Home / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 7: Formulir Biru dan Angin Sore di Koridor

Share

Bab 7: Formulir Biru dan Angin Sore di Koridor

Author: Sasmita
last update publish date: 2026-07-08 14:33:41

Koridor lantai dua Gedung Dekanat riuh oleh ratusan mahasiswa baru. Di sepanjang dinding, mading besar dipenuhi poster warna-warni berslogan makrab akbar fakultas: Teknik Bersatu 2026. Di depan Sekretariat Bersama, meja-meja kayu diletakkan berderet, tempat para senior panitia inti sibuk membagikan lembaran formulir pendaftaran berwarna biru muda.

Nika berdiri di ujung antrean, memandangi kertas biru di tangannya dengan dahi berkerut. Formulir itu bukan sekadar kertas biasa, di dalamnya terdapat esai singkat tentang motivasi bergabung, skala prioritas kuliah, serta kolom pilihan tiga divisi.

​"Masih bingung di pilihan kedua, Di?" bisik Nika tanpa menoleh, jarinya mengetuk-ngetuk pulpen gel hitam di atas papan jalan tripleks yang ia bawa dari kosan. "Pilihan pertama jelas Divisi Acara karena diajak Dania. Tapi yang kedua sama ketiga... mending apa? Kesekretariatan atau Logistik?"

​Ardi, yang berdiri tepat di belakang Nika dalam antrean, melirik formulir itu. Ia sendiri sudah selesai mengisi sejak sepuluh menit lalu dengan tulisan yang sangat rapi dan ringkas.

"Pilih Kesekretariatan saja kalau kamu tidak mau badanmu remuk," sahut Ardi tenang di tengah kebisingan koridor. "Logistik itu nama halusnya Divisi Perlengkapan. Kerjanya mengangkat genset, memasang tenda, sampai menjaga peralatan hingga subuh. Kamu yakin badan seukuran botol sirup ini mau ikut angkat besi?"

​Nika refleks menoleh dan mendelik kesal. "Sembarangan! Badan aku tidak sekecil itu ya! Tapi... oke, saran kamu masuk akal. Kesekretariatan saja." Nika buru-buru menuliskan pilihannya sebelum nyalinya menciut.

Setelah menyerahkan formulir ke meja panitia, mereka berjalan menuju selasar luar gedung yang menghadap lapangan utama.

Angin sore berembus kencang, menerbangkan helai rambut Nika. Bau tanah kering yang tersiram air menyajikan aroma khas yang menenangkan. Nika menyandarkan lengan di pagar pembatas, memandangi langit yang mulai meredup dengan semburat emas di ufuk barat.

​"Kamu sendiri daftar divisi apa?" tanya Nika, menikmati sensasi angin dingin di wajahnya.

​"Pilihan pertama Keamanan. Kedua Logistik," jawab Ardi pendek. Ia ikut bersandar, memasukkan kedua tangan ke saku celana jinsnya.

​Nika menoleh, menatap profil samping wajah Ardi yang terpapar cahaya senja. "Sesuai tebakan Gibran banget. Memang kamu tidak malas? Anak Keamanan kan mirip komdis, harus memasang muka galak, menertibkan mahasiswa baru, terus pulangnya paling malam gara-gara evaluasi."

​Ardi membalas tatapan Nika, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum khas yang irit namun terasa hangat. "Aku tidak bisa berakting ramah atau membuat konsep acara yang seru seperti kamu. Jadi, daripada aku masuk Divisi Acara lalu malah membuat konsep makrab mirip upacara militer, mending aku masuk divisi yang memang butuh tenaga serta ketegasan saja."

​Nika tertawa kecil. "Iya juga sih. Tidak terbayang kalau kamu masuk Divisi Acara, mungkin kita semua disuruh baris-berbaris saat api unggun."

​Suasana kembali hening, namun kali ini terasa sangat nyaman. Jarak emosional di antara mereka sudah menyusut jauh, mencapai tahap di mana keheningan tidak lagi terasa canggung.

​"Ngomong-ngomong, Nika," Ardi membuka suara lagi. "Catatanmu kemarin... terima kasih ya. Sangat membantu. Aku jadi paham konsep pointer dan alokasi memori yang dijelaskan Profesor Bambang."

​"Sama-sama. Santai saja," sahut Nika riang. "Aku juga terbantu kok saat kamu menjelaskan logika gelas itu. Anggap saja kita impas."

​"Belum impas," potong Ardi cepat.

​Nika mengernyit. "Kok belum?"

​"Catatanmu terlalu detail dan rapi untuk diganti pakai es teh plastik sama siomay dingin waktu itu," kata Ardi serius, menatap Nika lekat. "Nanti malam, kalau kamu tidak ada jadwal tugas, aku mau mengajakmu makan bakso di dekat belokan gang kosan kita. Bakso Pak Kumis rasanya lumayan terkenal. Anggap saja itu sisa pembayaran royalti catatanmu."

​Jantung Nika berdesir. Ia mengalihkan pandangan ke arah lapangan, pura-pura tertarik pada sekelompok anak UKM sepak bola yang baru mulai latihan.

"Makan bakso ya... Hm, boleh deh. Kebetulan persediaan mi instan di kamarku juga sudah menipis," jawab Nika santai, meski dalam hati ia berusaha menyembunyikan debaran aneh yang muncul tiba-tiba.

​"Oke. Jam tujuh malam nanti aku jemput ke depan pagar kosanmu," ujar Ardi final.

​Sore itu, di bawah langit senja koridor dekanat, Nika merasa hari-harinya akan segera berubah. Janji makan bakso malam nanti terasa jauh lebih mendominasi pikirannya daripada tumpukan tugas yang menanti.

Sambil memandangi matahari yang hampir tenggelam, Nika bertanya-tanya, apakah pertemuan makan bakso nanti malam akan menjadi langkah awal yang mengubah segalanya? Apakah bakso Pak Kumis malam nanti akan menjadi saksi perubahan status mereka menjadi lebih dari sekadar teman satu kelas?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Degrees Of Intimacy   Bab 37: Kode yang Menjerat

    Suara langkah kaki berat terdengar di lorong di luar laboratorium. Itu bukan langkah Gibran atau Dania. Nika segera mematikan lampu lab, menyisakan cahaya biru redup dari monitor server yang memancar ke wajahnya yang kini tampak lebih keras dan dingin.​"Kak Gibran, matikan semua lampu koridor," bisik Nika tanpa menoleh dari layar.​"Apa yang akan kamu lakukan?" Gibran berbisik balik, suaranya tercekat.​"Aku akan memancing mereka masuk ke dalam sistem jebakan," jawab Nika datar. Jemarinya kembali menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ia sedang membangun firewall berlapis menggunakan algoritma enkripsi yang dulu pernah mereka susun bersama di mata kuliah Sistem Keamanan Komputer.​Tiba-tiba, monitor di depannya berkedip. Input data masuk dari luar. Seseorang sedang mencoba meretas masuk ke dalam akses lab pusat.​"Mereka sudah di sini," bisik Dania, matanya tertuju pada pintu besi yang mulai bergetar karena hantaman dari luar.​Nika menatap layar dengan tajam

  • Degrees Of Intimacy   Bab 36: Antara Logika dan Nyawa

    "Ardi! Jangan tutup matamu!" Nika berteriak panik, tangannya menekan luka di perut Ardi dengan sisa-sisa kain piyama yang ia kenakan. Darah yang hangat merembes cepat, menodai jemarinya. ​Gibran dan Dania tiba-tiba muncul dari balik sudut koridor, wajah mereka sepucat kertas. Gibran segera mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan dengan jemari yang gemetar. ​"Nika, kita harus pindah sekarang! Orang-orang itu sudah dekat!" Gibran membentak, suaranya parau. "Dania, bantu aku angkat Ardi ke mobil!" ​"Tidak!" Nika memotong, matanya yang sembab menatap Gibran dengan nyala api yang baru. "Aku tidak akan membiarkan dia dibawa ke rumah sakit sembarangan. Mereka akan tahu kalau dia masih hidup." ​"Lalu kamu mau apa, Nika? Dia bisa kehabisan darah!" balas Gibran frustrasi. ​Nika menatap wajah Ardi yang mulai kehilangan kesadaran. "Bawa dia ke laboratorium pusat. Di sana ada protokol darurat medis untuk kecelakaan kerja di lab yang tidak terdaftar di sistem rumah sakit. Aku yang akan m

  • Degrees Of Intimacy   Bab 35: Di Balik Pintu yang Terkunci

    Kamar nomor 9 itu terasa seperti sel isolasi. Nika masih terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada pintu kayu yang tadi ia banting. Ia tidak mempedulikan teriakan Gibran atau ketukan panik Dania di luar sana. Telinganya berdenging hebat. Bayangan Ardi di lab tadi, tatapan dinginnya, kalimat "pion" yang terlontar begitu saja, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. ​"Kenapa, Di?" bisiknya parau ke arah kegelapan kamar. "Kenapa harus aku yang kamu jadikan umpan? Kenapa kamu buat aku merasa seperti wanita paling bodoh di dunia ini?" ​Ia bangkit dengan langkah gontai menuju meja belajar. Di antara tumpukan buku bahasa pemrograman dan catatan algoritma yang berantakan, ia mengambil ponselnya. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menyalakan ponsel itu. Puluhan notifikasi masuk sekaligus, pesan dari teman-temannya di Teknik Informatika yang menanyakan kebenaran gosip tentang Ardi, foto-foto yang dikirim anonim, dan panggilan tak terjawab da

  • Degrees Of Intimacy   Bab 34: Labirin Kebohongan

    Nika menatap kertas di tangannya dengan pandangan yang mengabur. Tinta merah itu seolah menertawakan kenaifannya. Ia meremas kertas tersebut hingga buku-buku jarinya memutih, seakan ingin meremas rasa sakit yang menghujam dadanya. Di balik pintu kamarnya, Gibran masih berbisik dengan nada cemas kepada Dania. ​"Dan, ini sudah melampaui rencana awal," bisik Gibran, suaranya sarat akan keputusasaan. "Mereka tahu Ardi hanya berpura-pura. Mereka tahu wanita di lab itu bukan siapa-siapa. Aku sudah mencoba menghubungi Ardi, tapi ponselnya mati total. Aku takut dia dalam bahaya besar." ​Dania terisak pelan. "Lalu sekarang bagaimana, Gibran? Kalau mereka tahu ini sandiwara, mereka akan menyerang Nika. Kita harus kasih tahu Nika yang sebenarnya! Dia tidak bisa terus-menerus dibiarkan dalam kegelapan!" ​"Tidak bisa!" potong Gibran tegas, nyaris membentak. "Kalau Nika tahu, dia akan panik dan justru melakukan hal yang lebih berbahaya. Ardi sudah mengorbankan hatinya sendiri, dia rela dibenci o

  • Degrees Of Intimacy   Bab 33: Bayangan di Balik Pintu

    Setibanya di kos nomor 9, Nika membanting pintu dan jatuh terduduk di lantai semen yang dingin. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah ada beban berat yang menghimpit paru-parunya. Isak tangisnya pecah tanpa sisa, memenuhi ruangan sempit itu. Ia meringkuk di sudut kamar, memeluk lututnya sendiri, berusaha menahan guncangan di sekujur tubuhnya. ​Ponselnya bergetar di dalam saku. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menampilkan foto Ardi bersama wanita tadi di ruang lab. Bukti yang terlalu nyata untuk disangkal. ​"Jadi, dia sudah melakukannya sejak lama? Selama ini aku cuma jadi bahan tertawaan?" bisik Nika parau. ​Tak lama, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Ardi masuk: Nika, tolong jangan lakukan apa pun. Aku akan menjelaskan semuanya besok pagi. Tolong, jangan buat dirimu dalam bahaya. ​Nika mengetik balasan dengan jemari gemetar: Menjelaskan? Tidak akan pernah! Ia lalu memblokir nomor itu dengan kasar. Ia melempar ponselnya ke kasur, lalu menatap roda gigi kuni

  • Degrees Of Intimacy   Bab 32: Tirai yang Terbuka

    Seminggu terakhir, apartemen terasa sangat dingin. Ardi, yang biasanya menjadi sumber kehangatan, kini berubah menjadi sosok yang sulit digapai. Setiap malam ia menghilang, meninggalkan Nika dengan alasan klise soal "tambahan proyek keamanan" dan "riset mendesak". ​Malam ini, pukul 11.30, Nika menatap secangkir kopi dingin di meja kerja Ardi. Frustrasinya memuncak. Ia memutuskan untuk memberikan kejutan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya membuat pria itu begitu sibuk hingga melupakan keberadaannya. Dengan membawa tas bekal berisi makanan kesukaan Ardi, Nika berangkat menuju kampus. ​Gedung laboratorium pusat berdiri megah, namun terasa angker. Nika berjalan dengan jantung berdegup kencang di koridor yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu lab, ia mendengar suara tawa dari dalam. Bukan tawa Ardi yang hangat, melainkan tawa pria itu yang terdengar asing, terdengar... berbahaya. ​Nika mendorong pintu perlahan. Di sana, di bawah lampu laboratorium yang temaram, Ardi sedang berdiri.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status