MasukMenjadi menantu keluarga terpandang tidak serta merta membuat aku bahagia. Lima tahun menikah, yang selalu disalahkan hanya Aku ketika tak bisa hamil. Sampai disebut wanita tak normal dan kalah dengan ayam yang bisa bertelur. Sampai akhirnya… sebuah rahasia dari suamiku terbongkar. Lima tahun aku bertahan… ternyata aku cuma badut di rumah tangga ini. Dan yang lebih menyakitkan… wanita itu adalah orang yang kuanggap adik sendiri. Tapi, aku juga punya kakak ipar yang akan memanjakanku saat ini.
Lihat lebih banyak“Kenapa? Nangis lagi kamu?”
Mama Rosa mengomel lagi pada menantunya yang baru saja cek kehamilan dengan testpack. Bahkan hasil itu masih di tangan dan mereka tak ada yang mau melihat sama sekali karena tahu hasilnya pasti negatif lagi.
Julia terdiam dengan tubuh membatu saat ini. Rasanya sakit, karena keluarga itu terus mendesak dan mempersalahkan dirinya karena tidak hamil juga. Sebenarnya sudah biasa, tapi keadaan semakin perih ketika sang suami justru diam tak membelanya sama sekali.
“Sudah lima tahun, tapi tidak ada perkembangan sama sekali. Kamu itu normal apa tidak, sih?” Suara itu sangat lantang, masuk ke telinga hingga ke ulu hati.
Mulut Julia terkunci, tenggorokannya tercekat dengan tangan menggenggam bagian bawah roknya saat ini.
Memang sudah lima tahun, dan itu cukup lama. Padahal selama ini Julia menjadi istri yang baik, mengabdi pada semuanya dan berusaha melayani suami sendiri meski ada beberapa pembantu di rumah besar itu. Tapi semuanya lebur hanya karena satu kesalahan. Belum hamil.
Padahal bisa jadi, semua adalah efek dia stress dan lelah karena urus semuanya sendiri tanpa ada yang membantu di rumah besar itu. Dia bahkan sampai tak pernah ke salon lagi untuk perawatan, padahal ia dulunya primadona di kampus dan kompleks tempatnya tinggal.
Nando ada di sana, tapi suami Julia itu sama sekali tak memberi respon tentang omelan mamanya itu. Jikapun iya, pasti ia justru membela sang mama dan menjatuhkan istrinya yang paling tidak becus dalam keluarga mereka.
“Ma. Tapi, Lia dan mas Nando, sudah sepakat untuk adopsi anak, sekaligus untuk pancingan. Lia bahkan sudah suntik laktasi demi bisa menyusui anak kami nanti. Jika menyusui pasti-“
“Halah, apa-apaan itu?” potong mama Rosa pada ucapan sang mantu yang menurutnya tetap tidak masuk akal dari segi manapun.
“Kamu fikir, dengan kamu menyusui bayi itu, kamu bisa jadi ibu yang sempurna? Namanya anak adopsi, tetap anak adopsi yang bahkan tak jelas asal usulnya!”
“Tapi, Ma-“
“Julia, sudahlah. Kamu itu, apa saja perkataan mama selalu kamu sela. Tidak ada patuhnya sedikitpun!” cecar Nando pada balasan Lia pada mama kandungnya itu.
Julia hanya bisa kembali diam dengan airmata yang menganak sungai, hanya menunggu banjir saja. Masih ada kata-kata pamungkas yang mama Rosa belum katakan padanya. Mungkin dalam beberapa menit lagi.
“Wanita tidak normal! Masa kalah sama ayam. Ayam saja rajin bertelur, tapi kamu tidak bisa menghasilkan satupun. Untuk apa suntik suntik… apa itu tadi?” tanya mama Rosa pada putranya yang sejak tadi sibuk memainkan benda pipih di tangannya dalam keadaan miring.
“Suntik laktasi, Mam. Entahlah, dia itu. Ngeyel sekali jadi istri, tak bisa dibilangi.”
“Mas, kenapa kamu tidak pernah bela aku sama sekali, sih? Setidaknya, kamu beri mama pengertian terutama dengan langkah yang sudah kita ambil.” Julia sesekali meminta dukungan.
Tapi sepertinya sekali lagi percuma, karena seonggok manusia itu hanya diam melirik tanpa suara.
Julia yang salah, Julia yang tak bisa dan tak becus dalam hal ini. Padahal Nando sendiri kurang mampu memenuhi Hasrat Julia di ranjang, hingga membuat pertemuan antara kecebong dan telur di dalam Rahim hingga terjadi pembuahan.
Kalah lagi. Julia menarik napas panjang dan ia memilih untuk segera pergi kembali ke kamar. Semakin sakit jika harus mendengar ocehan mereka berdua yang selalu mempersalahkannya.
Ketika periksa, semua keadaan Julia normal dan sangat baik. Tapi Nando tak pernah ikut periksa dengan berbagai alasan, terutama karena ia selalu dibela oleh sang mama hingga selalu merasa menjadi pria paling sempurna.
Julia sudah tertekan sekali saat ini. Ia frustasi, fikirannya kosong dan tubuhnya lesu sangking ia tak bisa meluapkan dan mengutarakan apa yang ia rasakan. Ia ingin menangis sejak tadi sekeras-kerasnya, tapi tak bisa.
Perasaan yang seperti itu, lebih sakit daripada ia ditusuk oleh pisau yang tajam.
Julia di kamar sampai siang, dan ia memutuskan untuk tak keluar. Ia terus cari info tentang bayi yang akan ia adopsi dari teman, yang kabarnya akan lahir dua minggu lagi. Ia senang, jantungnya berdebar-debar membayangkan ia akan membawa bayi itu ke rumah dan menjadi anak kesayangannya nanti.
Ia mulai merasakan nyeri di dadanya saat itu, tapi ia anggap hanya peregangan otot efek suntik laktasi. Apalagi ia barusan stress sekali.
“Masa iya, sudah mau keluar? Seharusnya mendekati waktu bayi itu lahir.” Julia memijati dadanya sebentar.
Untuk pengalihan rasa, Julia meraih Hp dan ia segera hubungi temannya. Ia tanyakan kabar ibu yang sedang mengandung itu, dan bagaimana kondisi calon bayinya nanti.
“Tapi meski pancingan, nanti kamu harus tetap sayang, ya? Apalagi kalau kamu sudah punya anak sendiri,” pinta sahabat lamanya itu.
Dulu, Julia juga seperti itu. Mama dan papanya lama mendapatkan Julia hingga harus adopsi seorang anak untuk pancingan. Itu terjadi selama delapan tahun pernikahan, tapi mereka sabar.
Maka dari itu, Julia ingin mencoba cara yang sama.
“Iya, aku janji. Kamu tahu, aku bahkan sudah sampai suntik laktasi demi bisa menyusui bayi kami nanti.” Julia tak sabar.
Mereka ngobrol cukup panjang, dan Julia terdengar begitu senang. Banyak bahan obrolan, termasuk kangen-kangenan karena mereka sudah lama sekali tidak pernah bertemu sejak Julia menikah dengan Nando.
Mereka fikir, Julia pasti sudah menjadi Ratu di keluarga konglomerat itu. Tapi, kenyatannya Julia hanya menjadi burung di dalam sangkar.
“Julia!!” Suara mama Rosa terdengar lagi menggedor pintu kamar itu.
Sahabat Julia yang bernama Rika itu sampai dengar dari speaker Hp, dan mau tak mau mereka tutup panggilannya segera.
“Ya, Ma!” Julia langsung berdiri dan buka pintunya.
“Ya, Ma, ada apa?” tanya Julia.
“Masak semur daging untuk Nando. Itu kesukaan dia. Terus, nanti kamu antar ke kantor untuk makan siang. Kamu harus baik-baik, cari perhatian dia agar dia mau maafkan kamu setelah kejadian tadi.”
Hah?
Memaafkan Julia atas kejadian tadi?
Bukankah harusnya sebaliknya, Nando yang harus minta maaf pada Julia atas perlakuannya itu.
Tapi tak apa, Julia mengalah kali ini dan ia persiapkan diri untuk antar bekal itu ke kantor suami. Ia ganti pakaian, tapi mendadak ia rasakan dadanya sakit dan—“Loh, kok, sudah keluar?” Julia kaget ketika dadanya basah.
“Kenapa keluarnya cepat?” Julia ganti bra, ia fikir keluarnya masih sedikit saat itu dan masih bisa ditangani dengan bra yang tebal.
Julia naik taxi karena ia tak boleh bawa mobil sendiri oleh mertuanya. Ia disambut para karyawan dengan penuh hormat ketika tiba di kantor, membuatnya tersenyum sepanjang perjalanan menuju ruangan suaminya yang ada di lantai tiga puluh.
Ketika tiba di depan ruangan Nando, langkah Julia terhenti dengan suara yang samar terdengar di telinganya. Ia buka pintu itu perlahan yang kebetulan kurang rapat, mengintip dari celah sempit dan ia membulatkan mata dengan adegan panas yang ada di dalam sana.
“Mas, enak banget! Jangan dicabut dulu, belum puas!” Suara wanita itu sangat familiar untuk Julia.
“Ma-Maya?” Julai mentup mulutnya sendiri agar suara itu tak terdengar oleh mereka.
“Iya, Sayang. Kamu juga enak sekali. Aku mau terus seperti ini denganmu, dimanapun dan kapanpun aku mau.” Nando tampak mengecupi leher wanita itu dengan amat ganas, beda sekali ketika ia melakukan itu pada Julia.
“Tidak! Itu tidak mungkin!” Mama Rosa melotot sebesar biji jengkol ketika mendengar apa yang Dirga katakan.“Tidak mungkin bagaimana? Nyonya tidak sadar, bahwa selama ini Tuan Dirga selalu turuti apa maunya Tuan Felix? Dalam setiap proyek, Beliau masuk dan menjadi investor terbesar itu karena Tuan Felix. Memangnya apa?” tanya Marta padanya.Mama Rosa mundur darurat dengan tenggorokan yang tercekat.Mungkin ia fikir, semua yang ada selama ini adalah usaha dan kerja keras dari putranya yang tercinta itu.“Yang jelas, kami tidak perlu tunjukan surat kepemilikan perusahaan. Tapi untuk hak cipta, dan royalti, tetap akan kami tuntut setelah Tuan kami keluar dari Perusahaan ini!”Dika maju dengan semua hitungan yang sudah ia lakukan, dan Dirga memberikan tempatnya agar Dika mengumumkan semua itu di hadapan mereka semua.“Jadi, kira kira total royalti yang harus diberikan adalah Dua trilyun. Itu selama enam tahun setelah Tuan Felix ambil posisi di Lesmana Grup, dan semua proyek yang ditangan
Kabar sudah beredar di mana-mana, tentang lepasnya Felix dari Grup Lesmana.Saat itu, Ibu Aida tengah duduk menatap beritanya dengan secangkir teh camomile dan tatapan yang begitu tenang. Ia juga menarik napas panjang, seoalh ia telah melepaskan sebuah beban.“Ibu,” panggil Julia yang kemudian menghampirinya di kursi ruang keluarga.Ibu langsung menoleh dan tersenyum pada Julia, bahkan ia ulurkan tangan untuk genggam erat tangan menantunya.“Ibu tidak sedih, Sayang. Ibu sedang lega, dan rasanya ibu sudah lepas dari semua beban yang sangat berat selama ini.”“Lia tahu, Bu. Pasti rasanya lega sekali, kan? Itu juga Lia rasakan waktu itu, meski belum seberat Ibu,” balas Julia padanya.“Ya, kita sudah lepaskan semuanya. Setelah ini, kita harus fokus pada masa depan, terutama untuk kebahagiaan keluarga kita.”Pelukan hangat Julia dapatkan dari sang ibu mertua, meski ia masih penasaran dengan apa yang terjadi setelahnya di kantor sana.“Pasti suasana sedang sangat panas, Bu.”“Ya, sangat pan
“Apa yang kamu katakan, Felix? Kamu mau tantang Nando? Untuk apa?” Mama Rosa tiba tiba datang bersama para pengacara dan tim dari Perusahaan yang mendukungnya.Felix menatap mereka dengan wajah datar, dan tahu apa maksud kali ini. Pasti mau menjatuhkannya sesuai janji.“Dia duluan,” jawab Felix dengan begitu santai.“Haaah! Kamu fikir, kamu bisa lakukan itu dengan mudah? Langkahi dulu mayatku!” sergah mama Rosa.“Ya, aku juga ingin melakukan itu sejak lama.” Felix kembali menjawabnya.Wajah mama Rosa langsung merah padam mendengar itu, dan helaan napasnya menjadi sangat kasar.Tapi wanita itu berusaha tenang, dan ia kode pengacara yang ia bawa untuk segera berikan semua berkas pada Felix untuk ia baca.Saat itu juga, Marta dan Dika datang ke ruangannya dengan tergesa gesa serta wajah yang cemas.“Tuan!” Dika memasang tatapan waspada.“Tak apa. Baca ini dengan keras, agar aku tahu apa isinya.” Felix memberi perintah dengan suara yang pelan.Dika mengikuti apa yang Felix katakan saat it
Hari pertama Felix masuk kerja setelah tiga hari libur.Julia semangat sekali, bangun pagi pagi dan persiapkan semua keperluan sang suami. Ia tak mau melewatkan satu momentpun saat ini.“Bangun jam berapa?” tanya Felix pada istrinya itu.“Bangun subuh,” jawab Julia.Felix tak mau mematahkan semangat sang istri, dan ia hanya tersenyum mengusap rambut Julia seperti biasanya dengan penuh cinta.“Lia masih mau menikmati masa masa ini, sebelum nanti waktu kita sudah terbagi dengan baby.”“Ya, aku paham. Tapi kamu juga harus ingat, kamu harus banyak istirahat.”“Iya, sudah. Kan, tadi malam Lia tidurnya cepat dan vitaminnya diminum terus.” Selalu saja ada pembelaan dirinya. Felix sudah rapi, dan sudah tampan sekali seperti biasanya. Julia selalu gemas jika seperti ini. Rasanya ingin ia ikuti kemana saja suaminya pergi.“Ayo sarapan. Ibu pasti sudah memasak makanan istimewa untukku.” Felix gandeng istrinya untuk keluar dari kamar.Memang masakan istimewa itu untuk Felix, karena ia yang m
“Aaah, sakit sekali!” Julia terus merintih saat itu dan memegangi dadanya yang mulai membengkak. Menyut. Seluruh otot bagian dada hingga ke punggung rasanya tertarik bahkan rasanya berat sampai ke leher. Ini jelas lebih parah dari yang tadi, efek makanan yang Julia santap dari Felix.Nyatanya, sema
“Arrgh! Felix Brengsek!” Nando emosi dan terus meracau ketika sudah tiba di dalam ruangannya itu. Semua salah baginya, terutama dua orang itu. Istri tak becus, kakak yang selalu unggul dan seolah tak biarkan dirinya untuk berada di atas. Dalam semua rasa kesalnya itu, tempat mengadu yang paling
Jantung Julia rasanya mau copot ketika mendengar suara dari Nando di depan ruangan Felix. Dentumannya bukan lagi seperti ketika dengan Felix tadi, karena ini jelas beda rasaa. Tadi keenakan, sekarang ketakutan. Julia menatap Felix yang tampak sangat tenang itu, dan ia merasa kali ini Felix terlalu
Suara puas itu terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. Maya duduk di pangkuan Nando, tubuhnya bergerak dengan begitu lincah mengobrak abrik milik Nando yang tengah memenuhi dirinya. Nando juga tak kalah puas, ia cengkram pinggang ramping itu dan ia tahan sejenak ketika Gerakan naik turun Maya s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan