Share

Bab 6

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-05-25 16:59:00

"Bita."

Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu.

Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu kaca. "Kamu bisa lewat pintu depan, kan? Kalau jatuh gimana?"

"Lama kalau harus mutar," sahut Vino santai. Cowok itu langsung menerobos masuk tanpa permisi, mengabaikan Bita yang masih mengenakan piyama kaos longgar.

"Ini udah jam sepuluh malam, Vin."

"Terus kenapa?" Vino berbalik, menyandarkan pinggulnya di tepi meja belajar Bita sambil bersedekap. "Katanya lo mau belaja. Kita mulai malam ini."

Bita terdiam sejenak. Kalimat Mas Aksa tadi pagi yang menegaskan bahwa ia hanya dianggap sebagai adik kembali terngiang, menyuntikkan rasa tidak rela yang amat besar di dadanya.

"Aku harus ngapain dulu?" tanya Bita akhirnya. Ia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk sebuah bantal kecil.

Vino berjalan mendekat, lalu ikut mengambil posisi duduk di hadapan Bita. "Pertama, ubah kebiasaan lo yang selalu menghindari kontak mata sama Mas Aksa."

Bita mengernyitkan dahi.

"Gue perhatikan, tiap ada Mas Aksa, lo selalu melakukan dua hal, menunduk atau mematung," papar Vino tenang. "Contohnya tadi pagi di mobil. Lo menghindar terus dari awal naik. Gimana seseorang mau tertarik kalau lo bahkan nggak berani menatap matanya?"

"Aku... deg-degan, Vin," aku Bita lirih, menenggelamkan dagunya di atas bantal. "Kalau jaraknya dekat begitu, jantungku rasanya mau lepas."

"Lo harus bisa kontrol itu. Kontak mata itu langkah paling dasar buat nunjukin kalau lo melihat dia sebagai seorang pria, bukan cuma kakak tetangga," balas Vino, suaranya merendah, terdengar serius tanpa ada nada mengejek.

Bita menatap Vino sangsi. "Memangnya kamu nggak pernah ngerasa deg-degan kalau dekat sama cewek?"

Vino terkekeh pelan, menggeleng tanpa ragu. "Enggak. Buat apa?"

"Kamu kalau menjalin hubungan sebenarnya pakai perasaan nggak, sih?" cetus Bita kesal.

Vino merangkul Bita. "Adek kecil, deg-degan itu hanya untuk orang yang lemah. Pakai perasaan tapi bukan perasaan yang bikin gugup sampai mau pingsan kayak lo," sahut Vino santai. "Sekarang, mending praktik."

"Praktik gimana?"

"Bayangin gue ini Mas Aksa." Vino memajukan posisi duduknya, menatap Bita lekat-lekat. "Kerahkan semua imajinasi lo. Sekarang, tatap mata gue seolah gue adalah pria yang paling lo inginkan."

Bita menarik napas dalam-dalam.

“Imajinasikan sesuatu yang bisa disebut sebagai kegiatan manusia dewasa."

Kekehan Vino mengalun mendapati mata Bita menyorotnya tak mengerti. "Sebenarnya novel yang lo baca tuh novel romansa apa kanak-kanak, sih?"

Bita mengedipkan mata dan menjawab dengan lugu. "Remaja."

"Yang berpacaran?"

"Banyak yang pacaran, sih. Ya gandengan tangan, peluk-pelukan. Tapi aku lebih suka yang kekeluargaan. Emang kenapa kamu nanya gituan?"

Vino tertawa hebat. “Bita, lo udah kepala dua!”

Bita memutar bola matanya malas. “Udah ayo mulai!”

Demi tujuannya, ia mencoba menyingkirkan bayangan Vino dan menggantinya dengan wajah Aksa yang tenang. Bita mulai mendongak, mencoba menantang badai kecanggungan di dalam dirinya.

Namun, baru bertahan tiga detik, Bita kembali membuang muka dan menunduk dalam. "Nggak bisa, Vin. Rasanya aneh."

"Jangan menunduk, Ta," tegur Vino, nadanya menuntut namun tetap tenang. "Ayo lebih berani lagi. Keinginan lo buat memiliki abang gue harus lebih besar dari rasa gugup lo."

Dorongan semangat dari Vino membuat ego Bita terusik. Ia mengatur napasnya yang sempat memburu, memantapkan tekad, lalu kembali mengangkat wajah.

Kali ini, Bita menatap lurus ke dalam manik mata Vino. Ia memfokuskan seluruh sisa emosinya hari ini—rasa cemburunya pada Meta, rasa kecewanya pada Aksa—dan menumpahkannya lewat tatapan itu.

"Nah, bagus. Tetap kayak gini—"

Kalimat Vino mendadak terputus di tenggorokan saat Bita, tanpa diduga, justru memajukan tubuhnya. Gadis itu memangkas jarak di antara mereka hingga menyisakan beberapa senti saja, berhenti tepat sebelum hidung mereka saling bersentuhan.

Atmosfer di dalam kamar seketika berubah pekat. Embus napas mereka yang hangat saling bertabrakan di udara yang mendadak terasa tipis. Bita masih mengunci pandangannya, menatap Vino dengan intensitas yang begitu dalam.

"Segini cukup?”

Vino masih tercenung seakan lidahnya jadi kelu untuk berbicara.

“Kurang berani, ya?” Pandangan Bita bergerak turun memaku bibir kemerahan Vino yang merekah lalu menunduk dan mengecupnya pelan.

Bita mengurai jarak dan tertawa culas menemukan Vino mematung dengan ekspresi terperangah. Tampak tidak menyangka dengan yang dia lakukan.

“Kamu lupa kalo aku pernah sekali pacaran?” Meski hanya coba-coba.

Jemari lentik Bita mengetuk dagu Vino.

“Tadi termasuk kegiatan manusia dewasa, kan? Aku juga pernah melakukannya sama pacarku dulu, Vin,” papar Bita menggerakkan telunjuknya menyapu bibir bawah Vino, “sebelum aku diputusin hanya karena cemburu melihat kamu lebih dekat sama aku,” ungkap Bita sembari menyematkan senyum sensual.

Tangannya merambati bahu Vino yang langsung menegang dengan sentuhannya.

“Adek kecil kamu bilang?” Kini Bita yang terkekeh mengejek. Muak sekali dengan tingkah Vino yang terus mengejeknya dengan sebutan itu. Vino juga bilang ia harus mengalahkan rasa gugupnya, kan?

“Emang ‘adek kecil’ bisa melakukan ini?”

Bita menjemput bibir Vino, dan mengecupnya ringan sebelum menarik diri memandangi Vino dan wajah piasnya.

Namun sedetik kemudian, Vino menyeringai tajam membalas tatapan beraninya. Tidak pernah obsidian jelaga milik Vino menatapnya dengan cara seperti ini. Cara yang mampu membuat Bita merasa terperangkap dan tidak bisa lari kemana-mana.

“Lo sebut itu ciuman?” Tatapannya mencemo'oh.

“Gue ajarin yang namanya ciuman itu seperti apa.”

Vino menyambar telak bibir Bita. Melumat tanpa ampun. Bita terdorong mundur tidak siap, namun Vino terus mengejarnya dan menahan belakang kepala Bita dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mendekap pinggang ramping Bita. Berhasil membuat Bita terduduk lemas tak berdaya dibawah kendalinya.

“Buka mulut lo,” perintah Vino.

Bita yang merasa linglung menurut saja untuk meregangkan celah bibirnya. Ketika Vino menyerbu dengan lidah yang menerobos masuk, napas Bita tercuri habis-habisan.

Ini sudah terlalu jauh dari yang ia lakukan dengan mantan pacarnya dulu, namun seolah tidak memiliki tenaga untuk melawan, Bita hanya bisa pasrah menyerahkan bibirnya pada Vino yang terus meneguk bibirnya seperti orang kehausan.

Kecap lidah memenuhi kamar Bita beradu dengan erangan gadis itu.

“Ta … ” Vino menggeram dengan suara rendah dan dalamnya disela ciuman. Desakan gairah mendorong tangan Vino bergerak naik mengusap punggung Bita dari luar kaos. Sebelum kesadaran menghantamnya telak, menyadarkan sudah seberapa jauh napsunya bertindak.

Vino menarik diri dengan napas terengah-engah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 171

    "Tapi aku nggak suka kamu! Kamu juga tahu itu, kan?" sentak Bita. Fero justru terkekeh pelan, seolah mendengar sesuatu yang menggelikan. "Tahu, kak. Bahkan bukan cuma tahu. Aku malah udah ngerti banget." Laki-laki itu sedikit membungkukkan tubuh hingga tinggi mereka sejajar. Tatapannya lurus mengunci mata Bita. "Tapi kalau orangtua Kak Bita suka sama aku, Kak Bita bisa apa?" Rahang Bita langsung mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Sementara tatapannya dipenuhi rasa kecewa. "Aku sampai nggak ngenalin kamu, Fer. Kamu berubah." Fero kembali tertawa. Kali ini sedikit lebih keras. "Siapa yang bikin aku berubah? Kak Bita." Senyumnya perlahan sirna. "Selama ini aku terus berusaha deketin Kakak. Terus Kakak? Nggak pernah sekalipun mau membuka hati buat aku. Jadi jangan salahin aku kalau akhirnya aku memilih cara ini." Bita menggeleng tak percaya. "Jadi kamu sengaja ngatur semuanya? Dari makan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 170

    "Soalnya kalau kamu nggak bantu bantah, sampai kapan pun mereka bakal ngejodoh-jodohin kita." Bita tersenyum canggung. "Kan kamu juga tahu, aku cuma mau temenan sama kamu." Keheningan singkat menyelimuti lift. Bita sempat melihat senyum di wajah Fero perlahan memudar. Hanya sesaat. Setelah itu, Fero kembali mengulas senyum yang sama hangatnya seperti biasa. Fero mengangguk pelan. "Bisa, Kak. Tenang aja." Ding. Pintu lift terbuka. Keduanya melangkah menuju restoran hotel. Setelah mengambil makanan dari deretan buffet, Bita dan Fero berjalan ke arah meja panjang dekat jendela yang sudah ditempati kedua keluarga mereka. Papa dan Mama Bita duduk berdampingan di satu sisi, sementara keluarga Fero memenuhi sisi lainnya. Begitu melihat keduanya datang, beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. "Duh... pengantin baru kita udah datang, nih." Celetukan salah satu kera

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 169

    "Cepetan bangun. Katanya mau seneng-seneng? Apaan, matahari udah setinggi ini masih aja di kasur?" ejek Vino dari seberang telepon. Bita mengerang pelan. "Rese banget! Kamu juga biasanya jam segini masih molor!" protesnya. Gadis itu bahkan masih bergelung di bawah selimut ketika panggilan Vino masuk. Matanya masih setengah terbuka, suaranya pun masih terdengar berat karena kantuk. "Yang penting sekarang gue udah bangun. Nggak kayak lo. Molor!" Terdengar tawa kecil dari seberang. Gih, sana sarapan." "Emang kamu udah sarapan?" "Udah lah. Gue sarapan nasi goreng buatan Mami." Bita langsung mencebik. "Pasti enak banget. Udah lama aku nggak nyobain nasi goreng buatan Mami. Pasti bawang gorengnya banyak terus dikasih sosis juga." "Ditambah pakai telur mata sapi," tambah Vino santai. "Tuh, kan!" Bita makin mengerucutkan bibirnya. "Pengen juga aku. Kenapa sih belum ada ala

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 168

    Vino mengernyit tajam. "Ngapain lo ke sini?"Sasha memang sudah menduga kedatangannya yang mendadak akan membuat Vino heran. Namun, ia tak menyangka sambutannya sedingin ini.Bukannya terdengar terkejut, Vino justru seperti tidak senang melihatnya datang. Sasha sampai terdiam beberapa saat."Siapa, Vin? Beneran, Bita?" Clara yang penasaran segera menghampiri pintu, lalu menggeser pelan tubuh Vino yang masih berdiri di ambang.Namun begitu melihat sosok di depannya, wanita itu sempat terdiam beberapa detik. Barulah senyum hangat perlahan terbit di wajahnya."Kamu temannya Bita, ya?" tanya Clara ramah. "Tante pernah lihat kamu main ke rumahnya soalnya."Sasha buru-buru membalas senyum itu lalu mengulurkan tangannya. "Iya, Tante.""Kamu...""Sasha, Tante.""Oh, iya. Sasha." Clara mengangguk ramah. "Kamu mau ke rumah Bita? Kayaknya Bita batal pulang hari ini. Belum dikabarin?"Sasha tersenyum tipis

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 167

    Malam kedua. Tak banyak yang berubah. Telepon dari Bita kembali datang seperti biasa. Lagi-lagi gadis itu mengeluhkan bagaimana keluarga Fero seolah tak pernah kehabisan cara untuk mendekatkannya dengan Fero. Meski laki-laki itu lebih sering mengikuti Om Bram dan kakeknya ke proyek, para perempuan di keluarga itu selalu saja punya alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Malam ketiga pun demikian. Bita masih mengomel tentang hal yang sama. Bedanya, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih lelah daripada kesal. Sementara Vino, masih setia mendengarkan semua keluhannya sambil diam-diam menghitung hari. Satu hari lagi menuju kepulangan Bita. Hari keempat akhirnya tiba. Malam ini, Vino berharap mendengar suara gadis itu yang akhirnya kembali ceria membicarakan kepulangannya besok. Namun, begitu panggilan tersambung, harapan itu langsung pupus. "Vin..." Suara Bita malam ini terdengar jauh lebih pelan. "Kayaknya aku nggak jadi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 166

    Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status