak karuan. "Mau sampai kapan?” tanya Vino, suaranya merendah, menatap langsung ke manik mata Bita. "Sampai dia bawa perempuan lain ke rumah ini buat dikenalin sebagai calon istri?" Ulu hati Bita seperti dihantam benda tumpul. Sampai kapanpun, Bita tidak akan pernah bisa membayangkan Aksa bersanding dengan wanita lain. “Emang gak penasaran gimana rasanya kayak di novel-novel lo?” ujarnya mendongak ke arah rak buku Bita. Bita menggigit bibir bawahnya erat-erat. Pikiran-pikiran liar yang selama ini hanya ada di dalam kepalanya saat membaca novel roman mendadak berputar. Tentang bagaimana rasanya jika tangan Aksa yang besar dan hangat itu menangkup jemarinya. "Nggak penasaran... gimana rasanya beneran jatuh cinta?” Embusan napas Vino kembali menyapu wajah Bita, begitu dekat hingga atmosfer di dalam kamar itu mendadak terasa pekat dan menyesakkan. Jantung Bita bertalu liar, sampai-sampai dia harus mencengkeram sprei demi menahan ketegangan yang mendadak mengunci tubuhnya. Namun, di antara semua debaran aneh itu, logikanya mendadak berputar ke satu arah yang paling masuk akal. Laki-laki ini Alvino. Tidak ada hal gratis di kamus hidupnya, apalagi sebuah bantuan cuma-cuma. Bita mengerutkan kening, mencoba mendorong dada Vino agar menjauh. "Kamu nolongin aku gini, imbalannya apa?" "Mau minta apa?" imbuhnya. Vino menyugar rambutnya, lalu menoleh dengan seringai tipis yang menyebalkan. "Minta nomor temen lo dong, Shasa." Bita melotot, rasa melankolis yang sempat mengudara semenit lalu seketika lenyap tak berbekas. "Buat apa?!" “Kenalan." Vino terkekeh pelan tanpa dosa. “Pergi kamu!" Bita menyambar bantal di dekatnya, lalu menghantamkannya kuat-kuat ke punggung cowok itu. "Aku nggak akan biarin cowok macam kamu mendekati temanku!" Ternyata, semua uluran bantuan tadi akal-akalan pria ini demi bisa mendekati Shasa.Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.
"Kak Bita!" Suara Fero terdengar dari arah deretan kursi ruang tunggu. Bita mendongak mendapati keluarga Fero ternyata sudah lebih dulu tiba dan sedang menunggu di depan gate keberangkatan. Bukan hanya keluarga inti Fero yang ada di sana. Kakeknya juga ikut hadir, begitu pula beberapa anggota keluarga besar yang sempat duduk semeja dengannya di ruang VIP malam itu. Melihat mereka berkumpul sebanyak itu, langkah Bita seketika terasa semakin berat. Di sisi lain, Anggun sudah lebih dulu berjalan menghampiri Tante Fiona yang duduk di kursi roda. "Nah, akhirnya datang juga!" sambut Tante Fiona dengan senyum lebar. Sementara kedua ibu itu mulai mengobrol hangat, Fero sudah lebih dulu menghampiri Bita. "Biar aku aja, Kak." Tanpa menunggu jawaban, Fero mengambil gagang koper dari tangan Bita. Bita sempat ingin menolak. Namun melihat Fero yang sudah lebih dulu menarik koper
Pada akhirnya, hari yang paling tidak dinantikan Bita pun tiba.Semalaman Bita sudah berusaha membangun kembali semangatnya. Namun begitu menyeret koper keluar rumah, seluruh antusiasme yang susah payah ia kumpulkan semalam seolah lenyap begitu saja mendapati di pekarangan rumah seberang, Mami dan Vino tampak sedang berkebun bersama."Ada apa nih?" seru Mami begitu melihat beberapa koper mulai dimasukkan ke bagasi mobil. Wanita itu segera menghampiri pagar yang membatasi kedua rumah mereka. "Kok bawa koper banyak banget? Mau liburan, ya?"Anggun yang sedang memastikan tak ada barang yang tertinggal langsung menoleh sambil tersenyum. "Iya. Mau liburan ke Bali. Sekalian Papa Bita mau ngecek proyeknya di sana."Mami langsung memasang wajah merajuk. "Kok nggak ngajak-ngajak aku sih, Nggun? Aku juga pengen ke Bali. Udah kangen pantainya."Anggun terkekeh kecil. "Ini aja keluarga kami diajak sama koleganya Mas Bram. Dari tempat nginep sampai ak
Tiga minggu kemudian, sehari sebelum keberangkatan ke Bali, Anggun tampak mondar-mandir di kamar Bita sambil mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam lemari."Yang ini jangan dibawa. Bahannya tebel, nanti kepanasan di Bali." Anggun kembali membuka lemari, mengambil beberapa pakaian lain, lalu meletakkannya di atas kasur yang kini hampir penuh.Sementara itu, Bita hanya duduk bersila di lantai sambil melipat pakaian yang sudah dipilih ibunya. "Ma...""Hm?""Ini kan cuma empat hari. Kok bajunya kayak mau pindahan begini, sih?"Anggun mendelik. "Namanya juga liburan. Siapa tahu nanti pengen ganti baju dua kali sehari."Bita hanya mendesah pasrah dan melanjutkan melipat bajunya dengan tak semangat.Anggun bergerak memeriksa isi koper. "Obat udah. Sandal udah. Sunscreen udah. Topi...Eh, topi mana topinya?"Bita menunjuk gantungan di balik pintu. "Tuh."Begitu melihat topi itu masih tergantung, Anggun
"Bita!" Bita sempat berencana mengunjungi rumah Sasha sore nanti. Namun ternyata, gadis itu lebih dulu muncul di depan pintu rumahnya, tepat setelah makan siang. Bita sempat tertegun sesaat sebelum mempersilahkannya masuk. Setelah berbincang sebentar dengan Anggun, Sasha pun mengikuti Bita menuju kamar. "Apa nggak bosen, Ta? Liburan cuma di rumah terus?" tanya Sasha sambil melirik ke sekeliling kamar sebelum menjatuhkan diri di atas ranjang. "Harusnya sih udah liburan ke Puncak." Bita menyenggol pelan lengan sahabatnya. "Tapi ada orang yang batal ngajakin." Sasha langsung meringis bersalah. "Maaf, Ta. Habisnya Mama kamu nggak ngebolehin karena kaki kamu kan baru aja dilepas perbannya kemarin." Bita tersenyum kecil. "Iya, nggak apa-apa. Aku cuma bercanda." Ia ikut naik ke atas ranjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Lagian aku juga udah ada agenda liburan, kok."
Vino baru saja membuka kabinet dapur dan mengeluarkan toples kopi hitam ketika suara langkah kaki disertai ocehan Mami terdengar dari arah ruang tengah. "Makanya! Mami sampai hampir pingsan lihat anak ganteng Mami pulang-pulang mukanya babak belur. Nah, tuh dia orangnya." Vino spontan menoleh. Begitu melihat Bita ikut bersama Mami, matanya langsung membulat. Ia refleks ingin memalingkan wajahnya, namun sudah terlambat. Bita keburu melihat lebam di sudut bibirnya. Gadis itu bahkan langsung berjalan cepat menghampirinya. Raut wajahnya berubah penuh khawatir saat menatap memar yang mulai membiru di sudut bibir Vino. "Muka kamu kenapa? Kok bisa begini?" "Cuma kepentok tiang." Bita langsung mengernyit. "Nggak mungkin kepentok bisa kayak gitu." "Nah, kan!" sahut Mami dari belakang. "Mami juga bilang gitu. Itu mah jelas dipukul orang. Mana nggak mau ngaku lagi habis dari mana. Kemarin
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal







