Share

179. Rindu

Author: Dinis Selmara
last update publish date: 2026-01-27 22:30:44
Sedanu terdiam menyimak cerita Amalia. Sepupunya itu lancar bercerita tentang bagaimana Ara dikenalkan dengan dr. Ryan. Awalnya sekadar kenalan biasa, tapi sepertinya akhir-akhir ini mereka semakin dekat.

“Dokter Ryan itu perhatian banget sama Ara, Mas. Mirip Mas Abra gitu, pria matang,” puji Amalia tanpa ragu.

Sedanu menautkan alis. “Kamu tahu kan Mas Abra dan dr. Ryan itu dulu sedekat apa, terus renggang banget karena maybe suatu hal. Bisa jadi karena dia memang kurang baik,” ujarnya dengan na
Dinis Selmara

Dududu... syalala

| 60
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Widiya Astuti
ak deg²an mau nglanjutin..Abra terlalu sempurna g sih, takut tiba² kejebak wanita lain...
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Masih. aja Abra. bucin. sama Serayu....padahal. sudah. mau. punya anak
goodnovel comment avatar
Kania Putri
siapa itu yang datang jangan2 itu ibunya ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   339. Cerita Seluruhnya

    "Mas…," panggil Serayu, nada suaranya terdengar menuntut. "Hm?" Abra menatap istrinya lembut. "Mau bahas apa, Sayang? Jadi ini yang dari tadi ingin kamu obrolin?" "Mas jawab aja." Serayu menarik napas pelan. "Jujur, sampai sekarang saya masih merasa tidak puas soal cerita kejadian yang menimpa Mas waktu itu. Cuma... saya memilih nggak memperpanjangnya." Abra terdiam, memberi kesempatan istrinya melanjutkan. "Lalu kenapa sekarang ditanyain, hmm?" tanyanya lembut. Serayu menggigit bibir bawahnya sesaat. "Jawab aja, Mas. Atau... Mas sedang melindungi si Sarah itu?" Abra langsung menggeleng. "Tidak." "Atau..." Serayu menelan ludah. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang ia benci. "Ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari saya tentang pertemuan kalian waktu itu?" Abra mengusap pelan pipi istrinya. "Sayang–” "Saya cuma ingin dengar semuanya dari Mas." "Saya nggak sedang melindungi siapa pun." "Kalau begitu... ceritakan semuanya." Abra terdiam sejenak, lalu menghembus

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   338. Oversharing

    Serayu menghabiskan makan siangnya yang tersisa sedikit lagi, lalu merapikan perlengkapan pumping dan menyimpan ASI perahnya di tempat penyimpanan khusus. Semuanya dilakukan dengan sedikit terburu-buru, tetapi ia tak ingin ada satu langkah pun yang terlewat. Hal itu penting baginya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putra kecilnya. Setelah memastikan semuanya beres, ia segera menuju kafetaria. "Saya kayaknya pernah beberapa kali lihat perempuan ini datang ke rumah sakit, Dok,” ujar salah seorang rekan dokter yang berjalan di sampingnya. "Tapi saya nggak tahu kepentingannya apa. Biasanya kelihatan keluar dan masuk area administrasi." Serayu hanya mendengarkan. "Tadi saya sempat tanya namanya siapa, tapi dia nggak mau jawab. Maunya ketemu langsung sama Dokter. Saya bilang tunggu di kafetaria saja karena saya tahu Dokter lagi makan. Baru dia mau." Serayu mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok,” balas Serayu. Ia mempercepat langkahnya. "Itu, Dok... yang pakai blazer hita

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   337. Hari Pertama Kerja

    Setelah Abra kembali bertugas, kini giliran Serayu memulai hari pertamanya bekerja. Pagi tadi, ia menghabiskan waktu cukup lama memeluk Satria sebelum berangkat. Rasanya berat meninggalkan putra kecilnya, meski hanya untuk beberapa jam. Semua perlengkapan pumping pun sudah dipastikan masuk ke dalam tas. "Kenapa diam saja, hmm?" tanya Abra. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Husada. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya, lalu mengecup punggung tangannya. "Udah kangen anaknya masa," rajuk Serayu. Abra tersenyum tipis. "Nanti kangen papanya juga, nggak?" "Mas..." Serayu hanya mendesah pelan. Ia sudah terlalu hafal dengan godaan suaminya itu. Abra terkekeh kecil. "Nanti pulangnya saya sama Satria yang jemput." "Belum tahu selesai jam berapa juga," kata Serayu. "Kalau sudah selesai, kabari saya." Serayu mengangguk. Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Serayu belum juga turun. Tangannya masih melingkar di lengan Abra, seolah enggan melepaskannya.

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   336. Foto Keluarga Kecil

    Sesampainya di rumah, perhatian Serayu langsung tertuju pada Satria. Oleh-oleh terbaik untuk putra kecilnya itu adalah beberapa botol ASI hasil pumping yang menambah memenuhi kulkas khusus penyimpanan ASI. "Pangerannya sudah tidur?" tanya Abra sambil mengulurkan tangan ketika Serayu masuk ke kamar. Serayu menyambut uluran itu, lalu duduk di pangkuan suaminya. "Sudah. Malam ini anaknya tidur di kamarnya. Tidurnya pulas banget, jadi nggak tega dipindahin. Nanti kalau bangun dan minta susu, biar nanny yang hangatkan ASI," jelas Serayu. Abra mengangguk paham. "Nggak lama lagi kita bakal sama-sama sibuk. Jadwal operasi saya memang masih libur untuk sementara, jadi mungkin sesekali masih bisa kerja dari rumah." Serayu yang semula menyamping berputar menghadap suaminya. Kedua lengannya melingkar di leher Abra. "Sedih … di rumah sakit pasti padat banget. Syukur-syukur masih sempat video call," rajuknya sambil mengerucutkan bibir. Abra tersenyum tipis. "Apa pun kesibukan kita

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   335. Puas Bersama

    Suasana yang berbeda menghadirkan debar yang tak biasa. Di ruangan yang sunyi itu, keduanya menikmati kebersamaan yang sempat tertunda. Kerinduan yang telah lama dipendam akhirnya menemukan pelabuhannya. Tak ada lagi jarak yang memisahkan, tak ada lagi salah paham yang menjadi sekat. Yang tersisa hanyalah dua hati yang kembali saling menguatkan, mengisi, dan menemukan ketenangan dalam dekapan satu sama lain. Keheningan ruang baca itu menjadi saksi ketika semua kerinduan yang akhirnya luruh. Abra mendekap Serayu begitu erat, seolah tak ingin membiarkan wanita itu menjauh lagi. Jemari mereka saling bertaut, saling menggenggam dengan hangat, sementara tatapan keduanya berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata. "Saya benar-benar merindukanmu," bisik Abra, tanpa menghentikan permainannya. Serayu membalas dengan senyum tipis. Ia mengusap lembut pipi suaminya, lalu turun lagi mengusap rahang tegas di hadapannya. Serayu melabuhkan kecupan-kecupan singkat penuh rasa sayang pada set

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   334. Suasana Baru

    "Kita ke ruangan saya sebentar, ya," pinta Abra. Serayu hanya mengangguk. "Dokter Stephan mau pinjam buku." Begitu memasuki ruangan, Abra menutup pintu lalu menguncinya. Ia tahu istrinya masih merajuk. Serayu memilih duduk di sofa, sementara Abra berjalan menuju rak buku di sudut ruangan. Setelah menemukan buku yang dimaksud, ia kembali ke meja kerjanya membukanya, memotret beberapa halaman, lalu mengirimkannya kepada rekannya. Sesekali ia melirik ke arah Serayu. Wajah itu masih tampak murung saja. "Kamu menegur Sarah tadi?" tanya Abra tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel. Serayu tetap diam. Abra kembali ke rak buku untuk memastikan edisi bukunya sudah benar. Baru saja ia hendak berbalik, dua lengan kecil melingkar di pinggangnya dari belakang. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya. Serayu memeluknya erat. "Kamu masih kesal?" tanya Abra lembut. Tak ada jawaban, tapi Serayu mengangguk pelan. Abra membalikkan badan hingga kini mereka saling berhadapan.

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   117. Peringatan Pertama #1

    Abra segera pulang, tak sabar ingin menikmati makan malam dengan sang istri dan mertuanya.Begitu pintu terbuka, Serayu menyembulkan kepalanya dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak cerah, ada kilau bahagia yang sulit disembunyikan saat mendekati suaminya.“Mas

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   109. Si Paling Sombong

    Lorong sore itu mulai lengang, Serayu baru saja selesai bertugas, pundaknya terasa pegal tetapi langkahnya ringan menuju ruangan Abra.Namun langkahnya tertahan ketika Ryan muncul.“Koas,” panggilnya singkat.Tatapan Ryan berubah serius, sedikit cemas. Meski larut dalam cerita, Ryan sempat melirik k

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   86. Lelaki di Masa Lalu

    Serayu tiba di apartemen bersama Abra. Ragu-ragu, wanita itu melangkah. Sepanjang jalan menuju apartemen tadi pun, ia lebih banyak diam.Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah foto besar pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang tamu—foto yang sejak lama tergantung di san

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   42. Kucing-kucingan

    Bulu kuduk Serayu meremang mendengar ucapan Abra bahwa ia menunggunya di rumah. Belum lagi tatapan lelaki itu—tajam, namun entah mengapa seolah menghipnotis. “Tidak perlu menunggu, Mas. Sa–saya sudah siapkan semua keperluan Mas sampai besok. Pakaian, sarapan, tinggal dihangatkan saja—” “Saya menun

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status