LOGIN"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus.
Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fakultas. Vino menyenggol lengannya tanpa perasaan. "Kenapa lagi?” "Mas Aksa beneran suka sama Kak Meta?" tanya Bita lirih tak ada tenaga. Vino terkekeh pelan. Ia memakai kembali kacamata hitamnya sebelum menjawab. "Kalau nggak suka, mana mungkin foto itu cewek betah di dompetnya sampai bertahun-tahun? Mau bukti apa lagi, Ta?" Bita menggeleng lemah. Ia hanya ingin mencari satu saja kemungkinan bahwa Aksa tidak sedang memikirkan orang lain. Namun, semua fakta justru merujuk pada satu kesimpulan tak terbantahkan yang membuat nyalinya mengerdil. Napasnya terembus berat. "Ada masalah, Ta?" tanya Vino sekonyong-konyong. Bita menoleh, menatap Vino dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maksud kamu apa cerita-cerita soal hubungan Mas Aksa dan Kak Meta tadi?" Suaranya mulai bergetar menahan tangis. “Kamu, kan udah tau perasaanku ke Mas Aksa, kenapa sengaja mancing-mancing? Kamu jahat, Vin." Vino mendecak pelan. Tangan panjangnya menarik bahu Bita, membawa gadis itu menjauh menuju sudut selasar yang sepi. "Dengerin gue dulu." Bita tidak menjawab, hanya sesenggukan kecil sambil memalingkan wajah. "Gue sengaja bawa-bawa nama Kak Meta buat tes seberapa serius lo sama abang gue," ujar Vino, bersandar pada pilar beton di dekat mereka. "Ternyata lo se-nggak rela itu, ya?" Bita memilin ujung cardigan longgarnya, memilih bungkam karena Vino jelas sudah tahu jawabannya. “Tapi, Ta. Mas Aksa cuma cinta sepihak. Gue pernah dengar dia ditelepon Kak Meta di kamar, dan mereka cuma bahas cowok bule yang lagi didekati Kak Meta di luar negeri." Bita langsung mendongak, menatap Vino penuh minat. "Mas Aksa cuma dijadikan tempat curhat. Ya tahu sendiri, kan, dia kalau sudah mode dewasa, omongannya mirip motivator," tambah Vino. Ia melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahu Bita dengan santai namun tegas. "Kesempatan lo masih terbuka lebar. Masalahnya, lo mau gue bantu atau enggak?" Bita menatap Vino gamang. "Tapi Kak Meta... jauh lebih dewasa. Apa aku masih ada kesempatan?" "Cowok itu makhluk visual, Ta. Apalagi tipe-tipe kaku kayak Mas Aksa, seleranya yang elegan dan sensual. Jelas bertolak belakang sama lo yang bentukannya begini," tutur Vino jujur tanpa berniat menghina. “Tapi tenang, lo masih bisa diubah untuk masuk ke tipe Mas Aksa. Jadi … mau gue dibantu, kan?” Belum sempat Bita menjawab, segerombolan mahasiswi dari jurusan sebelah berjalan melewati selasar dan langsung mengenali Vino. Sebagian bahkan terang-terangan meminta nomornya. Vino hanya melempar senyum tipis, menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala. "Duluan, ya. Lagi ada urusan bentar," jawabnya singkat. Suaranya yang berat dan pembawaannya yang tenang justru membuat cewek-cewek itu tertawa genit sebelum akhirnya berjalan menjauh. Sikap Vino yang tidak banyak tingkah namun magnetis itu membuat Bita sadar, bajingan di depannya ini memang punya kontrol penuh atas pesonanya. Vino kembali mengalihkan atensi sepenuhnya pada Bita. "Jadi, gimana?" "Aku mau." Vino menaikkan sebelah alisnya. "Mau apa? Nomor gue?" "Bukan! Penawaran kamu yang tadi. Aku mau asalkan bisa bikin Mas Aksa ngelirik aku," jawab Bita cepat, membuang gengsinya jauh-jauh. Vino terdiam beberapa detik, mengamati binar keputusasaan di mata bulat milik Bita. Seringai badung yang tipis perlahan terukir di sudut bibirnya. "Oke. Tapi ada biaya administrasi di awal," kata Vino santai. "Maksud kamu?" "Minta nomor Shasa.” Bita melotot, rasa sedihnya seketika menguap digantikan rasa kesal. “Udah aku bilang cari cewek lain aja buat dideketin. Jangan Sasha!" "Itu namanya simbiosis, Ta. Lo dapat abang gue, gue dapat teman lo. Adil, kan?" Vino terkekeh pelan, lalu merendahkan suaranya, membuat atmosfer di antara mereka mendadak berubah serius. "Dan satu lagi ... ada syarat utamanya." "Apa? Jangan yang aneh-aneh." Vino menatap langsung ke manik mata Bita, mengunci fokus gadis itu sepenuhnya. "Apapun pelajaran yang gue kasih nanti, lo nggak boleh membantah. Lo harus ikut semua instruksi gue tanpa pengecualian.""Tapi aku nggak suka kamu! Kamu juga tahu itu, kan?" sentak Bita. Fero justru terkekeh pelan, seolah mendengar sesuatu yang menggelikan. "Tahu, kak. Bahkan bukan cuma tahu. Aku malah udah ngerti banget." Laki-laki itu sedikit membungkukkan tubuh hingga tinggi mereka sejajar. Tatapannya lurus mengunci mata Bita. "Tapi kalau orangtua Kak Bita suka sama aku, Kak Bita bisa apa?" Rahang Bita langsung mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Sementara tatapannya dipenuhi rasa kecewa. "Aku sampai nggak ngenalin kamu, Fer. Kamu berubah." Fero kembali tertawa. Kali ini sedikit lebih keras. "Siapa yang bikin aku berubah? Kak Bita." Senyumnya perlahan sirna. "Selama ini aku terus berusaha deketin Kakak. Terus Kakak? Nggak pernah sekalipun mau membuka hati buat aku. Jadi jangan salahin aku kalau akhirnya aku memilih cara ini." Bita menggeleng tak percaya. "Jadi kamu sengaja ngatur semuanya? Dari makan
"Soalnya kalau kamu nggak bantu bantah, sampai kapan pun mereka bakal ngejodoh-jodohin kita." Bita tersenyum canggung. "Kan kamu juga tahu, aku cuma mau temenan sama kamu." Keheningan singkat menyelimuti lift. Bita sempat melihat senyum di wajah Fero perlahan memudar. Hanya sesaat. Setelah itu, Fero kembali mengulas senyum yang sama hangatnya seperti biasa. Fero mengangguk pelan. "Bisa, Kak. Tenang aja." Ding. Pintu lift terbuka. Keduanya melangkah menuju restoran hotel. Setelah mengambil makanan dari deretan buffet, Bita dan Fero berjalan ke arah meja panjang dekat jendela yang sudah ditempati kedua keluarga mereka. Papa dan Mama Bita duduk berdampingan di satu sisi, sementara keluarga Fero memenuhi sisi lainnya. Begitu melihat keduanya datang, beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. "Duh... pengantin baru kita udah datang, nih." Celetukan salah satu kera
"Cepetan bangun. Katanya mau seneng-seneng? Apaan, matahari udah setinggi ini masih aja di kasur?" ejek Vino dari seberang telepon. Bita mengerang pelan. "Rese banget! Kamu juga biasanya jam segini masih molor!" protesnya. Gadis itu bahkan masih bergelung di bawah selimut ketika panggilan Vino masuk. Matanya masih setengah terbuka, suaranya pun masih terdengar berat karena kantuk. "Yang penting sekarang gue udah bangun. Nggak kayak lo. Molor!" Terdengar tawa kecil dari seberang. Gih, sana sarapan." "Emang kamu udah sarapan?" "Udah lah. Gue sarapan nasi goreng buatan Mami." Bita langsung mencebik. "Pasti enak banget. Udah lama aku nggak nyobain nasi goreng buatan Mami. Pasti bawang gorengnya banyak terus dikasih sosis juga." "Ditambah pakai telur mata sapi," tambah Vino santai. "Tuh, kan!" Bita makin mengerucutkan bibirnya. "Pengen juga aku. Kenapa sih belum ada ala
Vino mengernyit tajam. "Ngapain lo ke sini?"Sasha memang sudah menduga kedatangannya yang mendadak akan membuat Vino heran. Namun, ia tak menyangka sambutannya sedingin ini.Bukannya terdengar terkejut, Vino justru seperti tidak senang melihatnya datang. Sasha sampai terdiam beberapa saat."Siapa, Vin? Beneran, Bita?" Clara yang penasaran segera menghampiri pintu, lalu menggeser pelan tubuh Vino yang masih berdiri di ambang.Namun begitu melihat sosok di depannya, wanita itu sempat terdiam beberapa detik. Barulah senyum hangat perlahan terbit di wajahnya."Kamu temannya Bita, ya?" tanya Clara ramah. "Tante pernah lihat kamu main ke rumahnya soalnya."Sasha buru-buru membalas senyum itu lalu mengulurkan tangannya. "Iya, Tante.""Kamu...""Sasha, Tante.""Oh, iya. Sasha." Clara mengangguk ramah. "Kamu mau ke rumah Bita? Kayaknya Bita batal pulang hari ini. Belum dikabarin?"Sasha tersenyum tipis
Malam kedua. Tak banyak yang berubah. Telepon dari Bita kembali datang seperti biasa. Lagi-lagi gadis itu mengeluhkan bagaimana keluarga Fero seolah tak pernah kehabisan cara untuk mendekatkannya dengan Fero. Meski laki-laki itu lebih sering mengikuti Om Bram dan kakeknya ke proyek, para perempuan di keluarga itu selalu saja punya alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Malam ketiga pun demikian. Bita masih mengomel tentang hal yang sama. Bedanya, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih lelah daripada kesal. Sementara Vino, masih setia mendengarkan semua keluhannya sambil diam-diam menghitung hari. Satu hari lagi menuju kepulangan Bita. Hari keempat akhirnya tiba. Malam ini, Vino berharap mendengar suara gadis itu yang akhirnya kembali ceria membicarakan kepulangannya besok. Namun, begitu panggilan tersambung, harapan itu langsung pupus. "Vin..." Suara Bita malam ini terdengar jauh lebih pelan. "Kayaknya aku nggak jadi
Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino







