LOGINSekar melirik ke belakang punggung Radja dan Djiwa. Tak ada koper, tak ada tas besar—tak ada tanda-tanda mereka benar-benar datang untuk menetap.
“Di mana barang-barang kamu, Dja?” tanya Sekar pelan, namun tajam. Radja menghela napas panjang. Ia menarik Djiwa sedikit lebih dekat, seolah sedang meneguhkan keputusan di hadapan ibunya sendiri. “Kami sudah resmi menikah, Mi. Hari ini. Beberapa jam yang lalu.” Ia menoleh pada Djiwa, senyum tipis penuh r“Mommy ....” Suara Ratu terdengar dari arah teras belakang. Djiwa yang tengah menyiram deretan tanaman hias menoleh sekilas. Senyum kecil langsung menghiasi wajahnya saat melihat putri bungsunya berjalan menghampiri. “Alpaca kamu sudah dikasih makan?” Langkah Ratu langsung terhenti, ekspresinya berubah seketika. “Belum.” “Kasih makan dulu.” “Mommy ...,” Ratu mengerucutkan bibir. “Nanti aja.” Djiwa terkekeh pelan. “Kalau nanti alpaca kamu protes bagaimana?” “Dia gak bisa ngomong.” “Tatapannya bisa.” Ratu menghembuskan napas pasrah. “Oke ... nanti habis ngobrol sama Mommy.” Djiwa menggeleng geli, lalu kembali menyiram tanaman satu per satu. “Memangnya ada apa sampai pagi-pagi begini cari Mommy?” Ratu ikut berdiri di samping sang ibu. Beberapa detik ia hanya memperhatikan air yang mengalir membasahi tanah. Seolah sedang menyusun keberanian untuk bertanya. “Mom ....” “Hm?” “Kalau kita sudah punya pasangan … apa bener nanti dunia kita bakal sepenuhnya buat pasangan?” Ratu m
Aluna mengalihkan pandangannya dari Regantara kepada Ratu. Tatapannya kemudian jatuh pada tangan Ratu yang sejak tadi melingkar manja di lengan sang kakak. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” “Iya,” balas Ratu dengan senyum lebar. “Aku juga gak nyangka.” Narendra melangkah mendekat. Tanpa berkata apa pun, ia mengusap pelan kepala sang adik hingga rambutnya sedikit berantakan. “Kalian baru datang?” tanya Naren, tatapannya tertuju pada Regan, tapi tangannya di kepala Ratu. “Ih, Mas.” Ratu buru-buru merapikan rambutnya sambil menepis tangan Narendra. “Rusak, tahu.” Narendra terkekeh pelan. “Kan bisa dibenerin lagi.” Ratu mendengus pelan sebelum kembali berdiri di sisi Regan, seolah mencari pembelaan. “Mas Regan ... lihat, deh.” Regan melirik sekilas rambut adiknya. “Memang berantakan.” “Nah, kan!” seru Ratu pada kakak keduanya itu, tatapannya memicing. “Tapi memang dari tadi sudah begitu.” “Maaas!” Ratu memukul pelan lengan Regan. Kedua
“Bagaimana dengan pekerjaan hari ini?” tanya Narendra. Ponselnya menempel di samping telinga, sementara tatapannya lurus menembus jendela besar kamar, memandangi langit senja yang perlahan berubah jingga. Di seberang sana, Aluna tersenyum kecil. “Lumayan melelahkan. Ada beberapa revisi desain yang harus selesai hari ini. Sebagian udah aku kerjain, tinggal sedikit lagi.” Narendra mengangguk pelan, meski Aluna tak dapat melihatnya. “Nanti malam ada waktu luang?” Aluna menahan senyum. “Mau ke mana?” “Keluar sebentar. Kalau kamu tidak terlalu lelah.” Aluna menghembuskan napas pelan. “Boleh. Kebetulan aku juga lagi pengen cari udara segar.” Sudut bibir Narendra terangkat tipis. “Baik. Nanti saya jemput.” “Iya.” _____ “Mas, aku tunggu. Jangan lama-lama, ya.” Ratu mengakhiri panggilannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja. Ia menarik kursi dan duduk di salah satu kafe yang menghadap ke area utama pusat perbelanjaan. Tatapannya mengikuti lalu-lalang para pengunjung. Ada pasanga
Aluna sedikit mengernyit melihat hanya ada Regan. “Pak Regan ...?” Regan berdiri begitu Aluna mendekat. “Silakan duduk.” Ucapnya sambil menarikan kursi untuk gadis itu. Aluna melirik kursinya sekilas, tatapannya menyapu seluruh restoran yang masih lengang. “Tim proyek belum datang?” tanya Aluna sambil meletakkan tasnya ke atas meja. Regan menggeleng kecil. “Tidak.” Aluna kembali menatapnya. “Lalu ... rapatnya?” “Memang hanya kita.” Regan menjawab dengan tenang. Aluna tampak sedikit bingung. “Kita berdua saja? Untuk melakukan revisi desainnya?” “Bisa dibilang begitu.” Tak lama seorang pelayan datang menuangkan air minum untuk mereka berdua. Regan menunggu hingga pelayan pergi sebelum kembali membuka suara. “Saya sengaja memilih tempat ini.” “Kenapa?” kening Aluna mengernyit. “Di kantor terlalu banyak orang keluar masuk. Dan saya juga ingin tempat rapat dengan suasana yang berbeda.” Ia mengambil map proyek di hadapannya. “Beberapa perubahan yang akan kita bahas masih bersif
Narendra baru saja kembali setelah mengantar Aluna pulang. Begitu melangkah memasuki rumah, ia mendapati Ratu berdiri di tengah ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat di depan dada, seolah memang sengaja menunggunya. Senyum tipis langsung terukir di bibir Narendra. “Belum tidur?” Ratu menggeleng pelan. “Nungguin Mas.” Narendra melepaskan jam tangannya sambil berjalan mendekat. “Kenapa?” Ratu menatap sang kakak beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Mas ... kenal Aluna dari mana?” Langkah Narendra terhenti sesaat. Keningnya berkerut tipis. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” “Penasaran aja.” “Bukannya kita sama-sama satu SMA sama dia?” Ratu mengangguk cepat. “Ratu tahu. Maksud Ratu bukan itu.” “Lalu?” “Dulu waktu sekolah, Mas sama Aluna juga gak deket, kan? Sama kayak Ratu. Kenalnya cuma sebatas tahu orangnya.” Narendra mengangguk pelan. “Benar.” “Nah, terus bisa deket gimana?” Sudut bibir Narendra terangkat samar, seolah mengingat sesuatu. “Tidak sengaja.” “Maksud
Ratu menatap kakak sulungnya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Kakak kenal sama Aluna?” Regantara tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser dari Ratu, lalu berhenti pada Aluna. Sesaat kemudian, pandangannya beralih kepada Narendra yang duduk di samping perempuan itu. Aluna tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana. “Kami baru saling kenal beberapa waktu terakhir.” Ia menoleh sekilas ke arah Regan. “Kebetulan aku ditunjuk sebagai Lead Interior Designer untuk salah satu proyek yang sedang dikerjakan perusahaan Pak Regan. Jadi kami cukup sering bertemu saat rapat dan presentasi desain.” “Oh, begitu?” Djiwa menimpali seraya tersenyum kecil. “Iya, Tante,” balas Aluna sopan. Regan akhirnya duduk. Seorang pelayan menuangkan minuman ke gelas masing-masing. Dan makan malam akhirnya di mulai, hanya denting sendok makan dan piring yang memenuhi ruangan. Suasana sempat hening. Sampai Radja membuka percakapan. “Jadi ... bagaimana dengan proyeknya? Berjalan lancar?”
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”
“Mas ….” Radja tersentak. Refleks ia meletakkan ponselnya ke atas nakas, bahkan sebelum sempat memutar rekaman yang baru saja dikirim Sultan. “Ada apa, sayang?” tanyanya lembut, telapak tangannya mengusap pipi Djiwa. “Mau ke kamar mandi, hm?” “Haus,” bisik Djiwa lirih. “Oke,” Radja segera me
“Anak-anak sudah berangkat sekolah, sayang?” tanya Radja saat wajahnya muncul di layar ponsel melalui panggilan video. “Udah, Mas. Tadi aku minta Nina yang anter anak-anak,” jawab Djiwa dengan senyum kecil. “Oke, bagus.” Radja mengangguk singkat







