Beranda / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 12 : MENIKAH SECEPATNYA

Share

BAB 12 : MENIKAH SECEPATNYA

Penulis: Yoongina
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 13:18:55

Zea mengacak rambutnya frustrasi sebelum akhirnya kembali ke meja dengan langkah mengentak bumi. Ia menyambar tas dan laptopnya dengan kasar, membuat Manda yang sedang mengunyah siomay hampir saja tersedak.

​"Ze, lo mau ke mana? rambut lo kenapa jadi acak-acakan kayak kena angin topan begitu?" tanya Manda heran melihat sahabatnya sibuk berkemas seperti orang kesurupan.

​"Gue... gue ada urusan darurat, Man! Bokap gue tiba-tiba minta dijemput karena motornya mogok," bohong Zea panik, menyusun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Chemistry Chapter   BAB 16 : KELUARGA MAHESA

    "Zea? Kamu... kamu kok bisa ada di sini?" tanya laki-laki itu dengan nada tidak percaya, wajah tampannya langsung dihiasi senyuman lebar yang sangat tulus. ​"Aku menemani Papaku, dia bekerja di perusahaan ini. Kamu sendiri? Bukannya tadi di chat kamu bilang ada acara mendadak makanya batalin makan malam kita?" tanya Zea bertubi-tubi, karena rasa penasaran. ​Sagara terkekeh pelan, mengusap tengkuknya dengan salah tingkah namun terlihat sangat menawan. "Iya, ini dia acara mendadaknya. Aku lupa kalau perusahaan milik Papaku ulang tahun hari ini. Jadi, malam ini aku wajib hadir kalau tidak ingin dikeluarkan dari kartu keluarga." "Perusahaan ini milik Papamu?" ulang Zea melebarkan kedua matanya. "Jadi—" "Dan ternyata Papamu bekerja di sini?" potong Sagara mengalihkan pembicaraan tentang status keluarganya yang telah diketahui Zea. ​Zea mengangguk pelan dengan senyum canggung. "Iya, Ga. Papa sudah bertahun-tahun kerja di sini. Aku benar-benar nggak menyangka kalau pemilik seluruh

  • Chemistry Chapter   BAB 15 : BERTEMU DENGANMU

    Drrtttt! Drrrttt! Drrrttt! ​Suara getaran ponsel Zea terus bergetar halus di dalam genggamannya. Nama 'Pak Dewa', yang ia sematkan pada nomor yang sedang melakukan panggilan itu sama sekali tidak menarik minat Zea untuk mengangkatnya. Ibu jari gadis itu dengan tegas menggeser tombol merah di layar. ​"Seenaknya dia bawa-bawa perempuan lain ke kampus. Gue aja dilarang untuk komunikasi dengan Sagara!" rutuk Zea kesal. ​Bahkan saat Sagara mengirimkan pesan chat untuk membatalkan janji makan malam mereka karena laki-laki itu ada acara mendadak, tidak ia pedulikan. Karena Zea teringat kesepakatan dengan Dewa saat makan malam itu untuk tidak lagi menghubungi atau berkomunikasi dengan Sagara. Namun melihat tingkah Dewa yang dengan santainya memamerkan Tiara di area parkir dosen tadi pagi, ingatan Zea pada kesepakatan mereka menguap begitu saja. Jari lentik Zea terangkat, ia menyentuh bibirnya yang secara tidak sengaja telah mendarat di bibir Dewa saat terjatuh tadi. Rasanya ia ing

  • Chemistry Chapter   BAB 14 : BERKELAHI

    Zea masih terpaku di tempat. Matanya menatap sendu kearah Dewa dan gadis cantik yang bergelayut manja di sisi tubuhnya. Dan sialnya, mata Dewa mendadak bergeser, mengunci pandangan tepat ke arah Zea yang sedang mematung di kejauhan. Saat itu, ia langsung tersadar dan melanjutkan langkahnya memasuki koridor gedung Fakultas hukum. "Zea," suara lembut yang super menyebalkan dari arah belakang itu menghentikan langkahnya. ​Dengan helaan napas pendek, Zea terpaksa memutar tubuh. Di depannya, Jenny berjalan anggun mendekat, lengkap dengan gaya angkuhnya yang biasa. ​"Bukannya Pak Dewa itu calon suami lo? Persis kayak obrolan pernikahan yang nggak sengaja gue dengar kemarin," ujar Jenny dengan volume suara yang sengaja memicu perhatian orang-orang yang lalu lalang di sepanjang koridor. "Tapi kok... hari ini dia malah bawa cewek cantik ke kampus? Apa lo ditinggalin lagi, Ze? Kasihan banget." ​Zea mengepalkan tangannya. Emosinya yang sudah tipis sejak di rumah tadi, kini berada di am

  • Chemistry Chapter   BAB 13 : AKU PUNYA KEKASIH

    "Kak, aku tidak mau tahu! Pokoknya pertunangan kita harus dibatalkan!" jerit Zea frustrasi saat mereka sudah berada di dalam SUV hitam milik Dewa. ​Dewa melirik tajam ke arah Zea. Wajahnya pun terlihat kusut dan frustrasi. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Oma Dyah akan mempercepat rencana pernikahan mereka secepat ini. ​"Kak!" teriak Zea lagi. Ia memutar posisi duduknya agar bisa menghadap Dewa sepenuhnya. Amarahnya kian meninggi karena pria di sampingnya itu sama sekali tidak memberikan respons. ​"Aku juga sedang berpikir, Zea!" bentak Dewa, akhirnya bersuara dengan nada yang tak kalah tinggi. "Ini semua salah kamu, ngapain coba bicara soal kampus!" ​"Aku kan nggak sengaja, Kak. Namanya juga nggak pernah bohong!" ujar Zea mengacak rambutnya frustrasi. ​Dewa menghela napas pendek. Melirik kesal gadis di sampingnya yang kelewat percaya diri. "Kalau pernikahan ini tetap tidak bisa kita cegah... sepertinya kamu yang harus pindah kampus." ​"Apa?!" Zea berteriak his

  • Chemistry Chapter   BAB 12 : MENIKAH SECEPATNYA

    Zea mengacak rambutnya frustrasi sebelum akhirnya kembali ke meja dengan langkah mengentak bumi. Ia menyambar tas dan laptopnya dengan kasar, membuat Manda yang sedang mengunyah siomay hampir saja tersedak. ​"Ze, lo mau ke mana? rambut lo kenapa jadi acak-acakan kayak kena angin topan begitu?" tanya Manda heran melihat sahabatnya sibuk berkemas seperti orang kesurupan. ​"Gue... gue ada urusan darurat, Man! Bokap gue tiba-tiba minta dijemput karena motornya mogok," bohong Zea panik, menyusun alasan pertama yang lewat di kepalanya. "Gue titip absen kelas jam berikutnya ya, Beb. Please, tolongin gue!" ​Tanpa menunggu jawaban dari Manda, Zea langsung melesat pergi, berlari kecil membelah koridor menuju area parkir dosen sambil merutuki nasib sialnya. Napas Zea masih sedikit memburu saat ia menarik gagang pintu mobil SUV hitam milik Dewa dan langsung masuk ke kursi penumpang. Tanpa sepatah kata pun, Dewa langsung menginjak pedal gas, membawa mobil itu membelah jalanan ibu kota yang

  • Chemistry Chapter   BAB 11 : BERSANDIWARA

    "Jenny. Apa yang kamu lakukan di sana?" tegur Dewa, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang walau rahangnya sempat mengeras sesaat. ​Kalimat tentang pernikahan yang baru saja terlontar dari mulutnya tampaknya benar-benar tertangkap oleh indra pendengaran mahasiswi yang kini berdiri mematung di ambang pintu kelas. ​"Saya... mau ke toilet, Pak," sahut Jenny lambat. Sudut bibirnya terangkat, melemparkan senyum sinis ke arah Zea yang mendadak kaku dan tidak berani bersuara. ​Jenny melangkah melewati mereka. Saat jarak mereka mengikis, ia sengaja memberikan satu kedipan mata penuh kemenangan pada Zea, sebuah isyarat jelas bahwa ia kini memegang kartu as. Gerakan sederhana itu sukses membuat wajah Zea semakin pucat pasi. ​"Sepertinya... Jenny dengar ucapan Bapak tadi," bisik Zea dengan suara gemetar ketakutan setelah Jenny menjauh. ​Dewa menatap tajam punggung gadis itu yang mulai menghilang di ujung koridor. "Semoga saja tidak. Lagi pula, dia tidak punya kepentingan untuk ik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status