Beranda / Romansa / CEO yang Kubayar Setelah Semalam / Part 1 - Kubayar Dia dengan Tiga Ratus Ribu

Share

CEO yang Kubayar Setelah Semalam
CEO yang Kubayar Setelah Semalam
Penulis: Atika

Part 1 - Kubayar Dia dengan Tiga Ratus Ribu

Penulis: Atika
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 13:26:28

Dengan pencahayaan yang minim dan beban berat yang menumpu tubuhnya, Kilaara membuka mata pelan-pelan sembari beradaptasi dengan suasana yang agak asing dan dingin.

Ya, tentu saja kamar ini terasa dingin hingga membuatnya menggigil karena—Kilaara menunduk ke bawah dan menyadari bahwa ia sedang telanjang, benar-benar tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya.

Oke, dia telanjang.

Seperti bayi. Kilaara tersenyum remeh, masih tampak linglung dan merasa ini semua mimpi. Lucu juga sih, di dalam mimpi ia tidur sambil telanjang dengan tangan pria yang memeluknya dari belakang. Haha, lucu.

Kilaara pun tertawa kecil.

Baiklah, dia harus terbangun dari mimpi konyol ini sebelum mimpinya bertambah vulgar karena ia mulai berimajinasi macam-macam seperti berbagai gaya bercinta di kamasutra.

Sesaat Kilaara menggerakkan paha kanannya, ia langsung meringis lantaran bagian paling intim di tubuhnya terasa perih dan tak nyaman.

Sungguh, Kilaara bahkan menduga bahwa itunya sudah robek. Jangan-jangan inikah yang namanya....

"Pecah perawan? Hahaha tapi ini kan mimpi. Jadi gak mungkin lah." Kilaara berbisik sendiri sambil menutupi matanya dengan tangan. Dia mulai bergerak lagi, sampai rasa perih itu kembali melandanya.

"Demi apa." Kilaara sontak terbangun dari rebahannya, tanpa peduli jika gerakan tiba-tiba itu akan membangunkan seorang pria yang lengannya tampak seksi karena berotot, "ini nyata woy."

"Mati gue. Mati gue."

Mengabaikan pusing dan pegal-pegal di seluruh badannya, Kilaara menyingkirkan tangan dan kaki pria yang menindihnya demi turun dari ranjang dan mulai mencari baju yang terlipat rapi di atas meja.

Astaga, siapa yang melipat pakaiannya itu? Bahkan celana dalam dan bra miliknya pun ditaruh dengan apik di sebelah bajunya.

"Alkohol sial. Jahanam! Gara-gara lo, gue jadi tak suci lagi," dumel Kilaara seraya memakai pakaiannya satu per satu. Sekarang, Kilaara ingat dengan kejadian semalam yang membawanya sampai ke kamar ini.

Ulang tahun perusahaan. Pesta, minum-minum, joget-joget sampai puas karena diadakan di sebuah kelab malam, di dalam hotel bintang lima milik bosnya, Adrian Sachdev, pria seksi, tampan, tajir, dan idaman seluruh wanita di kantor.

Walaupun usianya cukup terbilang tua—bagi Kilaara yang baru berumur dua puluh tiga tahun, tentu saja Adrian yang berumur tiga puluh lima itu terasa tua—namun, penampilan fisik dan kharisma pria itu tidak main-main.

Bosnya memang ganteng, tapi bukan tipe Kilaara. Kilaara lebih suka pria yang terlihat baik-baik alias good boy, pemalu, pakai kacamata, lembut, dan sebagainya. Bukan seperti Adrian yang lebih mirip casanova dengan tampang yang bikin cewek-cewek rela ditiduri olehnya.

Well, meski Kilaara tak pernah mendengar gosip bahwa Adrian punya pacar baru setelah istrinya meninggal, tapi tetap saja dia terlihat seperti playboy kakap.

Kilaara jadi kasihan pada Imo, anaknya yang masih kecil. Punya bapak yang banyak fans fanatik begitu. Pasti hidupnya tidak tenang deh.

"Oke. Sekarang saatnya gue kabur." Kilaara mengambil tas di atas meja, dan mengecek isi di dalamnya. Syukurlah, semua barangnya masih lengkap, kecuali... "hape gue mana?"

Mata Kilaara mulai menelusuri isi kamar, mulai dari nakas, tempat tidur, hingga meja televisi, namun benda tipis itu belum kelihatan wujudnya.

Partner seks satu malam yang wajahnya tertutup oleh lengannya sendiri itu juga masih tertidur dengan lelap, seolah tidak terganggu oleh gerakan Kilaara yang grasak-grusuk.

Mungkin dia sedang bermimpi indah. Atau dia kelelahan karena melewati beberapa ronde tadi malam.

Gila aja sih. Kilaara pun masih merasakan kaki dan pahanya bergetar, pertanda semalam ia bercinta dengan hebat meski ini pengalaman pertamanya. Dia masih polos, memang, tapi Kilaara tetap paham teori-teorinya sebab ia pernah menonton p**n atau mendengar cerita dari teman kosannya.

"Uhh jangan-jangan hp gue ditindih oleh dia lagi."

Kilaara berjalan sangat pelan, berusaha seminim mungkin untuk tidak mengeluarkan suara. Pria itu juga telanjang, namun dari bagian perut hingga kakinya tertutupi oleh selimut.

Dalam hati, Kilaara membatin, kenapa hanya dia yang terekspos saat terbangun tadi? Kalau di kamar ini ada kamera CCTV, sudah pasti tubuh telanjangnya akan viral di sosial media.

Setelah tiba di sisi ranjang yang lain, Kilaara akhirnya menemukan ponselnya yang tertindih oleh ponsel lain. Sepertinya, ponsel itu milik pria ini. Ya ampun, bukan cuma orangnya yang menindihnya, tapi ponselnya pun ikut-ikutan.

"Gila! Tinggal sepuluh persen lagi!" Kilaara mendumel kala melihat baterai yang sekarat. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini, memesan taksi, dan melupakan kejadian nikmat tapi ternoda ini selamanya.

Baiklah, mungkin dia memang menyayangkan soal keperawanan yang sudah raib, tapi ia tak perlu menyesali hal yang sudah terjadi. Mau ditangisi berhari-hari pun, selaput daranya yang sudah robek tak kan bisa kembali pulih.

Namun saat Kilaara tengah memakai sepatu, ia kembali salah fokus saat melihat pundak pria itu yang terdapat bekas kemerahan cukup banyak. Mulut Kilaara sontak menganga, segera menepis pikiran kotornya bahwa itu semua tidak mungkin ulahnya.

Bukan hanya itu. Ketika Kilaara melihat lebih jelas, di bagian leher juga terlihat beberapa kissmark. Sementara di tubuhnya—Kilaara langsung mengintip dari balik bajunya—tidak ada bekas cupang apapun. Oh tidak. Apakah dia terlalu liar semalam?

"Tidak mungkin."

Kilaara masih berdalih kalau apa yang dilihat olehnya cuma ilusi saja. Mungkin dia masih hangover akibat minum satu gelas vodka tadi malam. Sial, air yang dia kira hanya air mineral biasa ternyata alkohol berkadar tinggi. Siapapun yang memberikan minuman itu tadi malam padanya, tidak akan Kilaara maafkan.

Sebelum Kilaara benar-benar pergi, ia menulis sesuatu di kertas yang biasanya disediakan oleh hotel di dekat telepon. Ia juga meninggalkan sejumlah uang untuk pria itu.

Mungkin saja, pria itu cuma pelayan kelab biasa yang tak punya uang. Kasihan juga kan kalau dia tidak bisa pulang karena tak ada ongkos. Atau bisa jadi, pria itu seorang pengangguran yang depresi karena tak diterima kerja sehingga ia menghabiskan malam dengan minum-minum.

Tapi setelah dipikir-pikir, kalau dia memang beneran kere, bagaimana bisa pria ini masuk ke dalam kelab kelas atas dimana harga es jeruk saja bisa membeli makan siangnya selama satu minggu.

Ah, masa bodohlah, pikiran Kilaara yang selalu overthinking ini selalu menghambatnya dalam mengambil keputusan cepat. Ia harus segera pergi atau pria ini akan bangun sebentar lagi karena matahari sudah mulai memancarkan sinarnya ke dalam kamar yang luxury ini.

Kilaara pun membuka pintu kamar hotel setelah melihat bentuk punggung pria yang sering dia lihat di majalah. Dia pasti sering gym. Oke, ini yang terakhir kalinya Kilaara memandangi punggung indah itu.

"Selamat tinggal, partner one night stand-ku."

.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 38

    Kilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 37

    Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 36

    "Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 35 - END Season 1

    Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 34

    Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 33

    Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 4 - Adrian Sachdev

    "Apa kamu bilang? Dia kerja di perusahaan kita?" teriak Adrian sembari menggebrak meja di depannya. Selepas meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu di saat harga dirinya hancur, Adrian segera mencari tahu identitas dari wanita yang menghabiskan satu malam panas bersamanya. Untuk seorang Adri

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 3 - Mulai Ketahuan

    "Rasanya seperti Anda menjadi Iron Man." Kilaara membalas acuh tak acuh pertanyaan dari teman-temannya. Ia pulang pukul lima pagi, berharap dua teman sekosannya, yakni Lila dan Vero, belum bangun. Namun ternyata, dua cecunguk itu sudah rapi, cantik, dan seolah siap tuk pergi kerja. Ketika Kilaar

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 30 Adrian Tahu Kilaara Hamil

    Awalnya respon mereka hanya diam. Melongo. Terbelalak, tak percaya. Namun selang beberapa detik kemudian, Adrian harus siap menerima serangan pukulan dari sang Mama. Plak! Plak! Plak! Begitulah bunyinya. Terasa pedas di kulit punggung, lengan, dan tangan Adrian. "Ampun Ma! Sakit!" keluh

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 2 - Harga Diri Sang CEO tercoreng

    Adrian mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu yang terus berbunyi tanpa henti, hingga bisa menjemputnya dari alam mimpi. Ia mengerang seraya membalikkan badan—merasa lemas luar biasa setelah pelepasan seks semalam sampai tiga ronde. Sudah lama dia tidak bercinta lagi sejak Cecil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status