LOGINInggrit menyandarkan punggungnya ke kursi makan, jemarinya melingkari gelas teh hangat yang mulai kehilangan uapnya. “Mama akhirnya tahu juga siapa Ratu,” ucapnya pelan, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah lama mengusik pikirannya. Di seberangnya, Anggita yang masih sibuk meninjau berkas di layar iPad hanya melirik sekilas. “Segitunya, Ma?” tanyanya sambil menggeser beberapa dokumen. “Aku cuma bilang mungkin Ratu tipe perempuan yang disukai Sankara. Bukan berarti mereka punya hubungan.” Inggrit menghembuskan napas pelan. “Awalnya Mama juga berpikir kamu bisa belajar sedikit dari cara dia membawa diri.” Sudut bibirnya terangkat tipis, lalu menggeleng. “Tapi setelah Mama melihat lebih dekat, tidak usah. Menurut Mama dia masih terlalu kekanak-kanakan. Terlihat dimanja sejak kecil.” Gerakan jemari Anggita akhirnya berhenti. “Iya sih ...,” gumamnya pelan. “Sekilas memang kelihatan manja.” Inggrit mengangguk. “Wajar.” “Kenapa?” “Karena dia anak perempuan Radja.”
Sankara masih memandangi Ratu, berusaha mencerna cerita yang baru saja didengarnya. Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Tok. Tok. Tok. “Permisi, Tuan.” “Masuk,” sahut Sankara singkat. Seorang pelayan mendorong troli berisi hidangan yang telah mereka pesan. Satu per satu piring diletakkan dengan rapi di atas meja, disusul dua gelas minuman hangat. “Selamat menikmati.” Setelah pelayan itu keluar dan pintu kembali tertutup, ruangan kembali diselimuti keheningan. Aroma steak, sup hangat, dan roti yang baru dipanggang memenuhi ruangan, namun tak satu pun dari mereka langsung menyentuh makanan. Sankara menatap Ratu beberapa saat. “Maaf.” Satu kata itu keluar begitu saja. Ratu perlahan mengangkat pandangannya, menatap pria itu. “Maaf karena tanpa sengaja saya membuatmu mengingat hal yang menyakitkan,” lanjut Sankara. Ratu menggeleng pelan. “Mas gak salah apa-apa.” “Tetap saja.” Sankara menghela napas tipis. “Saya yang bertanya.” Tatapannya melembut, jau
Mobil hitam milik Sankara akhirnya melambat sebelum berhenti sempurna di pelataran sebuah restoran mewah berbintang lima. Cahaya senja yang perlahan memudar memantulkan bias keemasan pada dinding kaca bangunan megah itu, sementara lampu-lampu eksterior mulai menyala, menciptakan suasana yang hangat dan elegan. Sankara mematikan mesin mobil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ratu. “Karena saya paling percaya dengan kualitas restoran milik sendiri,” ucapnya tenang, “jadi saya putuskan mengajak kamu makan malam di sini.” Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah baru mengingat sesuatu. “Meski ... pengalaman pertama kamu di restoran saya tidak terlalu menyenangkan.” Ratu terkekeh pelan. “Kalau dipikir-pikir, justru dari kejadian itu ada hikmahnya.” “Hikmah?” Sankara menoleh, satu alisnya terangkat tipis. “Iya.” Ratu mengangguk kecil. “Kalau hari itu pelayan restoran Mas gak bersikap seperti itu, mungkin kita gak akan pernah kenalan.” Senyumnya semakin lebar. “Dan sekarang ... mal
Sankara menghentikan langkah tepat di hadapan Ratu. “Selamat sore, Rana.” “Kok Mas dateng ke sini?” Ratu berkedip beberapa kali. “Bukannya ... kita sepakat jalan pake kendaraan sendiri-sendiri dan ketemu di tempat tujuan?” Sankara tersenyum tipis. “Rencananya memang begitu.” Tatapannya bergeser sekilas ke arah mobil keluarga Reinard yang sudah siap mengantar Ratu. “Namun di perjalanan saya berubah pikiran.” Ia membuka pintu penumpang mobilnya sendiri, lalu menoleh kembali pada gadis di hadapannya. “Kalau tujuannya pergi bersama ...,” sudut bibirnya terangkat tipis, “lebih baik saya jemput langsung.” Ratu melipat bibirnya pelan sebelum akhirnya membuka suara. “Mas tahu dari mana alamat rumah saya? Dan bilang apa ke satpam di depan sampai bisa masuk ke dalam?” Sankara baru saja hendak menjawab ketika langkah kaki terdengar dari arah teras mansion. Ia spontan mengalihkan pandangannya. Sepasang suami istri paruh baya keluar berdampingan dari dalam rumah dengan langkah tenang. Radj
Suara berat dan rendah milik Sankara yang terdengar dari seberang telepon seketika membuat detak jantung Ratu kehilangan iramanya. “Rana.” Tak ada jawaban. Ratu justru menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan napas yang tiba-tiba terasa sesak. “Rana,” panggil Sankara sekali lagi, kali ini sedikit lebih pelan. “Kamu tidak apa-apa?” Ratu menghembuskan napas perlahan sebelum akhirnya berhasil menemukan suaranya. “Saya ... gak apa-apa.” “Hm.” Sankara terdengar menghela napas tipis. “Lalu kenapa diam begitu lama? Saya sampai berpikir telepon ini mengganggu kamu.” “Nggak, kok.” Ratu buru-buru menyangkal. “Saya cuma ... kaget aja.” “Kaget karena saya menelepon?” “Iya.” Sudut bibir Sankara terangkat tanpa sadar. “Kalau begitu, syukurlah. Saya kira terjadi sesuatu.” Ratu menggenggam ponselnya semakin erat. “Ada apa Mas telepon saya?” “Saya sempat mengirim pesan, tapi tidak mendapat balasan. Jadi saya memilih menelepon saja.” “Oh ... maaf. Saya tadi lagi di kamar.” “Hm.” Sa
“Adi ke mana, Ma?” tanya Binar seraya menghampiri ruang keluarga. Fairish yang tengah bersantai di kursi pijat perlahan membuka matanya. Senyum tipis mengembang begitu melihat putri sulungnya. “Ke rumah Bianca,” jawabnya tenang. “Katanya mau ngerjain skripsi bareng.” Binar mengangguk pelan sembari menjatuhkan diri ke sofa di hadapan sang ibu. “Cepet juga, ya. Rasanya baru kemarin mereka masuk kuliah, sekarang udah mau lulus aja.” “Iya,” sahut Fairish. “Waktu memang gak terasa.” Binar menopang dagunya dengan telapak tangan. “Tapi kalau Bianca nanti bener-bener jadi dokter, siapa yang bakal nerusin bisnis Om Kai? Hotel sama restorannya.” Fairish tersenyum kecil, lalu mematikan fitur pijat di kursinya. “Belum tentu harus Bianca yang turun langsung mengurus semuanya.” “Maksud Mama?” “Bisa saja nanti yang meneruskan justru suaminya.” Fairish mengangkat bahu santai. “Bianca tetap menjalankan profesinya sebagai dokter, sementara suaminya membantu atau bahkan memimpin bisnis keluarga







