Home / Romansa / DIPTA / BAB 33 Mata yang Melihat dan Dilema

Share

BAB 33 Mata yang Melihat dan Dilema

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-25 00:33:20

Halaman SMA Garuda sudah ramai sejak bel istirahat berbunyi. Suara siswa bercampur dengan derit kursi yang digeser dan langkah-langkah terburu menuju kantin. Di salah satu meja dekat jendela kantin, Humaira Navya Aruna atau Aira duduk bersama dua sahabatnya, Nadhira dan Lestari. Nadhira baru saja menaruh nampan makanannya di meja dengan ekspresi kesal.

“Serius deh, aku nggak ngerti sama Bu Ratna”, gerutunya sambil menyodok nasi di piring. “Dibilang cuma latihan, tapi nilainya masuk penilaian h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 143 Malam Panjang

    Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S

  • DIPTA   BAB 142 Rencana Aira

    Setelah sampai di hotel, keduanya tidak langsung banyak bergerak. Seharian di luar, berpindah dari meeting ke lokasi proyek, lalu ke mall, cukup menguras tenaga. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang. Aira meletakkan kantong-kantong belanjaannya di dekat sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur. Dia menarik napas panjang, meregangkan tubuhnya sedikit. “Capek juga” gumamnya pelan. Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya dengan rapi, lalu duduk di kursi dekat meja, menyandarkan tubuh sejenak. Capek jelas tapi yang lebih terasa justru pikirannya. Masih tertinggal di butik, di percakapan dengan Rendra. Baru saja suasana mulai hening, ponsel Aira berdering. Nama yang muncul di layar langsung membuatnya sedikit tersenyum. “Bunda” ucapnya pelan. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat bicara banyak, suara kecil yang sangat dikenalnya langsung terdengar dari seberang. “Mamaaa!”

  • DIPTA   BAB 141 Rencana untuk Dipta

    Di sisi lain lokasi proyek, Dipta sedang berbicara dengan Rendra Wijaya cukup serius, membahas teknis lanjutan. Sementara itu, agak menjauh dari mereka, Aira berdiri dengan notenya sedang fokus mencatat seolah tidak peduli dengan sekitar. Langkah kaki seseorang mendekat, Sania. “Sibuk ya.” Aira tidak langsung menoleh dan masih menulis. “Namanya juga kerja.” jawabnya singkat. Sania tersenyum tipis, nada bicaranya masih ringan. “Kamu memang kelihatan profesional.” Aira berhenti menulis, baru menoleh. “Terima kasih.” Beberapa detik awal masih normal. Sampai arah pembicaraan mulai berubah. Sania melirik ke arah Dipta yang sedang berbicara di kejauhan. “Dipta memang seperti itu kalau kerja.” Aira diam menunggu. “Tapi kamu jangan salah paham ya…” lanjut Sania pelan. Aira menatapnya lurus sekarang. “Maksudnya?” Sania tersenyum lebih tipis dan lebih tajam. “Perhatian yang kamu lihat sekarang…" dia berhenti sejenak. “…itu belum seberapa.” Hening. Aira tidak langsung jawab. Sania l

  • DIPTA   BAB 140 Suami?

    Ruang meeting pagi itu terasa formal, tenang dan dingin. Dipta duduk di kursi utama, berhadapan dengan tim dari PT. Arkananta Konstruksi Nusantara. Di sampingnya, Aira sudah siap dengan laptop dan beberapa dokumen. Begitu meeting dimulai, Dipta langsung berubah. Nada suaranya tegas, tatapannya fokus dan setiap kata yang keluar terstruktur. “Untuk proyek cabang Bandung, kita tidak hanya fokus ke efisiensi biaya, tapi juga ketahanan struktur dalam jangka panjang.” Semua orang di ruangan itu diam memperhatikan. Aura Dipta memang beda dan itu juga yang membuat satu orang tidak bisa berhenti melihatnya. Sania duduk di sisi kanan meja. Posisinya jelas sebagai salah satu perwakilan divisi tapi fokusnya bukan ke presentasi. Matanya terus ke arah Dipta, bukan sekadar melihat tapi menatap seperti ada sesuatu di sana, entah itu kagum, tertarik atau sisa rasa yang belum benar-benar hilang. Aira yang duduk di samping Dipta, bukan orang yang tidak peka. Sesekali dia mengangkat kepala dari

  • DIPTA   BAB 139 Kejahilan Aira

    Aira kembali ke meja, langkahnya santai seperti biasa. “Lama ya?” Dipta langsung berdiri. “Ayo.” Tanpa banyak penjelasan. Aira sempat mengernyit kecil. Biasanya memang Dipta tidak banyak bicara tapi yang ini beda, sikap dan suaranya lebih dingin dan lebih tertutup. Mereka keluar dari restoran setelah Dipta menyelesaikan pembayaran. Udara malam Bandung menyambut, sedikit dingin. Beberapa langkah di trotoar, Aira akhirnya bicara. “Kita mampir minimarket dulu ya.” Dipta mengangguk singkat. “Iya.” Tidak ada komentar lain. Di dalam minimarket, Aira mulai ambil beberapa minuman, snack, dan hal-hal kecil yang biasanya dia suka. Tapi matanya beberapa kali melirik ke arah Dipta yang berdiri diam di dekat rak minuman. Tangannya masuk ke saku, tatapannya kosong ke depan. Aira mendekat. “Kamu kenapa?” Dipta langsung menoleh. “Nggak apa-apa.” Aira mengangkat alis. “Itu ‘nggak apa-apa’ versi kamu yang mana dulu?” Dipta diam sebentar, lalu mengambil satu botol air mineral. “Capek a

  • DIPTA   BAB 138 Di Hampiri Masa Lalu

    Di kamar hotel itu, suasana sudah mulai terasa seperti “rumah sementara”. Aira sedang sibuk menata isi koper di lemari, menyusun pakaian miliknya dan milik Dipta berdampingan dengan rapi. Tanktop dan celana pendeknya membuat gerakannya santai, tidak terlalu formal lebih ke mode nyaman setelah perjalanan panjang. Pintu kamar mandi terbuka. Dipta keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Hanya memakai boxer pendek selutut, tubuhnya masih basah sedikit, rambut acak tapi wajahnya tenang seperti biasa. Aira yang sedang menunduk di depan lemari otomatis melirik, cukup lama. Dipta langsung sadar. “Kenapa?” Aira tetap santai, seperti tidak merasa bersalah. “Nggak apa-apa.” "Nggak apa-apa tapi lihatnya lama.” ucap Dipta. Aira mengangkat alis sedikit. “Aku cuma lihat suamiku.” Dipta menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Lihat apa?” Aira menoleh lagi, kali ini lebih jujur. “Itu... beda aja.” Dipta mengangkat alisnya. “Beda apa?” Aira menjawab s

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

  • DIPTA   BAB 4 Persaingan Dipta dan Teman-Teman

    Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b

  • DIPTA   BAB 3 Taruhan Dimulai

    Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status