Share

Bab 5

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-05-25 23:02:44

Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala.

"Aku nggak bisa," tolak Bita.

Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi salah satunya. Ia masih waras untuk tidak mengiyakan permintaan Vino.

"Lo takut sama gue, Ta?" tebak Vino tepat sasaran.

Melihat Bita tak membantah, Vino tertawa. "Lo temen gue. Mana mungkin gue ada niatan mempermainkan lo kalo itu yang lo takutkan?"

Sekali lagi, Bita menggeleng tak tertarik.

Meski mereka bersahabat sejak lama, Vino tetaplah laki-laki berbahaya yang seharusnya diberi jarak aman.

Jangan sampai Bita jatuh ke dalam perangkapnya, karena itu sama saja memberikan nyawanya cuma-cuma.

"Emang lo udah nggak tertarik sama Mas Aksa? Nggak mau punya kesempatan mendekatinya?" Vino membungkuk mencari tatapan Bita yang sibuk menyapu lantai.

"Mas Aksa selamanya menganggap lo sebagai adiknya, itu yang lo mau?" cecar Vino.

Bita tahu tidak akan ada yang berubah jika ia tidak melakukan sesuatu. Tapi menerima tawaran playboy ini beserta syarat yang ia ajukan juga bukan perkara yang mudah, apalagi dengan segenap resiko yang ditawarkan.

"Lo mau Mas Aksa berakhir sama Kak Meta?"

Ketika Vino menyebut nama perempuan itu, Bita yang semula bergeming akhirnya mengangkat pandangannya.

Perasaan tidak rela meliputi hati Bita yang sontak terbaca oleh Vino.

"Kalo lo nggak gerak-gerak, bisa jadi Kak Meta yang masih naksir bule itu berbalik membalas perasaan Mas Aksa," ucap Vino kian menakut-nakuti Bita.

Perkataan Vino merenggut habis oksigen disekitar Bita, membuatnya tercekat tidak bisa bernapas.

"Dan saat itu terjadi, lo udah nggak ada kesempatan lagi, Ta. Itu berarti lo harus merelakan Mas Aksa selama-lamanya sebagai sesuatu yang nggak pernah bisa lo miliki."

Sepuluh tahun lebih Bita memendam perasaannya bukanlah waktu yang sedikit. Hal terakhir yang ingin Bita lakukan adalah melihat Aksa bersama orang lain. Dan Vino menyadarkannya, bahwa sewaktu-waktu mimpi buruk itu akan terjadi. Cepat atau lambat, siap tidak siap.

"Gue kasih waktu untuk berpikir. Tapi ingat, penawaran gue cuma sampai nanti siang."

Vino menepuk puncak kepala Bita. "Pikirkan baik-baik ... adek Bita."

***

"Suntuk banget muka kamu. Kenapa?" tegur Sasha, teman seangkatannya yang diincar Vino dari semester satu.

Mereka tengah berada di kantin sehabis kelas, menikmati makan siang dengan seporsi bakso yang hanya diaduk-aduk Bita.

"Nggak papa," sahut Bita enggan bercerita kemelut yang memenuhi kepalanya.

Sudah cukup lelah dengan rasa cemburunya terhadap kedekatan Aksa dan Kak Meta, ditambah lagi tawaran Vino yang belum sanggup dia iyakan.

"Liat si Vino. Kamu nggak muak apa lihat tingkahnya tiap hari?"

Bita memandangi arah mata Sasha. Tidak jauh dari meja mereka, Vino berjalan memasuki kantin dengan menebarkan senyum yang berhasil membuat para perempuan memekik tertahan.

Memakai kemeja flanel yang membungkus kaos putih, dipadukan dengan celana jeans hitam, serta potongan rambut undercut menjadikan penampilan Vino tampak segar. Dimana pun berada, Vino selalu sukses menjadi pusat perhatian. Terkecuali Bita yang langsung membuang muka.

"Abaikan," ujar Bita lebih kepada dirinya sendiri. Bita tidak boleh tergoda dengan penawaran Vino, jadi sebaiknya ia mengabaikan keberadaannya. Jangan sampai mereka bersitatap dan memberi kesempatan Vino membujuknya.

"Hai, Sasha cantik."

Vino malah menyambangi meja mereka, dan duduk si samping Sasha yang secepatnya merapat ke Bita.

"Ta."

Sasha yang risih membuat Bita harus turun tangan dan mau tak mau memberikan tatapan mematikan pada Vino agar jangan mengganggu.

Vino mengangkat tangannya. "Gue ngapa-ngapain." Namun tatap tajamnya yang seolah menelanjangi Sasha, membuat Bita menghela.

"Berhenti ganggu Sasha, Vino!"

"Gue nggak ganggu? Liat, gue cuma duduk manis aja," elak Vino. "Sekalian mau tanya sekali lagi sama Sasha. Gimana sekarang? Kuota buat jadi pacar lo udah buka? Gue mau memaksakan diri."

Dari sekian banyak perempuan memang hanya dua orang ini yang tidak tertarik dengan Vino. Satu karena terhasut omongan temannya yang mewanti-wanti agar tidak termakan rayuan playboy, dan satunya lagi karena memiliki perasaan mendalam dengan abangnya.

Sasha mendecak keras. "Nggak akan pernah buka!" serunya. Udah ditolak berkali-kali, masih saja Vino tidak ada gentar-gentarnya.

"Kamu jangan duduk disini. Sama teman-temanmu sana!" usir Bita merasa kasihan pada Sasha yang sudah risih sekali.

"Lo juga temen gue, kan?" Vino justru menyeringai. "Ngomong-ngomong, udah siang ya ini," gumamnya sarat makna.

Bita termangu. Sadar penawaran Vino akan segera berakhir dan dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir.

"Lo nggak kelupaan sesuatu kan, Ta?"

"Kita harus bicara." Bita menyambar tangan Vino dan menyeretnya ke belakang kantin yang sepi.

"Kamu nggak bakalan ngapa-ngapain aku kan kalo setuju?" tanya Bita tak sabaran.

Vino melipat tangannya didada. "Gue cuma ngajarin lo supaya bisa menarik dimata Mas Aksa. Nggak ada intensi lain."

"Ada jaminannya?"

"Berapa lama kita berteman dan kenal satu sama lain? Lo masih nggak percaya sama gue?"

"Karena aku kenal kamu lebih dari siapapun, dan kamu yang kukenal suka mainin cewek, makanya aku butuh jaminan," tegas Bita. Matanya menyipit melawan terik matahari demi menatap Vino yang berdiri menjulang didepannya.

"Apa gue pernah ngapa-ngapain lo selama kita sahabatan?"

Jawabannya adalah tidak. Vino hanya sering menggodanya main-main.

"Terserah lo mau apa nggak. Gue nggak maksa. Tapi kalo lo mau, ikuti cara gue beserta syarat yang udah gue sebutin," final Vino lalu melirik jam dipergelangan tangan. "Sebentar lagi gue ada kelas. Gue harus cabut seka—"

"Aku setuju," ungkap Bita menepikan keraguannya.

Bagaimana pun juga ini adalah kesempatan emas untuknya menjadi lebih dekat dengan Mas Aksa. Bita akan tanggung resikonya.

"Benaran?" ulang Vino, dibalas anggukan singkat Bita.

Vino menarik sudut bibirnya. Menyeringai lebar.

"Karena sekali lo bilang setuju, nggak ada kesempatan buat lari, Ta."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 171

    "Tapi aku nggak suka kamu! Kamu juga tahu itu, kan?" sentak Bita. Fero justru terkekeh pelan, seolah mendengar sesuatu yang menggelikan. "Tahu, kak. Bahkan bukan cuma tahu. Aku malah udah ngerti banget." Laki-laki itu sedikit membungkukkan tubuh hingga tinggi mereka sejajar. Tatapannya lurus mengunci mata Bita. "Tapi kalau orangtua Kak Bita suka sama aku, Kak Bita bisa apa?" Rahang Bita langsung mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Sementara tatapannya dipenuhi rasa kecewa. "Aku sampai nggak ngenalin kamu, Fer. Kamu berubah." Fero kembali tertawa. Kali ini sedikit lebih keras. "Siapa yang bikin aku berubah? Kak Bita." Senyumnya perlahan sirna. "Selama ini aku terus berusaha deketin Kakak. Terus Kakak? Nggak pernah sekalipun mau membuka hati buat aku. Jadi jangan salahin aku kalau akhirnya aku memilih cara ini." Bita menggeleng tak percaya. "Jadi kamu sengaja ngatur semuanya? Dari makan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 170

    "Soalnya kalau kamu nggak bantu bantah, sampai kapan pun mereka bakal ngejodoh-jodohin kita." Bita tersenyum canggung. "Kan kamu juga tahu, aku cuma mau temenan sama kamu." Keheningan singkat menyelimuti lift. Bita sempat melihat senyum di wajah Fero perlahan memudar. Hanya sesaat. Setelah itu, Fero kembali mengulas senyum yang sama hangatnya seperti biasa. Fero mengangguk pelan. "Bisa, Kak. Tenang aja." Ding. Pintu lift terbuka. Keduanya melangkah menuju restoran hotel. Setelah mengambil makanan dari deretan buffet, Bita dan Fero berjalan ke arah meja panjang dekat jendela yang sudah ditempati kedua keluarga mereka. Papa dan Mama Bita duduk berdampingan di satu sisi, sementara keluarga Fero memenuhi sisi lainnya. Begitu melihat keduanya datang, beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. "Duh... pengantin baru kita udah datang, nih." Celetukan salah satu kera

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 169

    "Cepetan bangun. Katanya mau seneng-seneng? Apaan, matahari udah setinggi ini masih aja di kasur?" ejek Vino dari seberang telepon. Bita mengerang pelan. "Rese banget! Kamu juga biasanya jam segini masih molor!" protesnya. Gadis itu bahkan masih bergelung di bawah selimut ketika panggilan Vino masuk. Matanya masih setengah terbuka, suaranya pun masih terdengar berat karena kantuk. "Yang penting sekarang gue udah bangun. Nggak kayak lo. Molor!" Terdengar tawa kecil dari seberang. Gih, sana sarapan." "Emang kamu udah sarapan?" "Udah lah. Gue sarapan nasi goreng buatan Mami." Bita langsung mencebik. "Pasti enak banget. Udah lama aku nggak nyobain nasi goreng buatan Mami. Pasti bawang gorengnya banyak terus dikasih sosis juga." "Ditambah pakai telur mata sapi," tambah Vino santai. "Tuh, kan!" Bita makin mengerucutkan bibirnya. "Pengen juga aku. Kenapa sih belum ada ala

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 168

    Vino mengernyit tajam. "Ngapain lo ke sini?"Sasha memang sudah menduga kedatangannya yang mendadak akan membuat Vino heran. Namun, ia tak menyangka sambutannya sedingin ini.Bukannya terdengar terkejut, Vino justru seperti tidak senang melihatnya datang. Sasha sampai terdiam beberapa saat."Siapa, Vin? Beneran, Bita?" Clara yang penasaran segera menghampiri pintu, lalu menggeser pelan tubuh Vino yang masih berdiri di ambang.Namun begitu melihat sosok di depannya, wanita itu sempat terdiam beberapa detik. Barulah senyum hangat perlahan terbit di wajahnya."Kamu temannya Bita, ya?" tanya Clara ramah. "Tante pernah lihat kamu main ke rumahnya soalnya."Sasha buru-buru membalas senyum itu lalu mengulurkan tangannya. "Iya, Tante.""Kamu...""Sasha, Tante.""Oh, iya. Sasha." Clara mengangguk ramah. "Kamu mau ke rumah Bita? Kayaknya Bita batal pulang hari ini. Belum dikabarin?"Sasha tersenyum tipis

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 167

    Malam kedua. Tak banyak yang berubah. Telepon dari Bita kembali datang seperti biasa. Lagi-lagi gadis itu mengeluhkan bagaimana keluarga Fero seolah tak pernah kehabisan cara untuk mendekatkannya dengan Fero. Meski laki-laki itu lebih sering mengikuti Om Bram dan kakeknya ke proyek, para perempuan di keluarga itu selalu saja punya alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Malam ketiga pun demikian. Bita masih mengomel tentang hal yang sama. Bedanya, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih lelah daripada kesal. Sementara Vino, masih setia mendengarkan semua keluhannya sambil diam-diam menghitung hari. Satu hari lagi menuju kepulangan Bita. Hari keempat akhirnya tiba. Malam ini, Vino berharap mendengar suara gadis itu yang akhirnya kembali ceria membicarakan kepulangannya besok. Namun, begitu panggilan tersambung, harapan itu langsung pupus. "Vin..." Suara Bita malam ini terdengar jauh lebih pelan. "Kayaknya aku nggak jadi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 166

    Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status